
Setelah Liu selesai membersihkan diri, dan sudah mengobati lukanya.
Liu memilih untuk menjaga Aqila dengan cara tidur di samping Aqila, namun sedikit agak jauh agar tidak menggangu Aqila.
Meskipun dirinya ingin sekali memeluk erat tubuh Aqila tetapi saat ini Liu tidak boleh egois. Aqila sedang sakit dan Liu tidak mau menambah rasa sakit yang dialami oleh Aqila. sesekali dirinya akan terbangun saat mendengar suara rintihan Aqila.
Liu terbangun dari tidurnya saat samar-samar dirinya mendengar suara Aqila.Namun kali ini berbeda Aqila tidak merintih seperti sebelumnya tetapi dirinya menangis dalam tidur.
Liu bingung harus melakukan apa.
“ tenanglah sayang, jangan takut ada aku disini. Kau tidak sendirian.” ujar Liu berusaha menenangkan Aqila. Meskipun sebenarnya Liu ragu ini akan berhasil atau tidak.
“ apakah sesakit itu Hem? Ku mohon bangun dan katakan padaku di bagian mana yang sakit. Jangan menyiksa ku seperti ini ” lirih Liu sendu mengusap lembut wajah Aqila, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“ boss apa kau ada di dalam? ” terdengar suara Chen dari Luar kamar Liu.
__ADS_1
“ boss, kau itu tega sekali, bukan nya datang menemui ku terlebih dahulu tapi kau malah mengabaikan aku. ” gerutu Chen saat sudah berhasil masuk kedalam kamar Liu dengan menggunakan kursi roda.
Tidak ada balasan dari Liu. Liu masih terdiam menatap Aqila dengan tangan yang terus menepuk-nepuk pelan pundak Aqila dengan bergumam kecil. Seperti seorang ibu yang tengah berusaha untuk menidurkan anaknya.
“ kau sedang apa boss? ” tanya Chen mulai merasa ada yang tidak beres di sini.
“ Chen, bisakah aku bertukar posisi dengan Aqila? ” bukanya menjawab Liu malah balik bertanya.
“ apa maksudmu boss, itu tidak mungkin bisa ” Chen turun dari kursi rodanya dan berjalan mendekati Liu yang sedang terduduk di samping Aqila.
“ kau harus kuat boss, jangan seperti ini. Kau seharusnya memberi dia semangat, bukannya bersedih begini.Aku sangat yakin Aqila pasti akan segera sadar. ” entah darimana Chen mempelajari kata-kata bijak seperti itu.
“ ini tidak semudah itu Chen. Kau tidak tahu rasanya saat aku melihat kalian terbaring seperti ini. Kau tidak akan pernah tahu. ” Liu menghela nafasnya kasar. “ kau lihat lah dia, dia sedang kesakitan sekaligus ketakutan dan aku tidak tahu bagian mana yang sakit, dan apa yang dia takuti ” pilu, suara Liu terdengar begitu pilu.
“ aku tahu boss, dan aku yakin Aqila pasti tidak mau melihat mu seperti ini. Kau sangat menyedihkan, tidak seperti Liu yang aku kenal dulu ” ujar Chen. Menepuk pundak Liu. Cinta telah membuat seorang Liu yang terkenal kejam. Menangis karena seorang wanita.
__ADS_1
Sekilas Liu seperti melihat Aqila mengerjap pelan.
“ Chen panggilkan dokter ” perintah Liu saat dirinya melihat dengan jelas bahwa Aqila benar-benar mengerjapkan matanya.
Dengan langkah cepat Chen keluar kamar Liu untuk memanggil dokter sesuai perintah Liu.
Tak berapa lama kemudian para dokter telah berada di kamar Liu untuk memeriksa kondisi Aqila.
“ sayang kau telah bangun?, Aku tidak sedang bermimpi kan?, Dia benar-benar telah sadar? ” tanya Liu beruntun.
“ dia sudah membuka matanya, tapi mengapa dia diam saja ” tanya Chen bingung melihat Aqila yang sudah membuka matanya namun tetap diam tidak berbicara ataupun bergerak.
Benar, sangking senangnya Liu sampai tidak menyadari bahwa Aqila hanya diam saja sejak tadi. Tidak bergeming Sama sekali.
“ dokter apa yang terjadi pada gadis ku ” tanya Liu pada para dokter itu.
__ADS_1