
"Aku akan menemani mu melalui semuanya, mas. Kamu tak sendiri, aku bersama mu !" ucap Inayah tak melepaskan pelukannya.
Inayah tak menyangka sejahat itu apa yang sudah di lakukan Wiliam pada Beni, sehingga membuat laki laki dalam pelukan nya itu begitu menderita.
Hati Inayah terasa panas membayangkan perasaan Beni yang harus di tinggalkan seorang diri oleh orang orang yang sangat di sayangi nya, Wiliam memang pantas mendapat balasan setimpal atas kejahatan yang telah di lakukannya, batin Inayah.
"Lebih baik kita pulang saja !" ajak Beni mengurai pelukan nya, setelah di rasa keadaan dirinya cukup tenang.
"Apa kamu bisa berkendara dalam keadaan seperti ini mas ?" tanya Inayah hawatir, karena Inayah merasa Beni masih terlihat sedikit lemas.
"Aku hanya sedikit lemas saja, aku tak apa, nanti setelah aku meminum obat di rumah, aku akan baik baik saja," kata Beni, sambil berusaha berdiri, namun kaki nya ternyata belum bisa menopang tubuhnya dengan sempurna, Beni kembali terduduk di kursi itu.
"Mas, kamu masih lemah !" ucap Inayah seraya memegangi tubuh Beni yang terlihat lemas.
"Kau pulang lah terlebih dahulu naik taksi, aku sepertinya butuh istirahat sebentar, aku mau membuka kamar untuk beristirahat sampai tubuh ku agak membaik, nanti aku menyusul mu pulang." titah Beni lirih.
"Aku temani kamu mas, aku temani kamu di sini, wajah mu pucat, apa kita ke rumah sakit saja ?" suara Inayah terdengar sangat hawatir bercampur panik.
"Tidak, tidak,,,,! Aku hanya perlu beristirahat sebentar saja, tidak perlu ke rumah sakit !" tolak Beni.
"Baik lah, kalau begitu ijinkan aku menemani mas Beni, nanti kita pulang bersama kalau mas Beni sudah baikan," ucap Inayah, meski rasanya terdengar dan terkesan rancu karena seorang wanita meminta dan bahkan mengajukan diri untuk menemani seorang pria di kamar hotel, tapi saat ini memang keadaannya lain, Inayah merasa dirinya perlu mendampingi Beni yang sedang tidak baik baik saja itu.
Akhirnya dengan di bantu pegawai hotel, mereka berhasil membuka kamar dan membawa Beni ke kamar yang di sewa nya itu.
"Tidurlah mas, aku akan menunggu mu sambil menonton televisi di sofa, kamu tidak akan terganggu kan, dengan suara televisi ? aku akan mengecilkan volume suaranya, kok !" cicit Inayah.
__ADS_1
Beni tersenyum sambil mengangguk lemah, lalu membaringkan tubuh nya di kasur yang sangat luas itu.
"Beri tahu aku kalau ada apa apa,!" ucap Inayah, menatap tubuh yang kini berbaring itu.
"Jangan diam saja kalau merasa sakit !" ucap Inayah lagi.
"Kamu cerewet sekali, bagaimana aku bisa istirahat ?" protes Beni sambil melirik kesal.
"Maaf, pokok nya aku di sini, kalau kamu butuh aku, jangan sungkan sungkan !" sambung Inayah tak berhenti berhentinya mengingatkan Beni.
Tak berapa lama Beni pun terlelap, sungguh ajaib memang, tanpa bantuan obat obatan yang biasa di konsumsi nya agar dia dapat tidur dengan lelap, justru sekarang Beni tertidur lelap seperti bayi tanpa obat apapun.
Setiap beberapa menit sekali Inayah melirik ke arah ranjang besar tempat Beni membaringkan tubuhnya, bahkan tak segan Inayah juga memegang kening Beni dengan punggung tangannya untuk memeriksa suhu tubuh laki laki yang terlihat pulas itu.
Lama kelamaan Inayah malah ikut terlelap di sofa tempatnya duduk menonton televisi, mungkin dia juga kelelahan karena seharian bekerja di kantor, lalu sore masih harus membersihkan apartemen.
Tanpa sengaja dari ekor matanya dia melihat Inayah yang tertidur sambil duduk di sofa, Beni yang merasa badannya sudah terasa lebih baik dari sebelumnya, langsung turun dari tempat tidurnya dan mendekati wanita yang masih tampak cantik meski dalam posisi tidur menganga itu.
"Ckck,,, katanya mau menjaga ku, menemani ku, malah dia tertidur pulas seperti ini !" gerutu Beni lirih, sambil tersenyum geli.
Beni merasa kasihan dengan posisi tidur Inayah yang sepertinya akan menyakiti tubuhnya karena tidur sambil duduk, Beni lalu mengangkat tubuh ringan Inayah ke ranjang agar wanita itu bisa tidur dengan nyaman.
Namun saat Beni menurunkan Inayah ke kasur empuk itu, Inayah malah menarik pinggang Beni hingga Beni ikut terlentang di kasur bersebelahan dengan Inayah,
Tak sampai di situ, Inayah bahkan mendekap erat tubuh Beni bak sedang mendekap guling, tangan Inayah melingkar di perut rata Beni dan sebelah kaki Inayah menumpang di atas paha Beni.
__ADS_1
Sungguh posisi yang serba salah untuk Beni, sebenarnya Beni ingin menyingkirkan tangan dan kaki Inayah yang berada di tubuh nya itu, namun dia takut mengganggu tidur wanita yang sepertinya sedang tenang di alam mimpi itu.
Terlebih hatinya tiba tiba menghangat mendapatkan pelukan Inayah, meski ini bukan kali pertama mereka berada di satu ranjang yang sama, bahkan mereka pernah di posisi yang lebih dari sekedar berpelukan seperti ini, meski Inayah dalam kondisi yang tidak sadar akibat pengaruh obat yang di berikan Adit pada Inayah saat itu.
Pikiran Beni melayang pada kejadian malam itu, dimana dia hampir saja tak bisa mengendalikan diri melihat Inayah mengeliat penuh gairah karena siksaan obat dari mantan suami bejatnya itu, Inayah bahkan melucuti pakaiannya sendiri dan pakaian yang melekat di tubuh Beni saat itu, bak jallanng yang haus belaian.
Malam itu bahkan Beni tak sengaja sempat menyatakan cintanya pada Inayah, di tengah ciuman panas mereka, meski Inayah mungkin tak menyadarinya dan tak mungkin mengingatnya,
Saat itu Beni juga sempat merasa marah saat Inayah terus menerus meracau kalau wanita itu masih mencintai dan merindukan Wiliam sang mantan suami yang sudah memanfaatkan dan menipunya itu.
Namun saat Beni akan menerobos area terlarang Inayah, ketika itu Beni mengingatkan Inayah dengan berkata "Inayah, kau akan menyesal nanti," bisik Beni di sela ciuman panasnya saat itu,
Racauan Inayah yang mengatakan, "Tidak ada yang akan ku sesali, anggaplah ini kompensasi ku pada mu, selama menikah aku tak pernah memberi hak mu sebagai suami !" membuat Beni tersadar dan mengurungkan niatnya untuk di berbuat lebih jauh pada wanita malang itu, dari sana Beni sadar kalau Inayah hanya korban di sini, korban keserakahan dan kejahatan Wiliam, juga korban dari kebencian dan dendamnya pada laki laki itu.
Melihat Inayah yang seperti kesakitan dan tersiksa menahan hasrat nya, Beni akhirnya membantu Inayah agar mendapatkan pelepasannya dengan tarian jemarinya di area terlarang dan sensitif milik Wanita malang itu, meski dia juga sekuat tenaga harus menahan dan melawan hasratnya sendiri yang meronta ronta karena melihat kemolekan tubuh Inayah yang polos tanpa busana, apa lagi saat itu tangannya pun sedang menggerayangi area sensitif Inayah yang sepertinya menikmati 'service' dari nya itu.
Tapi Beni tak ingin menjadi laki laki bajingan yang memanfaatkan kelemahan wanita itu, terlebih Inayah menganggap laki laki yang bersamanya saat itu adalah Wiliam, bukan dirinya.
Setelah Inayah mendapatkan pelepasannya dan mulai tenang lalu tertidur, Beni memakaikan kembali pakaian dalam Inayah, mengecup kening Inayah dalam seraya berkata "Inayah, maafkan aku !" ucap Beni malam itu lalu meninggalkan sejenak wanita itu, karena dia pun harus menuntaskan hasratnya sendiri di kamar mandi.
Sungguh kejadian saat itu masih ter rekam jelas di ingatannya, dan kini untuk kedua kali nya wanita itu berada di pelukannya, namun dalam situasi dan keadaan yang berbeda, tentu saja saat ini dalam keadaan yang jauh lebih baik.
Tanpa di sadari tangan besar Beni mengusap lembut kepala Inayah yang kini terlelap di dadanya.
Sesekali Beni pun mencium pucuk kepala Inayah yang terlihat nyaman berada di dekapannya.
__ADS_1
'Ini gila, sepertinya aku benar benar mencintai nya !' gumam Beni menertawakan perasaannya yang merasa semakin merasa nyaman dan tak ingin jauh dari wanita kampung yang telah diam diam bersemayam di hatinya itu.