
saat ini sedang terjadi baku tembak antara kubu Liu dan kubu sigma. Liu mengaduh sakit saat satu tembakan mengenai lengannya, tapi untungnya itu hanya tergores sedikit saja, jadi itu bukan masalah besar.
dan saat ini tujuan Liu adalah satu, yaitu menangkap Daisuke hidup-hidup agar Liu bisa bermain-main dengan nya terlebih dahulu. percayalah mendengar orang merintih sakit dan meminta untuk hidup pada kita itu menyenangkan bagi Liu.
namun aksi tembak menembak mereka tidak bertahan lama, saat dari kejauhan terdengar suara sirine mobil polisi. ternyata aksi mereka tercium oleh polisi.
“ bubar ” teriak Liu pada semua orang, ia tidak mau polisi sampai tahu tentang dia yang sebenarnya.
seketika itu pula semua orang berlari berhamburan untuk menyembunyikan diri.
“ Chen ” panggil Liu.
“ iya bos ” balas Chen.
“ kau membawanya? , ” ujar Liu. yang di balas anggukan oleh Chen.
“ bereskan” ujar Liu beranjak pergi dari tempat itu menuju mobilnya.
“ hari ini kau selamat, tapi lain kali aku tidak akan melepaskan mu! lihat saja nanti ” ujar Liu mengingat hal tadi. hal di mana dia membiarkan Daisuke pergi begitu saja. hanya satu tembakan di paha itu masih kurang, setidaknya jika satu tembakan di kepala baru benar.
mobil yang di tumpangi Liu dan Chen bergegas pergi karena polisi sudah semakin dekat. dan seperti yang kalian tahu, baru saja beberapa ratus meter mobil Liu pergi tempat itu langsung meledak.
seperti itulah Liu selalu memasang bom di tempat dia membunuh orang. agar ia bisa meledakkan tempat itu dan sudah pasti mayat-mayat itu akan habis terbakar.
__ADS_1
“ boss mengapa tadi dia tidak langsung kau bunuh saja. mengapa kau menembak pahanya kenapa tidak kepalanya?” ujar Chen pada Liu.
“ itu karena aku sedang baik hari ini ” ujar Liu sambil memeriksa lengannya yang tergores.
“ lalu mengapa tadi kau membiarkan dia pergi begitu saja? ” tanya Chen lagi. ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran bosnya ini.
“ aku masih ingin bermain-main dengan nya terlebih dahulu ” balas Liu tersenyum licik.
“ biarkan dia menghirup udara segar untuk terakhir kalinya, sebelum Hari-hari nya di penuhi rintihan ” sambung Liu.
Liu dan Chen dalam perjalanan pulang ke mansion setelah tadi meraka sempat di kejar oleh polisi. untung saja Chen cukup handal dalam mengendarai mobil jadi mereka bisa bebas dari kejaran polisi dengan mudah.
***
langkah Aqila terhenti saat mendengar ada suara orang mengobrol di ruang keluarga.
ya suara siapa lagi jika bukan suara Chen dan Liu. karena mereka juga baru sampai.
“ kalian sudah pulang? ” tanya Aqila.
Liu dan Chen terkejut secara bersamaan, saat mendapatkan pertanyaan dari Aqila.
“ kau itu mengejutkan saja ” gerutu Chen sambil memegang dadanya.
__ADS_1
“ kau belum tidur ” tanya Liu. berusaha untuk mengobati kembali luka di lengannya.
“ hmm.. belum, ” balas Aqila.
“ kenapa? apa ada yang mengganggu mu? ” Liu menatap Aqila.
“ aku menunggu kalian ” bohong Aqila.
Aqila sengaja berbohong agar terkesan setia gitu. saat bos, sedang keluar kita sebagai bawahan selalu setia menunggu.
Chen berjalan mendekati Aqila. di perhatian nya wajah Aqila dengan seksama. setelah nya Chen tertawa, entah apa yang sedang di tertawakan oleh Chen.
“ kau berbohong, ” ujar Chen saat sudah berhenti dari tawanya.
Aqila gelagapan saat Chen tahu juga dirinya sedang berbohong. ia masih ingat betul bahwa Liu sangat benci pada orang yang suka bohong. apalagi yang di bohongi itu Liu sendiri.
“ yaampun, kau terluka ” ujar Aqila mengalihkan pembicaraan. Aqila berjalan menghampiri Liu yang sedang duduk di sofa, lalu duduk di sebelah Liu.
“ biar ku bantu ” Aqila merebut obat yang sedang di pegang Liu. tanpa melawan Liu malah senang jika Aqila peduli seperti ini padanya. Liu tersenyum kecil saat melihat Aqila meniup sambil mengolesi obat pada lukanya.
“ apakah sakit ” tanya Aqila mendongakkan wajahnya untuk menatap Liu.
jantung Liu berdegup kencang saat wajahnya bertemu dengan wajah Aqila yang sangat dekat. bahkan nafas hangat Aqila sampai terasa di wajahnya.
__ADS_1