Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Ancaman Balik


__ADS_3

"Matikan kamera kalian ! Kalian semua bisa aku tuntut karena melanggar privasi orang lain !" teriak Wiliam sambil berusaha menutupi tubuhnya dan tubuh Lilis dengan selimut, dia juga sibuk menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya dari sorotan kamera para pewarta.


Dengan wajah yang semerah tomat, Andi menghampiri anak laki laki satu satunya itu.


Plak,,, plakk,,,, !


Tamparan dan cacian dari seorang ayah yang kini berada di ambang batas tertinggi kemurkaannya itu seakan berlomba menyerang Wiliam yang tak hanya merasa sakit pada fisiknya akibat tamparan ayahnya itu, tapi juga sakit pada hati terdalam nya karena cacian yang meluncur dari mulut laki laki setengah baya itu di hadapan orang banyak dengan kamera menyorot pada ayah dan anak itu.


"Anak kurang Ajar, anak tak tau diri, lihat kelakuan menjijikan mu itu, kau mempermalukan keluarga !" umpat Andi sambil terus melayangkan tamparan dan tinjuan nya pada anaknya itu, meski tubuhnya sudah tak se kekar dulu karena di makan usia, namun sisa sisa tenaga laki laki paruh baya yang menguasai beberapa macam bela diri itu masih lumayan dapat membuat lawan babak belur.


Begitu juga dengan Wiliam, dirinya tak bisa berbuat apa apa saat ayahnya menghajarnya membabi buta, selain dia tak ingin di anggap durhaka karena melawan orang tua, dia juga tak ingin kamera yang menyorotnya dari tadi mengabadikan gambar tubuh polosnya bila melawan Andi sang ayah.


"Keluar ! Pergi kalian semua,!" usir Andi pada para wartawan yang memenuhi kamar itu mengabadikan setiap adegan yang terjadi di kamar itu.


Nasi sudah menjadi bubur, Wiliam memutar otak bagaimana caranya agar masalah yangvsudah terlanjur bergulir panas ini bisa dia atasi secepatnya.


Tiba tiba ide setannya muncul di kepalanya,


"Tunggu ! Kalian jangan pergi dulu, berkumpul lah di bawah, ada yang harus aku jelaskan dan kalian harus tau itu, sepuluh menit lagi aku akan turun menemui kalian !" ucap Wiliam pada para wartawan yang tadinya dia panggil untuk mencelakai Beni dan Tania, namun kini berbalik menyerangnya itu.


"Apa yang akan kamu lakukan ?" bisik Lilis penasaran atas apa yang akan di lakukan Wiliam di ambang kehancuran mereka.


"Kalian juga keluarlah dari sini, apa kalian ingin menonton kami dalam keadaan polos ?" kata Wiliam pada orang tua nya dan juga Tania yang masih berada di kamar itu.


Andi melengos dan mengajak serta Meli juga Tania untuk keluar meninggalkan ruangan itu.


"Aku saran kan untuk kalian ikit berkumpul bersama para wartawan, kalian harus menjadi saksi pertunjukan balasan ku !" ucap Wiliam tersenyum penuh misteri,


Tania menatap tajam Wiliam yang menyeringai ke arahnya,

__ADS_1


"Kau jangan merasa senang dulu, asal kau tau, kau tidak akan dengan mudah menumbangkan ku begitu saja, kalau kau bisa berakting tadi, maka akan ku tunjukan pada mu akting ku !" bisik Wiliam di telinga Tania seraya memunguti baju nya yang berceceran di lantai dan mengenakan kembali pakaiannya dengan santai.


Tania tak menjawab apa pun, dia segera menyusul ibu dan ayah tirinya untuk turun dan melihat aksi busuk apa lagi yang akan Wiliam dan Lilis tunjukkan untuk menyelamatkan harga dirinya yang sudah hancur itu.


"Liam, apa yang akan kamu lakukan ? Aku takut, aku tak berani menampakan wajah ku !" rengek Lilis setelah semua orang meninggalkan mereka berdua si kamar itu untuk mengenakan kembaali busananya dan bersiap memberikan keterangan pada para wartawan di lantai bawah.


"Tenang saja, kau hanya perlu diam dan mengikuti arahan ku, kita tak boleh membiarkan si bang sat Beni dan si jallanng Tania mempermainkan dan menginjak nginjak harga diri kita seperri ini, aku tak akan memberi mereka kesempatan untuk tersenyum apa lagi menertawakan kehancuran kita !" geram Wiliam.


Rasa benci dan dendamnya pada Beni semakin memenuhi kepalanya, menghancurkan Beni kini sudah menjadi obsesi yang harus di dapatnya.


***


Sementara di lantai bawah Tania sibuk menelpon Beni yang seperti biasa sangat susah untuk di hubungi nya.


Beni yang sedang mengemudi menuju rumahnya memang terkadang malas malasan untuk menerima panggilan telpon jikaa sedang bersama Inayah, dia tak suka bila kebersamaannya di ganggu hal yang tak penting.


"Hanya Tania, jelas tak lebih penting dari mu !" Beni menjawil dagu lancip Inayah.


"Ish, angkatlah mas, apa kamu tak mengangkatnya karena ada aku di sini ?" ujar Inayah curiga.


"Ya ampun, aku hanya malas berbicara dengan siapa oun jika sedang bersama mu sayang, apa lagi hanya seorang Tania !" tepisnya.


"Kalian pasti sering telponan di belakang ku ?" tuduh Inayah.


"Ya Tuhan sayang ! baik lah aku akan mengangakat telponnya, awas saja bila yang dibicarakan Tania itu hal yang tidak penting, akan ku habisi dia !" gerutu Beni kesal, karena gara gara panggilan telpon dari Tania hampir saja membuat dirinya dan Inayah bertengkar.


"Halo !" ketus Beni.


"Wiliam dan Lilis sepertinya akan melkukan sesuatu, di akan memberikan keteran kepada para wartawan, dia juga sempat mengancam ku tadi, sepertinya dia akan membalas perbuatan kita," lapor Tania.

__ADS_1


"Biarkan saja, kita lihat saja berapa lama ikan ikan itu hidup tanpa air, kau tak perlu hawatir, kau aman, orang ku masih di sana !" pungkas Beni mengakhiri pembicaraannya.


Tak sedikit pun rasa gentar di hati Beni meski mengetahui Wiliam dan Lilis akan berulah lagi, baginya Wiliam dan Lilis hanya ikan tanpa air, meski mereka bisa bertahan hidup, mereka tak akan leluasa dalam bergerak dan cukup melihat seberapa lama mereka mempertahankan hidup nya.


"Ada apa mas ? Kenapa Tania ?" tanya Inayah yang tak mengerti dengan obrolan Beni dan Tania yang susah untuk di pahami.


"Oh, itu,,, Tania ngidam pengen makan ikan !" ucap Beni asal, seperti biasa, dia tak ingin memberi tahu hal ini pada Inayah karena tak ingin membuat wanita itu hawatir.


Beni tak ingin ancaman balik Wiliam justru membebani pikiran Inayah.


"Kenapa masalah ngidam Tania dia laporan pada mu, mas ? Memangnya kamu suaminya ?" protes Inayah merengut.


"Tadi kan aku sudah bilang untuk tak usah di angkat telponnya, jadi berantem, kan !? Tania hanya tanya tempat ikan bakar yang enak, dan aku ssuruh untuk menayakan pada anak buah ku !" bohong Beni mengarang cerita.


"Awas saja kalau kamu diam diam masih ada hubungan dengan nya di belakang ku !" ancam Inayah.


"Tidak sayang ! Mana berani aku, aku sangat mencintai dan menyayangi mu, tak mungkin aku menghianati kamu !" ucap Beni seraya membentangkan tangan kirinya ke samping dan meraih bahu wanita itu, agar Inayah dapat bersandar di pelukannya.


Di hotel,


Wiliam dan Lilis sudah turun dan memenuhi janjinya untuk menemui para awak media yang menunggunya selama sepuluh menit seperti janji laki laki itu, demi mendapat berita yang spektakuler dari keterangan yang akan di sampaikan oleh Wiliam pada mereka.


Mata Wiliam menyapu ruangan luas yang esok hari rencananya akan di jadikan tempat upacara dan resepsi pernikahan dirinya dan Tania, dan tadinya berharap kalau ruangan itu akan menjadi tempat resepsi pernikahan Beni dan Tania, namun takdir berkata lain, rencana yang sudah di susunnya harus gagal dan berantakan, bahkan kini senjata yang dia lemparkan berbalik padanya.


Tapi bukan Wiliam nanya bila dia tak bisa menyelamatkan diri dari kesulitannya, meski ibaratnya sekarang dia di ambang kehancuran, dia masih menemukan ide untuk menyelamatkan dirinya, meski tentu saja itu akan mengorbankan orang lain bahkan mungkin orang orang terdekatnya, namun Wiliam kini tak peduli, yang penting baginya sekarang adalah mengembalikan reputasinya di mata dunia, karena mau tidak mau itu akan berpengaruh juga pada kegiatan bisnis nya.


Bagi Wiliam dirinya sudah terlanjur basah, tak ada cara lain selain ide yang ada di kepalanya saat ini, dia yakin kalau ini pasti akan menyakiti hati orang orang tersekatnya, namun dia merasa saat dirinya terjatuh tak ada satu pun yang menolongnya walau pun itu orang orang terdekatnya, tak ada yang menyelamatkannya selain dirinya sendiri.


Menurut Wiliam, tak ada salahnya memutuskan untuk menjadi egois mulai saat ini, semua itu sah dan wajar saja.

__ADS_1


__ADS_2