Mafia Dan Aku

Mafia Dan Aku
cambukan


__ADS_3

“ kau sudah lihat bukan, bagaimana cara diriku menyisakan Abin ? ” tanya Liu pada Zhang yang sudah berada di hadapannya dengan posisi terbalik.


“ aku tidak pernah takut untuk mati! ” balas Zhang dengan tersenyum sinis.


“ benarkah? Tapi sayangnya aku tidak berminat untuk segera membunuh mu.” balas Liu dengan menyeringai.


“ bagaimana jika kita bermain terlebih dahulu? ” tanya Liu menaik turunkan kedua alisnya.


“ apakah aku bisa menolaknya ” ketus Zhang, kesal dengan pertanyaan Liu yang meskipun dirinya menolak Liu akan tetap menyiksanya dengan sesuka hati.


“ huuh, kau memang pengertian sekali. ” balas Liu merasa puas dengan pasrah nya Zhang.


“ boss, apa kau yakin akan menggunakan itu? ” tanya Chen melihat senjata yang di pegang oleh Liu.


“ tentu saja ” balas Liu dengan memamerkan sebuah besi pipih tapi panjang, mirip seperti penggaris besi yang sangat panjang. Tetapi lebih lentur dari penggaris.

__ADS_1


“ apakah hanya dengan menggunakan itu saja akan cukup? ” tanya Chen lagi merasa aneh dengan Liu yang hanya mau menggunakan sebuah besi pipih. Bisa di katakan seperti cambuk tetapi itu versi besi.


“ apa kau ingin mencobanya? ” tawar Liu, yang tentu saja langsung di tolak mentah-mentah oleh Chen.


“ kau tidak cocok menjadi kejam ” ujar Zhang dengan wajah yang sudah memerah karena posisinya yang terbalik menyulitkan Zhang untuk bernafas.


“ aku tidak meminta pendapat mu ” balas Liu ketus, lalu bersiap untuk mencambuk Zhang dengan besi pipih yang di pegang olehnya.


Satu cambukan di tubuh Zhang. Dan Zhang masih bisa menahan diri untuk tidak merintih kesakitan, karena cambukan Liu cukup keras dan terasa sangat panas beserta perih di kulitnya. Dan bisa di pastikan bahwa kulit Zhang yang terkena cambukan itu sudah pasti memerah bahkan mungkin saja terluka.


Liu menyeringai puas saat mendengar suara rintihan dari mulut Zhang. Dan hal itu semakin membuat dirinya menjadi tambah bersemangat untuk terus mencambuk Zhang. Di tambah lagi dengan raut wajah menahan kesakitan tertera jelas di wajah Zhang.


Sedangkan Chen yang melihat Liu yang tambah bersemangat mencambuk Zhang. Menjadi merinding, membayangkan bahwa saat ini yang sedang di cambuk oleh Liu adalah dirinya.


Setelah puas mencambuk Zhang, Liu beristirahat sejenak. Ia merasa lengannya akan terlepas jika terus di lanjutkan, karena terlalu bersemangat.

__ADS_1


“ jangan pernah memberi mereka makan ataupun minum, ingat itu! ” perintah Liu sembari menyeka keringatnya.


“ apa kau lelah boss? ” tanya Chen. dengan nada sedikit mengejek.


“ tentu saja. Aku sudah cukup bermain-main nya, aku serahkan mereka kepada mu. Aku sudah bosan ” ujar Liu sembari melangkahkan kakinya keluar dari dalam gudang.


Liu benar-benar telah merasa sangat puas, setelah menyiksa Zhang sampai tidak sadarkan diri. Dengan darah yang mengalir deras. Bagaimana tidak? Liu mencambuk Zhang sampai tubuh Zhang seperti habis dikuliti hidup-hidup oleh Liu.


“ kau ingin pergi ke mana boss? ” teriak Chen saat Liu sudah berada sedikit jauh darinya.


“ membersihkan diri, lalu pergi menemui gadis ku ” balas Liu sambil terus berjalan menjauhi Chen.


“ kapan aku akan merasakan jatuh cinta seperti dirimu boss? ” gumam Chen dengan wajah sendu. Jujur saja ia merasa iri dengan Liu. Liu memiliki segalanya dan sekarang Liu memiliki cinta. Ada cinta yang akan di perjuangan oleh Liu. Sedangkan dirinya apa yang harus ia perjuangkan? Tidak ada satupun yang bisa ia perjuangkan.


Bahkan Chen sempat berpikir mengapa dirinya tidak mati saja saat itu. Tapi bukan Chen namanya jika terus bersedih, bahkan pikiran seperti itu hanya terlintas sekilas. Dan tentunya Chen menyesal telah berfikir seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2