Mafia Dan Aku

Mafia Dan Aku
aku tidak peduli


__ADS_3

Setelah mendengar penjelasan dari dokter tadi, Liu menjadi sedikit lega. Karena kata dokter itu masih hal wajar, mengingat bahwa Aqila mengalami benturan yang keras di bagian kepala. Membuat kerja otak nya sedikit lambat.


Liu juga merasa sedih saat dokter mengatakan bahwa kemungkinan besar Aqila akan mengalami gangguan pada otak.


“ aku tidak peduli meskipun nantinya kau akan cacat. Yang aku tahu aku sangat mencintaimu, dan ingin selalu bersamamu. ” ujar Liu sambil menggenggam erat tangan Aqila yang sedang tertidur. Iya tidur, bukan koma. Aqila memang benar-benar sedang tidur.


“ boss, apa kau mau berdiam diri saja di sana, atau kita bersenang-senang dengan tawanan yang kau bawa semalam. ” ujar Chen, merasa bosan karena sedari tadi Liu selalu duduk di sebelah Aqila.


“ tawanan? ” Liu mengingat lagi kejadian semalam, sepertinya dirinya lupa dengan itu karena khawatir dengan keadaan Aqila. “ ah ya, kau benar, mengapa aku bisa melupakan hal yang sangat penting ini ” ujar Liu setelah mengingat bahwa semalam dirinya membawa tiga orang tawanan.


“ aku sudah tidak sabar, ingin bermain-main dengan salah satu dari mereka ” ujar Chen merasa sangat senang.


“ tidak bisa!, Kau belum sepenuhnya pulih. Dan kau sendiri bukan yang berkata bahwa kau tidak boleh kelelahan. Jadi lebih baik kau istirahat saja. Biar aku yang mengurusnya. ” Liu bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Chen dengan tersenyum mengejek.


“ oh tidak bisa, Aku harus ikut. Aku ingin melihat wajah orang yang telah menembak ku ” balas Chen tidak terima.

__ADS_1


“ bagaimana caramu untuk bermain-main bersama mereka. Jika kau selalu membawa ini kemanapun kau pergi. ” Liu menunjuk jarum infus yang masih melekat pada lengan Chen.


“ tidak masalah, aku bisa melepasnya ” balas Chen tidak mau kalah.


“ kau baru saja terbangun dari tidur panjang mu. Jadi kau masih membutuhkan ini untuk memulihkan tenaga mu ” ujar Liu berjalan keluar dari kamarnya, meninggalkan Chen yang sedang memasang wajah kesal.


“ aku sudah cukup kuat boss, tidak butuh waktu lama bagiku untuk pulih seperti sedia kala ” Chen berjalan menyusul Liu yang sudah berada di luar kamar.


“ cih, kau jangan sombong seperti itu ” balas Liu, sambil berjalan menuruni tangga.


Liu yang mendengar gerutuan Chen hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Chen terlalu sehat, tidak seperti orang yang sakit pada umumnya.


“boss, kita harus sarapan terlebih dahulu. agar kita memiliki tenaga yang kuat! ” ujar Chen sambil terus mengekor di belakang Liu.


“ aku tidak lapar! ” balas Liu cepat.

__ADS_1


Liu berjalan kearah gudang, tempat dimana biasanya Liu menaruh tawanannya, menyiksa dan membunuh mereka tanpa ampun.


“ pagi tuan ” sapa anak buah Liu saat melihat Liu datang. namun bukannya di jawab Liu malah langsung menerobos masuk.


melihat kedatangan Liu, Zhang, Daisuke dan Abin mendadak menjadi ketakutan wajah mereka tampak sangat pucat. jelas sekali jika mereka sedang ketakutan saat ini.


“ oh hoho, rupanya mereka yang telah menembak diriku? ” ujar Chen dengan menatap satu persatu orang di depannya.


“ boss, kau mengizinkan aku bukan? ” tanya Chen penuh harap.


“ ehm kau pilihlah satu ” balas Liu.


“ kau memang yang terbaik boss, ” Chen mengacungkan kedua ibu jarinya.


“ tentu saja!, ” balas Liu berjalan mendekati Zhang. “ hai ” sapa Liu dengan menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2