Mafia Dan Aku

Mafia Dan Aku
aku takut


__ADS_3

setelah Chen berhasil memotong kedua jari telunjuk Daisuke,


“ bantu aku! ” pinta Chen pada salah satu anak buah Liu.


Chen menarik paksa kaki kiri Daisuke. sedikit sulit, namun Chen pantang menyerah.


“ Auw, sialan ini sakit sekali! ” ujar Chen saat Daisuke yang terus memberontak tidak sengaja menendang lengan Chen yang masih terpasang jarum infus.


“ haha, sudah kukatakan. akan sulit menyiksa seseorang dengan kondisi seperti itu. ” ujar Liu yang sedang duduk santai menyaksikan kegiatan Chen.


“ aku bisa boss ” balas Chen sambil berusaha mencabut jarum infus tersebut.


“ ahhh, sial ” umpat Chen setelah berhasil mencabutnya.


“ kau!...”. Chen menatap tajam Daisuke, terselip amarah di balik tatapan tajam dari Chen. “ aku tidak akan bermain-main lagi sekarang, kau akan merasakan penyiksaan yang sebenarnya dari ku.” ujar Chen sembari memberi kode untuk memegangi tubuh Daisuke.


Chen menarik kaki Daisuke, dan dengan santainya Chen memotong kaki Daisuke menggunakan kapak nya.


merasa sulit jika menggunakan kapak, Chen pergi dan mengambil sebuah gergaji mesin. menghidupkan nya dan mengarahkan Benda itu ke kaki Daisuke yang belum sepenuhnya terpotong. hanya dengan sekali gerakan kaki Daisuke sudah benar-benar terpisah dari tubuhnya.


teriakkan Daisuke menggema di seluruh ruangan, darah segar mengalir deras dari kaki Daisuke yang telah terpotong.


......★★★......

__ADS_1


sedangkan di tempat lain, Aqila mengerjapkan matanya. tenggorokan nya terasa sangat kering dan dirinya butuh air.


“ a..Ir ” lirih Aqila, tubuhnya benar-benar sulit untuk di gerakan.


salah seorang anak buah Liu yang bertugas menjaga kamar itu, samar-samar seperti mendengar suara seseorang, dari dalam kamar. merasa ada yang tidak beres dirinya memutuskan untuk melihat langsung ke dalam bersama salah seorang temannya.


“ nona... nona sudah bangun ” ujar mereka saat melihat Aqila yang sedang kesusahan mengambil sesuatu di atas nakas.


Aqila yang mendengar suara seseorang langsung melihat kearah sumber suara.


“ Aaaaaa ” teriak Aqila histeris. “ pergi kalian jangan dekati aku ” ujar Aqila dengan air mata yang sudah mengalir.


“ nona, ada apa? apa yang terjadi? ” tanya salah seorang.


“ cepat panggil dokter dan tuan ” perintah salah seorang kepada temannya. karena Aqila yang selalu berteriak dan seperti orang yang sedang ketakutan.


tanpa menunggu lama, salah satu anak buah Liu segera keluar kamar untuk memanggil dokter dan tentunya mencari Liu.


...★★★...


Chen yang sedang membuat lukisan di tubuh Daisuke menggunakan pisau. merasa terganggu dengan kedatangan salah seorang anak buah Liu yang tergesa-gesa.


“ ada apa? ” tanya Liu bingung melihat anak buahnya yang sepertinya habis dari berlari.

__ADS_1


“ nona... tuan ” ujar orang itu dengan nafas yang terengah-engah. karena berlari dari atas kesini, dengan jarak yang cukup jauh.


mendengar itu tiba-tiba raut wajah Liu langsung menegang. “ apa yang terjadi? ” tanya Liu bangkit dari duduknya. tiba-tiba saja perasaan Liu menjadi tidak enak.


“ nona sudah sadar, dan entah mengapa nona berteriak histeris seperti orang yang sedang ketakutan tuan. ” balas nya cepat.


tanpa menunggu lama Liu langsung berlari menuju ke tempat dimana Aqila berada.


“ akan aku lanjutkan nanti ” Chen meletakkan kembali kapak nya dan segera membersihkan dirinya dari darah Daisuke yang mengenai tubuhnya.


sesampainya di depan pintu kamar nya Liu berhenti sejenak untuk menetralkan nafasnya. karena berlari dari bawah ke atas.


begitu pintu kamar di buka Liu melihat Aqila yang sedang berteriak dan juga menangis. dan para dokter yang sepertinya tidak tahu cara menenangkan Aqila.


Liu langsung berlari menghampiri Aqila. di peluknya tubuh lemah Aqila. “ tenanglah sayang ada aku disini ” ucap Liu lembut mencoba untuk menenangkan Aqila.


“ sudah jangan takut, tidak ada yang berani menyakiti mu sekarang ” ujar Liu sambil mengusap lembut punggung Aqila.


“ a..aku takut ” balas Aqila yang sudah sedikit tenang dalam pelukan Liu.


“ takut apa hemm? tidak ada yang perlu kau takuti di sini ” Liu melepaskan pelukannya untuk melihat wajah Aqila. Liu mengelap air mata Aqila, menggunakan ibu jarinya.


“ kau jangan takut. ada aku disini, aku akan selalu melindungi mu ” ujar Liu dengan tersenyum lembut. “ tenanglah “ Liu kembali memeluk Aqila, yang masih saja menangis.

__ADS_1


sedangkan di ambang pintu Chen menatap iri sekaligus senang melihat Liu dan Aqila.


__ADS_2