
"Kenapa kamu kembali kesini ?" tanya Liam pada wanita bernama Tania itu.
"Kenapa memangnya ? apa aku mengganggu kegiatan mu ?" sinis Tania.
"Bukan begitu, aku ingin istirahat. Aku lelah" ucap Liam.
"Lelah mengantar penumpang seharian ? Siapa suruh menjadi tukang ojek !" cibir Tania.
"Tolong jangan mulai lagi, aku lelah berdebat dengan mu" ucap Liam malas.
"Tadinya aku kesini hanya untuk mengambil kunci mobil ku yang tertinggal di sini, tapi sepertinya aku berubah pikiran, aku akan menginap di sini" ucap Tania merebahkan dirinya di sofa ruang tengah .
"Tania, kamu tak boleh menginap disini" geram Liam.
"Kenapa, kita berpacaran sudah lama, lagi pula baik ayah mu atau ibu ku, tak akan ada yang tau kita di sini."
"Tania, jangan gila kamu, kita sudah tidak mungkin !" pekik Liam.
"Tidak ada yang tidak mungkin selama kita saling mencintai, aku mencintaimu begitu pun sebaliknya, kita sudah berpacaran semenjak sekolah, hampir sepuluh tahun kita mengenal satu sama lain, apa kamu tak menginginkan tubuh ku?" Tania mulai menggoda Liam dengan membuka blazer yang di pakainya.
"Tania, hentikan, perbuatan mu tidak pantas di lakukan seorang wanita di rumah seorang pria" Liam menutupi tubuh Tania yang kini hanya berbalut tank top dan rok mini yang ketat, Liam memungut blazer yang tergeletak di lantai, lalu memakaikannya ke tubuh molek Tania.
Sungguh pemandangan yang menyiksa batin dan kelelakian Liam, dia laki laki normal, apa lagi wanita yang setengah bertelannjaang itu adalah wanita yang telah lama di pacarinya dari jaman SMU.
"Kenapa ? Kenapa kamu tak menginginkan ku? kamu selalu menolak ku dari dulu" racau Tania.
"Aku mencintai mu dan tak ingin merusak mu" Liam mengalihkan pandangannya ke luar balkon.
"Tapi aku menginginkan mu, kita pasangan dewasa, ini bukan hal yang aneh, itu biasa !" rengek Tania.
"Tidak, lagi pula kita sudah tidak mungkin bersama, pulang lah, jangan sampai ibu mu tau kamu di sini." usir Liam.
"Pikiran mu terlalu kolot ! Jangan salahkan aku kalau aku mencari kehangatan di pria lain !" ucap Tania seraya memakai kembali blazernya dan meninggalkan Liam sendiri di ruangan itu, Tania juga membanting pintu sekencang mungkin, dia ingin menunjukkan pada Liam betapa marahnya dia saat ini.
Liam duduk di sofa putih di teras balkonnya, memandangi langit malam Jakarta yang tak di hiasi bintang malam ini, tangannya meraup kasar wajahnya yang seakan menahan perasaan yang tak bisa di gambarkan, sungguh dia masih mencintai Tania, kekasih dari jaman sekolahnya, tapi seadaan tidak memungkinkan untuk mereka bersama.
Masalah lain justru kini timbul di diri Liam, dia merasakan ketertarikannya pada Inayah, perasaannya semakin tak terbendung bila berjumpa dengan gadis desa yang polos itu, hatinya selalu berdegup kencang bila berada di dekat Inayah si janda desa nan polos itu.
"Inayah, oh tidak. Aku hampir lupa, aku harus menemuinya, jangan sampai dia berpikiran yang tidak tidak tentang aku dan Tania," gumamnya,
Liam segera keluar dan mengunci kamar kostnya, dia turun ke lantai bawah menuju kamar Inayah.
__ADS_1
Beberapa kali mengetuk pintu, namun sang pemilik kamar seperti sedang tak di tempat, karena hampir 10 menit Liam berdiri di depan pintu, tak ada tanda tanda Inayah akan membukakan pintu kamarnya.
Dengan langkah yang gontai, Liam meninggalkan pintu yang tak terbuka itu.
Tapi baru beberapa langkah dari pintu, sosok Inayah tiba tiba ada di depannya.
"Nisa, kamu dari mana? Aku menunggu mu di depan pintu," Mata Liam berbinar dengan senyum yang mengembang.
"Aku dari tempat Lilis" jawab Inayah menunjuk ke arah pintu kamar Lilis yang tak jauh dari kamar kost nya.
"Ayo, temani aku makan malam !" ajak Liam menarik tangan Inayah ke parkirn motor.
"Eh, tapi,, ini sudah malam" seru Inayah.
"Tak apa sekali kali jalan malem malem, lagian besok sabtu, kamu libur kan," jawab Liam memakaikan helm ke kepala Inayah.
Inayah pun akhirnya mengikuti ajakan Liam, dia duduk di belakang Liam, menembus udara malam Jakarta yang lumayan dingin saat itu.
"Kita mau kemana ?" tanya Inayah saat merasa motor terus melaju tak henti henti, padahal mereka sudah berkendara hampir satu jam lamanya.
"Temani aku makan malam ini, please," ucap Liam meraih tangan Inayah dan melingkarkan tangan itu ke pinggangnya.
Jantung inayah berpacu sangat kencang saat itu, tangannya kini melingkar di pinggang sampai perut Liam, untung saja dia berada di belakang Liam, kalau tidak, dia pasti akan merasa malu karenq kini wajahnya sudah sangat memerah karena malu.
"Ini dimana ?" Tanya Inayah sedikit menggigil kedinginan, meski dirinya memakai sweater tebal.
"Kita di puncak" jawab Liam membuka jaketnya dan memakai kannya ke tubuh Inayah yang kedinginan.
"Oh, ini yang namanya puncak itu, dingin ya ? Jauh banget cari makannya !" celoteh Inayah, padahal Liam sebenarnya hanya ingin menenangkan pikirannya yang kacau saat ini.
"Ish, penjual sate deket kost juga banyak, kalii !" oceh Inayah.
"Banyak, tapi gak ada yang tempatnya seperti ini," elak Liam.
Sebenarnya ingin sekali Inayah bertanya, siapa wanita yang tadi datang menemui Liam di kamar kost nya, tapi Inayah tau diri, dia kan bukan siapa siapanya Liam, untuk apa kepo.
"Mmmh,,, maaf ya, soal tadi," ucap Liam lirih.
"Soal apa ?" tanya Inayah bingung.
"Soal yang tadi di kost," Liam tertunduk tak berani menatap wajah Inayah.
__ADS_1
"Kenapa, gak ada yang salah kan? Kok, minta maaf ?" Inayah mengernyitkan dahinya.
"Ah, sudah lah jangan di bahas lagi, lebih baik kita makan saja, keburu satenya dingin," tepis Liam seraya menyodorkan piring berisi sate dengan aroma yang menggoda dan tampilan yang menggiurkan.
"Sepertinya aku yang harus meminta maaf pada mu, karena sepertinya membuat pacarmu salah paham dengan keberadaan ku di tempat kost mu," ucap Inayah hati hati.
"Tidak, tidak, kamu tidak salah apa apa, sudah lah jangan bahas itu, kita cerita yang lain saja," elak Liam mengalihkan pembicaraan.
Liam merasa belum siap menceritakan tentang hubungan rumitnya dengan Tania, tapi Liam berjanji suatu saat dia pasti akan menceritakan semuanya kalau dia sudah siap.
Untuk saat ini, biarlah seperti ini dulu, lagi pula dia juga tak ingin Inayah menjauhinya bila dia buru buru menceritakan masalah pribadinya itu.
"Ayo pulang !" ajak Inayah setelah menghabiskan semua makanannya.
"Waduh...." pekik Liam.
"Kenapa ?" tanya Inayah.
"Ban motor ku sepertinya bocor, dimana nyari tukang tambal ban tengah malam begini ?" Liam memeriksq ban motor bagian belakangnya yang sudah gembos.
"Wah... paku gede banget ini nempel" Liam mencabut paku besar yang menancap di ban belakang motornya.
"Terus gimana dong ?" tanya Inayah.
"Sepertinya kita harus menginap di sini," ucap Liam
"Menginap ?" beo Inayah.
"Iya, mau bagai mana lagi,kita tak bisa meneruskan perjalanan dengan ban motor yang bocor seperti itu." tunjuk Liam.
"Tapi,,," ucap Inayah.
"Tenang saja, aku tak akan berbuat yang aneh aneh pada mu" ucap Liam.
Inayah pun mengikuti Liam menuju sebuah penginapan yang tak jauh dari rumah makan tadi.
"Maaf, hanya tersisa satu kamar, aku baru ingat kalau sekarang weekend, gak apa apa ya ?" Liam memperlihatkan kunci kamar penginapan yang di sewanya,
"Ki- kita satu kamar ?" kaget Inayah.
"Tidak ada pilihan lain, mau gimana lagi,tenang saja, aku juga tak akan ngapa ngapain kamu, aku janji," ucap Liam mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
__ADS_1
Dengan langkah yang ragu ragu Inayah mengekor Liam menuju kamar sewaannya .