Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Rumah Baru


__ADS_3

"Ayo ikut aku," ajak Liam yang tiba tiba sudah ada di dalam kamar kost Inayah.


Inayah yang baru saja selesai mandi malam itu tentu saja kaget, apalagi dia hanya memakai handuk yang melilit menutupi sebagian tubuhnya saja.


"Kok, kamu masuk, sih?" Inayah menutupi dadanya yang nyaris terbuka.


"Pintunya gak di kunci, lagian mandi kok gak kunci pintu, untung aku yang dateng, kalau orang lain gimana coba?" elak Liam.


"Ya gak mungkin orang lain berani masuk tanpa ketuk pintu dulu, kecuali maling !" ketus Inayah sambil buru buru berlalu masuk kembali ke kamar mandinya.


"Ish,, aku suami mu, bisa bisanya di samain sama maling !" dengus Liam kesal.


Beberapa menit kemudian, Inayah keluar dari kamar mandinya mengenakan pakaian yang tadi di pakai sebelum mandi, karena tak mungkin berganti pakaian di depan Liam, meski dia suaminya.


"Ada apa ?" ketus Inayah.


"Ayah menyuruh kita berkumpul dan makan malam di rumah" ucap Liam


"Aku tak ikut, kamu pergi sendiri saja," tolak Inayah.


"Tidak bisa, kamu harus ikut, nanti mereka curiga, kalau kita tidak datang bersama" liam setengah memaksa.


"Aku cape, baru pulang kerja" Inayah beralasan.


"Aku sudah bilang, gak usah bekerja" sungut Liam


Dengan terpaksa akhirnya Inayah mengikuti keinginan Liam untuk makan malam di rumah orang tuanya.


Dia malas ber adu argumen lebih panjang dengan suami pura puranya itu.


"Kok kesini ? Ini rumah siapa?" tanya Inayah saat tau Liam berhenti di halaman sebuah rumah yang setahu Inayah itu bukan rumah orang tua Liam yang kemarin mereka kunjungi.


"Turun lah dulu!" ajak Liam.


Inayah mengekor Liam masuk ke rumah yang lumayan mewah dan nyaman itu.


Tak ada siapa pun di rumah itu selain mereka berdua.


"Ini rumah siapa?" tanya Inayah lagi.


"Ini rumah kita," jawab Liam datar.

__ADS_1


"Kita ?" beo Inayah.


"Iya, bukan kah aku sudah pernah bilang kalau aku sudah menikah, aku akan membawa istriku di rumah yang nyaman, bukan di kamar kost yang sempit." urai Liam mengingatkan kembali apa yang pernah dia ucapkan pada Inayah dulu.


"Tapi, aku di kost saja, lagi pula kita kan hanya--" Inayah kebingungan menjawab dan merangkai kata.


"Hanya apa ? Hanya pura pura ? Kamu istri sah ku, walau pun hanya status, jadi sudah kewajiban ku memberi tempat yang layak untuk kita tinggal" ucapa Liam.


"Tapi, bagaimana dengan Lilis, aku belum berani bercerita tentang pernikahan kita sama dia," gumam Inayah.


"Nanti kita akan memberitahunya, yang penting kamu mulai malam ini tinggal disini!" titah Liam.


"Apa ? Malam ini ? Jangan bercanda, barang barang ku saja masih di kost" Inayah tak percaya dengan apa yang di katakan Liam.


"Semua akan di urus anak buah ku, mungkin sekarang mereka sedang mengemas barang barang mu di sana untuk di bawa kesini" ucap Liam santai.


"Kenapa bisa begitu ? Kamu menyebalkan! Semuanya kamu lakukan tampa berbicara pada ku dulu, kamu selalu memaksakan kehendak mu," cebik Inayah memalingkan wajahnya kasar.


"Aku lapar, apa kamu mau memakan sesuatu? aku mau memesan makanan" Liam cuek saja, dia malah mengotak atik ponselnya memilih makanan yang akan di pesannya untuk makan malam bersama Inayah di rumah barunya.


"Aku lelah, di mana kamar ku?" ketus Inayah tak memperdulikan tawaran Liam.


"Di pojok kanan atas, bersebelahan dengan kamar ku" tunjuk liam ke arah atas.


"Nisa,,,!" Panggil Liam dari luar kamar.


"Apa lagi ? Kamu menjebak aku untuk menikah paksa dengan mu aku pasrah, kamu minta aku pindah ke rumah ini aku turuti, aku hanya ingin istirahat tapi kamu masih saja mengganggu ku !" pekik Inayah dengan kesal saat membukakan pintu kamarnya,


Tapi dia terkejut bukan main karena yang berdiri di depan pintu kamarnya saat ini adalah Liam bersama Lilis sang sahabat.


"Lilis,,, kenapa kamu ada di sini ?" ucap Inayah terbata bata karena grogi.


"Apa yang kamu bilang barusan itu benar? kalian sudah menikah?" tanya Lilis dengan wajah yang masih memucat karena kaget.


"Bu-bukan seperti itu, aku akan ceritakan semuanya, tapi tolong jangan beritahu emak ku ya, tolong !" mohon Inayah serba salah.


"Aku menyuruh anak buahku untuk membawa Lilis kesini biar kita bisa menceritakan tentang pernikahan kita bersama sama" ucap Liam menengahi suasana canggung di antara Lilis dan istrinya.


"Kamu,! kamu apakan sahabat ku?" Lilis menunjuk wajah Liam.


"Lis, aku akan menceritakan semuanya, ayo masuk kamar ku." ajak Inayah.

__ADS_1


"Tidak, tidak. ayo turun, kita bercerita di ruang makan, aku sudah memesan makanan,kita bercerita sambil makan malam" Liam menarik tangan Inayah, dia merasa berkewajiban mendampingi istrinya itu menjelaskan masalah mereka pada Lilis agar tak salah paham dan bercerita yang aneh aneh pada Titin di kampung.


"Jadi seperti itu ceritanya, Lis. Kamu jangan khawatir, aku pasti jaga Inayah disini." pungkas Liam mengakhiri cerita bohongnya pada Lilis, dia terpaksa menutupi kejadian yang sebenarnya antara dirinya dan Inayah pada Lilis.


"Jadi, kalian sebenarnya saling suka, dan menikah buru buru karena ayahnya Liam sakit keras dan menyuruh kalian untuk cepat menikah?" Lilis mengangguk anggukan kepalanya.


"Itu bukan di jebak namanya Inayah, orang kamunya aja setuju kok" ujar Lilis pada Inayah.


"Ya, mungkin tadi aku sedang kesal saja, jadi bicara ngawur, yang jelas kamu jangan cerita masalah ini sama emak ku dulu ya, jangan kasih tau siapapun, karena nanti kami yang akan berbicara langsung" pinta Inayah.


"Iya, tenang saja. Aku akan menyimpan rahasia mu" Lilis mengusap bahu sahabatnya itu.


Inayah dan Liam pun saling berpandangan dan bisa bernafas lega.


"Ya sudah aku pamit pulang, kalian baik baik disini, aku turut berbahagia untuk kalian" ucap Lilis yang bersiap pulang ke tempat kostnya.


Satu persatu masalah dapat teratasi, meski harus menutupi sebuah kebohongan dengan kebohongan lainnya lagi.


***


Ini hari ke empat Inayah dan Liam tinggal serumah, mereka jarang berinteraksi, dan jarang bertemu juga, kecuali pagi hari saat mereka hendak berangkat kerja ke kantornya masing masing, selebihnya Inayah sering menghabiskan waktu di kamarnya sepulang dia bekerja, dan Liam selalu pulang larut malam dari perusahaannya.


Pagi itu seperti biasa Inayah menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Liam, biasanya mereka sarapan tanpa bicara satu sama lain, tapi pagi ini Liam membuka suaranya, memecah kesunyian suasana sarapan mereka


"Besok kita akan mengikuti acara family gathering, kita menginap satu malam di puncak, jadi siapkan segala keperluannya," ucap Liam, tapi Inayah hanya diam saja tak menanggapinya.


"Nisa, kamu dengar aku, kan?" tanya Liam mengangkat kedua alisnya.


"Ya, aku dengar," jawab Inayah singkat.


"Kalau kamu dengar, kenapa tidak menjawab?"


"Aku harus jawab apa? Bukan kah jawabannya sudah jelas, aku pasti berkata iya, nanti aku persiapkan! memangnya aku boleh menolak ?!" sinis Inayah.


Liam menghela nafas dalam, Inayah masih saja bersikap ketus padanya, dan dia tak tau lagi harus menyikapinya bagaimana, ini semua memang salahnya.


"Tidak bisa kah kamu bersikap biasa saja pada ku?" lirih Liam.


"Aku biasa aja tuh,!" ketus Inayah menyambar tas nya dan pergi meninggalkaan Liam yang masih di meja makan.


Entah akan seperti apa rumah tangga mereka, terlebih Liam yang seakan tak peka dengan sikap Inayah, dia tak mencoba bersikap baik atau berbicara dari hati ke hati dengan Inayah, dia seakan membiarkan kebencian Inayah semakin menumpuk untuknya, dan dia seakan tak perduli dengan itu.

__ADS_1


Bahkan sampai saat ini Liam belum bisa mengartikan bagaimana perasaannya untuk Inayah sebenarnya, dia juga belum bisa memastikan bagaimana perasaan nya pada Tania saat ini, karena terkadang dia masih sering terhanyut dan tak bisa menolak saat Tania menggodanya, meski sekuat tenaga dia menghindarinya.


__ADS_2