
Pagi hari telah tiba, terlihat Chen yang sudah sangat rapi dengan pakaian kerjanya dengan membawa tas yang berisi laptop dan beberapa berkas penting lainnya.
Chen keluar dari kamarnya dan segera menuju kamar Aqila. Chen ingin memberi tahu sesuatu pada Aqila. Sesuatu yang sangat penting menurutnya.
Tok...tok...tok
Chen mengetuk pintu kamar Aqila dengan sedikit keras. “ ini aku, apakah aku boleh masuk? ” tanya Chen dari luar kamar Aqila.
“ apakah dia masih tertidur? ” gumam Chen dalam hati kerena tida juga mendapat jawaban dari Aqila.
Dengan perlahan Chen membuka sedikit pintu kamar Aqila. Dan terlihatlah oleh Chen, Aqila yang sepertinya sedang kesulitan.
“ mengapa kau diam saja saat ku panggil tadi ” gerutu Chen sambil berjalan mendekati Aqila di tempat tidur.
“ apa kau tidak lihat, aku sedang kesulitan ” balas Aqila ketus. Yang memang dirinya sedang kesulitan untuk naik ke kursi rodanya.
“ kau hanya perlu menjawab panggilan ku tadi, bukan membukakan pintu ” balas Chen tak kalah ketus.
__ADS_1
“ oh iya aku lupa ” ujar Aqila sembari menepuk jidatnya dengan tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya.
“ dasar idiot, ” ledek Chen.
“ aku tidak idiot. ” balas Aqila tidak terima dikatai idiot oleh Chen. “ ah ya ada perlu apa kau kemari sepagi ini? Dan ada apa dengan pakaian mu, mengapa rapi sekali ” sambung Aqila memerhatikan Chen dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“ ada sesuatu yang sangat penting ingin aku bicarakan padamu ” ujar Chen dengan nada suara berbisik seperti takut ada yang mendengar suaranya.
Dan hal itu berhasil membuat Aqila menjadi penasaran dengan apa yang ingin di bicarakan oleh Chen pada dirinya.
“ lalu? ” tanya Aqila ikutan berbisik.
“ kau harus bisa bersikap dingin padanya. Agar dirinya tersiksa karena telah melukai perasaan mu. ” ujar Chen lagi dengan menggebu-gebu.
“ tapi semalam dirinya sudah meminta maaf pada ku, dan dia berkata bahwa dirinya sangat menyesal. Aku takut jika kita bersikap seperti itu akan menambah emosi Liu ” balas Aqila mengingat kejadian semalam saat Liu masuk kedalam kamar dan dirinya berpura-pura sedang tertidur. Jadi Aqila tahu apa saja yang di katakan oleh Liu semalam. Meskipun dirinya merasa sedikit kecewa pada Liu, tapi bukan berarti dirinya harus pergi menjauhi Liu.
“ sudah lah, kau jangan Takut akan hal itu. sekali-kali Kita beri dia pelajaran ” balas Chen dengan menyeringai.
__ADS_1
“ baiklah ” balas Aqila setuju dengan rencana Chen. setelah dipikir pikir tidak ada salahnya menurut Aqila jadi dirinya setuju saja. “ ah ya, kau belum menjawab pertanyaan ku tadi ” ujar Aqila mengingatkan Chen.
“ pertanyaan yang mana? ” tanya Chen bingung.
“ mengapa kau mengenakan stelan kerja seperti ini? apakah kau akan bekerja hari ini? ” tanya Aqila lagi menatap intens wajah Chen.
“ tentu saja. apa kau tidak lihat aku sudah membawa tas kerja ku, kemana lagi jika bukan berkerja” balas Chen cepat.
“ apa kau bodoh!, kau belum sepenuhnya pulih mengapa kau ingin pergi bekerja? ” tanya Aqila dengan wajah terkejutnya. Chen sungguh benar-benar bodoh menurut Aqila.
“ kau tenang saja, aku memiliki rencana tersembunyi di sini ” balas Chen sambil tersenyum penuh arti.
mendengar jawaban Chen Aqila hanya bisa menggelengkan kepalanya. tidak habis pikir dengan jalan pikiran Chen yang sangat aneh itu.
tanpa mereka sadari padahal sedari tadi tepat di depan pintu kamar Aqila ada seseorang yang mendengarkan obrolan mereka. siapa lagi jika bukan Liu. Liu menyeringai saat dirinya tahu rencana Chen.
“ kau lihat saja nanti Chen, apa yang akan aku lakukan padamu ” gumam Liu dengan ide jail nya. Lalu Liu segera beranjak pergi dari sana agar tidak ketahuan oleh Aqila dan Chen bahwa dirinya sudah tahu semua rencana mereka.
__ADS_1