
"Jangan macam macam kalau kau masih ingin bekerja di tempat itu, aku bisa dengan mudah membuat mu kehilangaan pekerjaan bahkan kehilangan nyawa sekali pun !" ancam Adit dengan senyuman iblisnya, membuat Inayah ketakutan.
"Hei, apa lu laki laki ? kenapa lu bentak bentak perempuan ?" teriak Liam seraya menstandarkan motornya.
"Cih, tukang ojek! Kau mau ikut campur ? atau kau mau dia ? ambil !" Adit menatap dengan pandangan merendahkan ke arah Liam yang masih mengenakan jaket seragam ojolnya, lalu mendorong tubuh Inayah dengan kasar sampai terjerembab ke tubuh Liam.
"Heh, banci ! lawan gue kalo berani !" tantang Liam bersiap akan melayangkan pukulannya ke arah Adit, tapi Inayah menghalanginya.
"Jangan mas Liam, nanti kamu ikut terseret seret ke masalah aku, biarkan saja dia," tahan Inayah.
"Cih, tak di desa tak di kota, selera mu selalu saja tukang ojek, dasar wanita murahan !" hina Adit tersenyum menghina ke arah Inayah.
Bugh,,,
"Jaga perkataan lu bangsat !" umpat Liam,
Tinju nya mendarat tepat di pipi kiri Adit yang tak bisa menghindar karena tak menyangka kalau Liam akan melayangkan pukulan pada dirinya.
"Pergi dari sini sebelum kamu mati di hajar masa karena ku teriaki maling !" pekik Inayah sambil menunjuk ke arah Adit.
Adit segera pergi meninggalkan Inayah dan Liam, dia tak ingin ambil resiko bila Inayah ternyata tak sekedar mengancamnya, tapi merealisasikan ancamannya.
"Awas kalian berdua, liat saja pembalasan ku nanti !" ancam Adit saat akan melajukan mobilnya dan meninggalkan pelataran kost, lantas dia berlalu pergi begitu saja.
"Aku kan udah bilang, jangan di ladenin. Malah ngajak ribut, jadi panjang kan urusannya," omel Inayah melirik Liam yang sepertinya masih terbakar emosi.
"Laki laki seperti itu harus di beri pelajaran, kalau tidak, dia akan semakin ngelunjak" Liam menuntun dan mendorong masuk motornya ke parkiran area kost.
"Tapi, kalau dia ngapa ngapain kamu gimana, kamu denger kan tadi ancamannya, dia itu pendendam," ujar Inayah hawatir.
"Aku biasa hidup di jalanan, hidup ku sudah biasa dengan kekerasan dan ancaman, aku gak takut sama ancaman sampah seperti itu, kamu tenang saja, aku malah menghawatirkan mu, takut kalau dia berbuat jahat pada mu" ucap Liam.
"Gak apa apa, aku bisa jaga diri ku sendiri" jawab Inayah.
__ADS_1
drrt...drrrt...
Ponsel Liam berbunyi, dia seperti kikuk saat melihat nama penelpon yang tampak di layar.
"Maaf, aku menerima telpon dulu" ucap Liam berlalu meninggalkan Inayah terburu buru.
Inayah mengangguk, tapi saat dia melirik ke arah motor bebek Liam, dia melihat sebuah tas masih menggantung di cantelan motor Liam, mungkin karena terburu buru, Liam sampai lupa membawanya.
Inayah membawa tas itu masuk, setelah mandi dia akan mengantarkannya ke kamar Liam di atas, takutnya isi tas itu penting.
Setelah selesai mandi dan berganti baju, Inayah pergi ke lantai atas, menuju kamar Liam, saat di dekat kamar Liam, dia berpapasan dengan wanita cantik yang sepertinya baru keluar dari kamar Liam, namun wajahnya seperti sedang kesal.
Tadinya Inayah hendak mengurungkan niatnya untuk ke kamar Liam, tapi mengingat takut kalau kalau isi tas itu penting, Inayah melanjutkan langkahnya, lalu mengetuk kamar kost Liam.
Ini pertama kalinya Inayah ke tempat Liam, biasanya Liam yang selalu datang ke kamarnya untuk sekedar ngobrol atau membawakannya makanan.
"Aku sudah bilang, aku tidak mau kembali ke--" ucap Liam saat membukakan pintunya, membuat Inayah terkejut karena kaget.
"Oh, maaf. Aku pikir tadi yang datang bukan kamu, sini masuk !" ajak Liam membuka lebar pintu, mempersilahlan Inayah untuk masuk.
Liam yang masuk ke ruangan itu duluan lantas seperti menutup dan membalikkan sebuah bingkai yang terletak di bufet pojok ruangan, entah apa yang di sembunyikannya dari Inayah.
Kamar kost Liam terlihat jauh lebih luas dari pada kamarnya di bawah, tempat yang saat ini Inayah berdiri sepertinya ruang tamu yang berfungsi juga sebagai ruang nonton tv atau ruang santai, lalu di sebelah kanannya ada sebuah mini bar minimalis yang sepertinya di alih fungsikan menjadi meja makan, dengan dapur mini yang terlihat bersih karena mungkin jarang di pakai untuk memasak, dan di belakang ruang keluarga juga ada tempat yang tak kalah menarik perhatian Inayah, itu adalah sebuah balkon yang dapat melihat pemadangan langit malam Jakata, dengan sebuah sofa putih panjang dan meja kaca bulat kecil di sisi kanannya.
"Apa aku mengganggu? Atau kamu sedang menunggu seseorang?" tanya Inayah.
"Ti- tidak, aku tidak sedang menunggu siapa pun" Liam terbata bata.
"Ini, sepertinya tadi kamu terburu buru dan melupakan tas mu di motor" Inayah menyodorkan tas punggung Liam.
"Oh, iya. Aku benar benar melupakannya, untung saja tidak hilang, terimakasih," ucap Liam menerima tas berwarna biru tua itu.
"Ya sudah, aku permisi pulang dulu" pamit Inayah karena merasa tak enak, sepertinya dia datang di waktu yang tidak tepat.
__ADS_1
"Tunggu, ada tang perlu aku bicarakan dengan mu" ucap Liam
"Apa ?" tanya Inayah.
"Laki laki tadi itu,,," Liam agak ragu untuk bertanya
"Dia mantan suami ku, yang aku ceritakan padamu" Inayah seperti sudahbmengerti kemana arah pertanyaan Liam
"Oh, kalau kamu lembur, kamu telpon aku, nanti aku jemput kamu," ucap Liam tanpa komentar.
"Maksudnya ?"
"Aku takut kalau mantan suami mu sampai menyakiti mu, melihat perangainya yang kasar seperti itu" ujar Liam.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, lagi pula aku tak mau merepotkan orang lain." tolak Inayah halus.
"Tapi, aku hawatir." ucap Liam lirih.
"Terimakasih sudah menghawatirkan ku, tapi maaf aku tak mau merepotkan orang lain" tepis Inayah.
"Tapi,,, aku menyukai---" ucapan Liam terhenti berbarengan dengan suara pintu yang di buka dari luar.
"Wil,,, siapa perempuan ini ? sedang apa kalian ?" seorang perempuan memasuki kamar kost Liam, perempuan cantik yang tadi berpapasan dengan Inayah saat hendak menuju kamar kost Liam.
"Tania !" pekik Liam.
"Siapa dia, siapa perempuan itu ?" tanya wanita yang Liam panggil dengan nama Tania itu dengan wajah yang memerah karena amarah.
"Maaf, tadi saya hanya mengantarkan tas itu, sepertinya mas Liam kelupaan dan meninggalkannya di motor, jadi saya antarkan kesini, takutnya berisi barang berharga dan hilang bila di biarkan di motor" urai Inayah memecah ketegangan di antara mereka bertiga.
"Apa benar seperti itu ?" wanita bernama Tania itu menatap tajam.
"emh, tapi,,,, itu" ucap Liam serba salah.
__ADS_1
"Benar mba, saya hanya tetangga kost nya saja, saya tinggal di lantai bawah, kalau begitu saya permisi" pamit Inayah meninggalkan ruangan yang tiba tiba terasa panas dan sesak itu.
'Tuhan, kenapa aku jadi gugup dan merasa kesal melihat Liam bersama perempuan itu, aku bukan siapa siapa dia, dan tidak ada hubungan apa apa antara aku dan dia, kenapa aku seperti merasa cemburu? Siapa sebenarnya wanita bernama Tania itu ?' monolog Inayah dalam hatinya di sepanjang perjalanannya turun ke bawah menuju kamar kost nya.