
Satu Minggu telah berlalu, dan saat ini kondisi Aqila semakin membaik. Berbanding terbalik dengan Chen yang saat ini dirinya sedang terserang demam tinggi akibat ulahnya sendiri yang tidak mau meminum obat.
Setiap kali di ingatkan untuk meminum obatnya Chen selalu menolak dengan alasan bahwa dirinya telah sembuh total dan tidak membutuhkan obat lagi. Tapi nyatanya luka tembakan di dada Chen yang belum benar-benar sembuh kembali membengkak akibat Chen yang tidak bisa diam.
“ boss, dada ku rasanya sakit sekali, ” keluh Chen dengan wajah yang sudah terlihat sangat pucat.
“ itulah sebabnya mengapa kau harus meminum obat mu dan beristirahat yang cukup. Sekarang kau rasakan saja rasa sakitnya sendiri. ” ujar Liu bingung apa yang harus ia perbuat. Padahal tadi Chen sudah di beri obat pereda nyeri oleh dokter. Tapi mengapa Chen masih saja merasa sakit.
“ ku rasa ini adalah karma boss, ” celetuk Chen masih dengan Menahan rasa sakit di dadanya. Yang perlahan-lahan menghilangkan, mungkin obat pereda nyeri nya sudah mulai beraksi.
“ sudah kukatakan padamu, jangan terlalu bersemangat menyiksa mereka. Sekarang lihatlah, mereka semua telah tiada dan kau yang kesakitan. ” balas Liu mengingat kembali ulah Chen.
__ADS_1
Beberapa hari yang lalu Chen benar-benar melakukan apa yang pernah di katakan oleh Liu. Chen mengambil semua organ tubuh Zhang dan Daisuke yang bisa di jadikan uang.
uang hasil dari menjual seluruh organ tubuh Zhang dan Daisuke serta dengan uang tambahan dari Liu Chen bisa membeli sebuah mobil mewah, yang memang sudah lama Chen menginginkan mobil itu.
“ lebih baik sekarang kau istirahat saja, agar rasa sakit yang kau rasakan menghilang. ” saran Liu, saat melihat Chen yang sepertinya sudah tidak terlalu kesakitan. “ kau tahu, kau itu mengganggu waktu tidur ku saja. ” gerutu Liu sambil berjalan keluar kamar.
Liu berjalan kembali menuju kamar untuk melanjutkan kembali tidurnya yang terganggu akibat ulah Chen. Bagaimana tidak terganggu jam masih menunjukkan pukul empat pagi dan Chen sudah ribut dengan rasa sakit di dadanya.
“ ohh, kau sudah bangun? ” tanya Liu sedikit terkejut saat melihat Aqila yang sudah terbangun, apakah kedatangannya mengganggu tidur nyenyak Aqila. “ ini masih terlalu pagi, kau boleh tidur lagi jika masih mengantuk. Aku akan menemanimu ” sambung Liu lagi sembari berjalan mendekati ranjang tempat dimana Aqila berada.
Selam satu Minggu ini Liu selalu tidur sekamar dengan Aqila, dengan alasan untuk menjaga Aqila. Tapi sayangnya Liu belum bisa tidur di samping Aqila di karenakan Liu yang sedikit takut akan menyakiti Aqila saat dirinya tertidur.
__ADS_1
“ kau dari mana? ” tanya Aqila dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
“ menemui Chen ” balas Liu sambil membenarkan selimut Yang membungkus tubuh Aqila. “ ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu? ” tanya Liu yang memang tidak biasanya Aqila terbangun tanpa meminta sesuatu.
“ apakah demam Chen belum juga turun? ” tanya Aqila. “ aku ingin minum ” sambungnya lagi sambil menunjuk air minum yang ada di atas mejanya yang cukup jauh.
“ belum, sekarang malah di tambah dengan rasa sakit di bagian dadanya. ” balas Liu sambil mengambilkan air untuk Aqila.
“ apa yang terjadi pada Chen, mengapa dadanya menjadi sakit?” tanya Aqila lagi sembari menerima segelas air yang di berikan oleh Liu. Lalu meminumnya “ terima kasih ” ujar Aqila sembari mengembalikan gelas yang sudah kosong.
“ entahlah, mungkin akibat dari ulahnya sendiri yang tidak bisa diam ” balas Liu sembari menerima gelas kosong itu. “ sekarang sebaiknya kau lanjutkan tidur mu.” ujar Liu sembari mengelus rambut Aqila, dengan tersenyum manis.
__ADS_1
Aqila yang memang masih mengantuk akhirnya tertidur kembali saat Liu mengelus-elus rambutnya dengan lembut.