
“ kau kenapa? ” tanya Liu bingung melihat wajah Aqila yang terlihat sedih.
“ tidak apa-apa ” bohong Aqila, sambil tersenyum terpaksa.
sebenarnya Aqila sedih karena sudah berkata seperti tadi kepada pamannya. seharusnya Aqila bersyukur karena paman dan bibinya masih mau menampung dirinya di saat tidak ada orang yang mau menampung dirinya.
ya meskipun Aqila selalu di perlakukan dengan kasar oleh bibi dan Clara. tapi setidaknya mereka masih mau menampung dirinya. dan tidak mengusirnya.
“ jangan berbohong pada ku ” ujar Liu menatap Aqila tajam. berharap Aqila mau terbuka padanya.
“ aku tidak berbohong, sungguh ” balas Aqila.
Liu menghela nafas kasar karena Aqila tidak mau terbuka padanya. padahal sudah sangat jelas sekali bahwa Liu tau penyebab Aqila bersedih. tapi! ya sudahlah biarkan saja.
Liu juga mengumpati Alex dan juga Clara. yang sudah berani membuat gadisnya bersedih. lihat saja, mereka pikir Liu akan melepaskan mereka begitu saja. tentu saja tidak.
namun tiba-tiba saja Liu seperti melihat seseorang sedang memerhatikan dirinya dan juga Aqila. “ tunggu! sepertinya aku pernah melihat orang itu. tapi di mana? ” batin Liu. sambil berfikir. di mana dia bertemu orang seperti itu.
merasa bahwa dirinya sudah terlihat oleh Liu. orang tersebut segera pergi sambil tersenyum licik.
“ ketemu ” gumam orang tersebut. yang ternyata adalah Daisuke.
__ADS_1
“ kenapa kau melamun? ” tanya Aqila. membuat Liu langsung terkejut.
“ aku tidak melamun ” balas Liu. lalu mengajak Aqila untuk menikmati hidangan yang ada.
sedangkan di tempat lain Chen sedang di buat susah oleh kelakuan Clara dan ibunya Rosetta.
“ diam atau ku tembak mati kalian semua! ” bentak Chen pada Clara dan ibunya sungguh Chen sudah tidak bisa menahan emosinya lagi sekarang.
dari tadi Chen bicara namun tidak di dengar kan oleh Clara. Clara dan ibunya malah sibuk untuk menggoda Chen. siapa pun pasti kesal jika begitu.
semua orang yang ada di ruangan tersebut langsung menatap Chen heran. merasa menjadi pusat perhatian dari semua orang Chen lebih memilih untuk membawa pergi Clara, Rosetta dan Alex keluar.
“ pergi kalian dari sini, sebelum aku berubah pikiran ” Chen mengusir Clara dan Rosetta berserta Alex.
Clara bergelayut manja di lengan Chen.
“ jangan sentuh aku dengan tangan kotor mu itu ” Chen menghempaskan lengan Clara dengan kasar.
“ kau jangan munafik, aku tahu kau juga pasti menginginkan nya bukan ” timpal Clara dan itu berhasil membuat Chen bertambah emosi.
Chen mengeluarkan pistol yang di sembunyikan di balik jas mahalnya itu. lalu menodongkan pistol tersebut di kepala Clara.
__ADS_1
“ masih ingin bicara? ”. tanya Chen dengan tersenyum iblis. membuat Clara ketakutan setengah mati. ia tak menyangka Chen akan sangat mengerikan seperti ini.
Rosetta yang melihat anak satu-satunya di todong pistol seperti itu langsung panik. takut kalau Chen akan benar-benar menembak putri satu-satunya itu.
“ tidak tuan, jangan tembak putri ku. kami minta maaf. aku janji hal seperti tadi tidak akan pernah terjadi lagi. kumohon ” mohon Alex. sambil berlutut di hadapan Chen.
“ iya tuan. kami sungguh minta maaf . tolong lepaskan putri ku biarkan kami pergi” sambung Rosetta ikut berlutut di hadapan Chen.
Chen tertawa melihat mereka memohon untuk kehidupan putrinya pada dirinya. ohh sungguh sangat menyenangkan bagi Chen.
“ apa sekarang kalian takut ? ” tanya Chen setelah puas tertawa. dan mendapat anggukan kepala dari mereka semua.
dorrr
terdengar suara tembakan. dan Chen sengaja menembak kaki Clara agar gadis tersebut jera. karena dari yang Chen tahu orang seperti mereka itu tidak bisa di pegang kata-katanya.
Clara yang secara tiba-tiba mendapat tembakan di kakinya langsung terjatuh tak sadarkan diri. sedangkan Rosetta dan Alex berteriak histeris melihat putri satu-satunya tertembak.
“ sekarang kalian bisa pergi ” Chen mempersilahkan mereka semua pergi. lalu Chen melangkahkan kakinya kembali ke acara. namun tiba-tiba Chen teringat sesuatu.
“ oiya aku lupa. kau di pecat ” ujar Chen saat sudah menghentikan langkahnya dan menatap Alex tajam. lalu Chen melangkah kembali.
__ADS_1
tanpa Chen sadari dari tadi dirinya selalu di perhatikan oleh seseorang dari kejauhan. ya orang itu tak lain adalah Daisuke.
“ menurut pepatah. musuhnya musuh adalah teman ” ujar Daisuke tersenyum licik.