
Beni mengawali hari nya dengan bahagia, wajah ceria nya tak bisa di sembunyikan dari rona wajahnya.
"Selamat pagi sayang ! aku sudah menyiapkan sarapan untuk mu, bagaimana, aku romantis kan ?" sapa Beni saat melihat Inayah turun dari kamarnya.
"Kamu panggil aku apa tadi, mas ?" goda Inayah.
"Sayang ! Kenapa ?" ujar Beni datar.
"Gak apa apa mas, aku suka !" kata Inayah sambil tersenyum.
"Hari ini aku mau bekerja dari Teja grup," ucap Beni menyodorkan omlet buatannya yang dia bikin khusus untuk sang pacar.
"Kenapa bisa begitu ?"
"Ini hari pertama kita resmi sebagai pasangan, aku tak mau berjauh jauhan sama kamu," ucap Beni terkesan alay.
***
"Maaf bu, ada bapak Wiliam ingin bertemu, apa ibu bersedia menemui ?" tanya Sekretaris Inayah melapor.
Inayah melirik ke arah Beni yang duduk di sebelahnya, seakan meminta pertimbangan laki laki yang sedari tadi menempel padanya itu.
"Suruh dia masuk !" titah Beni pada sekretaris itu agar membawa Wiliam masuk ke ruangan itu, dia penasaran, ada perlu apa laki laki itu sampai berani menampak kan wajahnya lagi ke hadapan mereka.
"Mas ?!"
"Tenang saja, aku yang akan menemui nya !" kata Beni seraya mengusap rambut kekasihnya itu.
Wiliam masuk ke dalam ruang kerja Inayah yang dulu merupakan ruang kerja milik nya, matanya menyapu ruangan luas yang kini sudah berubah total dari saat dulu masih menjadi miliknya,
Pandangannya lalu terhenti saat kedua matanya bertabrakan dengan pandangan mata Inayah yangbjuga sedang menatapnya penasaran, apa sebenarnya tujuan Wiliam mendatanginya.
"Hemmm !" deham Beni berpura pura terbatuk membuat Inayah segera memalingkan pandangan nya ke tempat lain.
__ADS_1
"Oh, sangat kebetulan kau ada di sini, jadi aku tak perlu susah payah meminta pertolongan Inayah untuk membuat janji dengan mu," ucap Wiliam ketika melihat sosok Beni yang ternyata berada di ruangan itu juga.
"Apa yang kau inginkan dari ku ?" tanya Beni dengan pandangan tak bersahabat nya.
"Hanya pembicaraan antar laki laki dewasa !" ucap Wiliam tersenyum miring.
"Apa mau mu !"
"Santai, aku hanya ingin menawari mu sebuah bisnis menguntungkan !" kata Wiliam seraya mengeluarkan selembar kertas dari kantong jas yang di pakainya.
Beni membaca kertas yang di sodorkan Wiliam padanya.
"Jadi, kau ingin bekerja sama dengan Teja grup untuk memenuhi permintaan proyek mu ? Dari sekian banyak perusaan garmen di negeri ini, kenapa harus Teja grup ?" tanya Beni menyelidik.
"Karena aku tau Teja mampu, kau lupa kalau dulu aku pemilik perusahaan ini, jadi aku cukup tau bagaimana kemampuan perusahaan ini." ujar Wiliam sinis.
"Bagaimana kau bisa begitu yakin kalau aku tak akan menolak kerja sama ini ?" tatap Beni seakan hendak menelan Wiliam bulat bulat saat itu juga.
"Mas, sebaiknya tidak usah berurusan dengan orang licik macam dia !" Inayah tak kuat untuk tidak ikut berkomentar di tengah sengitnya percakapan panas kedua laki laki di hadapannya itu.
"Sayang, biarkan aku mengurusnya !" ucap Beni, sengaja meraih dan menggenggam tangan Inayah yang duduk tak jauh dari nya.
"Wah,,,wah,,,wah,,, ! apa aku tak salah dengar ? Kau memanggilnya dengan sebutan sayang? Kau memang selalu hobi menampung barang barang bekas ku, setelah Tania, sekarang dia !" tunjuk Wiliam pada Inayah, meskipun hatinya sedikit berdenyut nyeri menerima kenyataan kalau Inayah kini telah menjadi milik Beni.
"Tutup mulut mu ! Kau menjebak ku dulu sehingga aku menjadi istri palsu mu !" Inayah merasa tak terima dengan hinaan Wiliam pada Beni,
Tapi Beni menenangkan wanita cantik yang kini menjadi kekasihnya itu, seakan berkata 'biarkan aku yang mengurusnya !'
"Apa keuntungan yang aku dapat jika aku menerima kerja sama itu ?" Beni merasa penasaran dan tertantang akan rencana busuk Wiliam selanjutnya, sekuat tenaga dia berusaha untuk tetap tenang, dia tak ingin termakan hasutan laki laki yang sengaja memancing emosinya itu.
Wiliam tersenyum dalam hatinya, dia merasa telah berhasil menggiring Beni pada perangkap yang sengaja di pasangnya.
"Aku akan membagi keuntungan masing masing lima puluh persen dari laba bersih !" ucap Wiliam.
__ADS_1
"Cih, hanya recehan rupanya !" cibir Beni mengejek.
"Sial, lantas berapa mau mu ?" Wiliam merasa terpancing atas propokasi Beni.
"Berikan proyek kerja sama perusahaan mu pada Teja, akan ku beri perusahaan mu sepuluh persen dari keuntungan, lebih menguntungkan buat mu, bukan? kau tak perlu bekerja apa pun, biarkan kami yang bekerja dan menyelesaikan semua proyek mu, dan kau mendapat keuntungan 10 persen dari kami !" tantang Beni.
Memang sungguh terdengar sangat menggiurkan, membiarkan Beni mengambil alih proyek yang memang dirinya sendiri pun sudah kewalahan dan tak punya tambahan modal lagi untuk melanjutkan proyek itu.
Selain itu, dia juga tak harus meminjam uang pada ayahnya dan menikahi Tania agar mendapatkan pinjaman uang dari ayahnya itu.
"Apa kau yakin ? Atau kau sedang merencanakan permainan curang ? Kau ingin mengambil perusahaan ku yang baru ?" selidik Wiliam waspada, dia tidak ingin gegabah dan kehilangan perusahaan untuk kedua kalinya, Beni sudah pernah mengambil Teja grup gara gara kerja sama yang awalnya seperti akan menguntungkannya di awal, namun pahit di akhir.
"Aku tak tertarik dengan perusahaan kecil mu itu, aku hanya ingin bersedekah pada mu, bukan kah kau sedang kesulitan uang sekarang ? Kalau kau tak kesulitan uang, untuk apa kau mengemis tambahan modal ke sini dengan dalih kerja sama ? Kau pikir aku bodoh ?" hina Beni.
Wajah Wiliam berubah menjadi merah menyala, antara marah, kesal dan malu bercampur menjadi satu, Beni sudah benar benar menginjak harga dirinya sebagai laki laki.
"Aku tidak butuh sedekah mu, dan aku juga masih bisa menjalan kan proyek ku tanpa bantuan dan kerja sama dengan siapa pun !" tegas Wiliam seraya bangkit dari duduknya dan bersiap meninggalkan ruangan itu.
"Kau bisa datang kapan saja pada ku, jika memerlukan bantuan ku !" ucap Beni dengan nada mengejek.
"Tidak akan pernah, dan kau pasti akan menyesal telah memperlakukan ku seperti ini !" ancam Wiliam yang hanya di tanggapi dengan senyuman oleh Beni yang menatap kepergian Wiliam dengan senyuman puas.
"Mas, aku tak mau Wiliam berbuat jahat pada mu gara gara ini, sepertinya dia tadi marah sekali pada mu !" ucap Inayah hawatir.
"Tenang saja sayang, kamu lupa kalau pacar mu ini licik ?" katanya sambil mencapit hidung bangir Inayah gemas.
"Jujur saja perasaan ku gak enak, aku takut yerjadi apa apa dengan mu, aku takut kalau Wiliam berbuat jahat pada mu !" rengek Inayah yang langsung memeluk Beni, hatinya tiba tiba merasa tak tenang, setelah mendengar ancaman Wiliam pada Beni barusan.
***
"Sial ! Awas saja kau Beni, aku akan menghancurkan mu, nama baik mu, perusahaan mu, kau berani mengusik ku, maka jangan salahkan aku jika suatu hari kau akan memohon dan berlutut di hadapan ku !" teriak Wiliam kesal sambil memukul kemudi yang berada di hadapannya itu, dia sangat kesal dengan perlakuan dan hinaan Beni padanya.
Wiliam melajukan kendaraannya di atas kecepatan rata rata, dia ingin segera melancarkan rencananya yang sudah dia susun bersama Lilis untuk menghancurkan Beni.
__ADS_1
Wiliam ingin segera sampai ke rumah orang tuanya dan menemui Tania lalu menyetujui permintaan orangtua nya untuk menikahi Tania agar mendapatkan modal yang di kini sangat di butuhkannya itu.