Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Sad Story


__ADS_3

Kini Wiliam berada di sebuah gubuk di tengah hutan, dia berhasil meloloskan diri dari bangkai mobil yang tadi dia kendarai, dan meninggalkan Tania yang masih terjebak di sana, dia tak peduli apa pun yang terjadi pada wanita hamil yang pernah menjadi kekasihnya selama bertahun tahun, lalu menjadi saudari tirinya itu, yang dia tau saat ini dia harus pergi sejauh mungkin demi menyelamatkan diri dari para mafia yang mengejarnya dan dari Beni yang sepertinya menaruh dendam padanya.


Wiliam membuka lembar demi lembar buku itu itu, di bacanya dengan seksama, tanpa di sadari airmatanya meleleh dan berjatuhan mengetahui betapa Monik saat itu begitu menderita akibat ulahnya, dan betapa jahatnya perlakuan dirinyaa pada gadis tak berdosa itu, namun sesal tinggalah sesal, semua sudah tak berguna lagi, semua sudah terjadi dan tak ada yang bisa dia perbuat selain menyesal.


***


"Tidaak ! Itu tidak mungkin !" teriak Tania saat baru saja sadar, dan meraba raba perutnya yang terasa kempes dan ngilu di perut bagian bawahnya.


Tania berteriak histeris saat baru saja dia sadari kalau kini dia berada di ranjang pasien sebuah rumah sakit, kepala dan sekujur tubuhnya terasa sangat sakit, namun ada yang lebih sakit dia rasakan saat ini, sakit lebih dari pada sakit, dia harus kehilangan anak yang sedang di kaandungnya, akibat kecelakaan itu, jantung janin yang berada di perutnya berhenti berdetak, atas seijin Adit sebagai suami dan ayah dari bayi itu, akhirnya dengan berat hati dokter memutuskan untuk mengeluarkan janin tak berdosa yang ikut terkena imbas dari kecelakaan itu.


"Kenapa, kenapa kau biarkan dokter mengambil anak ku ? Anak kita ? Apa kau sengaja membuang anak kita agar tak menjadi beban mu ? Aku bisa mengurusnya sendiri, tolong kembalikan bayi ku !" tangis Tania terdengar sangat pilu, hatinya begitu perih bak tersayat sayat, bayi yang dia jaga selama hampir lima bulan itu kini tak bisa lagi dia rasakan kehadirannya di dalam perutnya itu, kalau itu suatu hukuman atas semua kejahatan yang pernah dia perbuat, dia rasa itu terlalu kejam untuk dirinya.


"Bukan seperti itu, tapi anak kita sudah tidak bisa di selamatkan akibat kecelakaan itu, maaf aku harus menandatangani persetujuan pengangkatan anak kita, demi kebaikan mu, demi keselamatan mu !" urai Adit memeluk dan mengusap usap pucuk kepala Tania yang masih saja berteriak histeris, Adit mencoba menenangkan istri sirinya itu.


Adit tak mengerti bagaimana cerita sebenarnya, Tania yang pamit untuk membeli kebutuhan dapur di mini market tiba tiba di temukan di tepi jurang dengan keadaan yang mengenaskan di dalam mobil yang sudah ringsek, bahkaan dia belum berani bertanya dengan siapa istrinya itu pergi, karena keadaan jiwa Tania yang terguncang akibat kehilangan bayinya.


"Wiliam,,,, Wiliam yang sudah membunuh anak kita, bajingan itu----" Tania tak kuasa melanjutkan kalimatnya, dia kembali terisak perih, dirinya kembali mengingat kejadian sesaat sebelum kecelakaan, dan dia tiba tiba ingat buku milik Monik yang menjadi rebutan di antara mereka dan mengakibatkan kecelakaan itu.


"Apa maksud mu ? Apa yang Wiliam lakukan pada mu, pada anak kita ?" tanya Adit penasaran, karena tanpa di duga duga istrinya justru menyebut nama Wiliam yang menjadi penyebab hilangnya nyawa anak mereka.

__ADS_1


"Bajingan itu menculik ku saat aku selesai berbelanja di mini market, dia membekap ku dan membawa ku pergi dengan menodongkan senjata di pinggang ku, dan terjadilah kecelakaan itu !" urai Tania, dia menceritakan secara garis besar apa yang di alaminya dengan Wiliam tadi.


Sedangkan untuk masalah buku dan penyebab kecelakaan, Tania tidak menceritakannya pada Adit, dia ingin mencari tau sendiri ada hubungan apa sebenarnya antara Wiliam dan Monik sang sahabat.


Sungguh itu sangat mengganggu pikirannya, karena setahunya Wiliam tak pernah tertarik untuk wmengetahui tentang sahabatnya yang satu itu, pun saat Monik tinggal di rumahnya, Wiliam sering terlihat cuek dan acuh tak acuh bila bertemu gadis pendiam dan penalu itu.


"Wiliam ? Tapi kenapa dia menculik mu ?" tanya Adit bingung, karena setahu dirinya, selain Wiliam itu mantan kekasih Tania, pria itu juga kakak tiri istri sirinya itu.


"Dia sudah lama mencari ku karena mendapat kabar tentang penjualan rumah ayah, dia tak terima rumahnya di jual, dan dia meminta bagian nya, sepertinya dia terlilit hutang !" beber Tania.


"Sudah lah, yang penting saat ini kamu selamat, untuk anak kita, lebih baik kita doakan saja, mungkin ini yang terbaik menurut Tuhan untuk nya," ucap Adit bijak.


Tania takin Beni tahu cerita yang sebenarnya, kenapa di buku itu tertulis nama Wiliam, karena Beni memberikan buku itu pada Wiliam.


"Tapi, kenapa Beni ?" tanya Adit.


"Sebaiknya kamu jangan banyak bertanya, aku hanya minta tolong kamu memanggilkan Beni ke sini, untuk hal lainnya biar aku yang mengurusnya." ucap Tania.


"Setelah hilang anak kita dari perut ku, aku pasrah jika kamu ingin menalak ku, bahkan meninggalkan ku, aku tau kamu menikahi ku karena anak kita, tapi kini sudah tak ada lagi hal yang membuat mu berkewajiban menemaniku, aku tak apa jika kamu ingin pergi dan membina rumah tangga dengan istri pertama mu," sambung Tania lirih, dia sadar diri, dari awal hubungannya dengan Adit terjalin hanya karena hubungan saling memuaskan tanpa ikatan, dan dirinya harus siap kalau Adit sewaktu waktu meninggalkan nya.

__ADS_1


"Jangan berkata seperti itu, kau sudah banyak membantuku, membantu ibu ku, menyadarkan ku untuk menjadi manusia yang lebih baik, lupakan masa lalu, kita buka lembaran baru di awali dengan hal baik sebagai suami istri yang saling mencintai," Adit yang mulai bisa menerima Tania sepenuh hati karena sikap Tania yang baanyak membantu dirinya dengan tulus, juga ikut memperhatikan kesehatan jiwa Esih sang ibu yang terguncang, membuat dirinya yakin kalau Tania akan menjadi pendamping yang sempurna baginya.


"Tapi kamu punya istri lain, bahkan istri mu sedang mengandung anak mu, kamu akan mempunyai keluarga yang lengkap dan bahagia bersama istri dan anak mu, seiring waktu aku pasti akan tersisih dan kamu lupakan," ucap Tania dengan suara bergetar menahan tangis nya.


Adit tak tau harus berbuat dan berkata apa, benar yang di katakan Tania, ada Neneng yang juga istrinya sedang mengandung anaknya, dia tak ingin menjadi ayah yang menyia nyiakan anak kandungnya meski jujur saja dia tidak mencintai Neneng, pernikahannya dengan Neneng karena paksaan dari ibunya yang terobsesi menjadi irang kaya dan menjadi besan dari juragan tanah terpandang di desa.


"Tapi,,, aku mencintai mu, aku sudah mencintaia mu, dan aku tidak bisa kehilangan mu, meskipun aku juga tak bisa kehilangan anak yang ada di dalam perut Neneng saat ini." lirih Adit.


"Kamu mencintai ku ?" tanya Tania yang langsung di angguki Adit dengan cepat dan pasti, tentu saja itu sedikit membuat hati Tania menghangat,


"Kamu mencintai Neneng ?" tanya Tania lagi.


Adit terdiam, dia tak tau harus menjawab apa, tak ada rasa di hatinya untuk istri pertamanya itu,


"Adit, kamu mencintai Neneng ?" Tania mengulang pertanyaan yang sama pada suami sirinya itu.


"Hmmmh,,,, aku akan mencintai anak dalam perut Neneng, karena bagaimana pun itu darah daging ku !" kilah Adit setelah menghela napas panjang memilah kata apa yaang pantas untuk di ucapkan.


Tania terdiam sejenak, dia tak tau, ucapan Adit itu karena tak ingin mengakui perasaan yang sesungguhnya pada Neneng karena menghargai dirinya, atau memang Adit benar benar ingin berkata kalau dirinya tidak mencintai Neneng dan hanya ingin menerima anak yang berada di kandungan Neneng.

__ADS_1


Sementara Neneng yang mendengar percakapan antara suami dan istri sirinya di balik pintu ruang rawat inap Tania, kini berderai air mata hatinya tak kalah perih saat dia mendengar dan melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau dirinya sebenarnya adalah istri yang tidak di inginkan oleh Adit sang suami.


__ADS_2