
Pagi telah tiba, saat ini Liu sedang di sibukkan menyiapkan sarapan untuk bayi besar nya dan juga pujaan hati.
Chen yang selalu bertingkah seperti anak kecil, yang hanya ingin makan jika Liu yang mengantarkan makanan itu, bahkan terkadang Chen dengan sengaja meminta Liu untuk menyuapinya. Ya meskipun di tolak oleh Liu, tetapi Chen senang melihat ekspresi kesal Liu.
Sedangkan Aqila, sebenarnya Aqila bisa untuk makan sendiri. namun hal ini berbeda, Liu sendiri lah yang bersikeras ingin menyuapi Aqila.
Sebelum membawa sarapan untuk Aqila, Liu memilih untuk mengantarkan terlebih dahulu sarapan untuk Chen. Sungguh seorang ketua mafia yang terkenal kejam, rela menjadi pengantar makanan untuk anak buahnya sendiri.
Ya walaupun sebenarnya bukan Liu yang membawa, tetapi pelayan nya yang membawa. Tapi itu sama saja, mengantarkan makanan kepada ANAK BUAHNYA. ya ampun apa kata dunia jika semua orang tau hal ini. Sungguh memalukan.
“ sarapan ku telah tiba ” ujar Chen dengan tersenyum puas, melihat Liu sendiri lah yang mengantarkan makanan untuk dirinya. Kapan lagi coba seorang anak buah bisa menyuruh-nyuruh tuanya seperti ini.
“ sekarang cepat kau makan sarapan mu, aku tidak punya banyak waktu ” ketus Liu memberikan sepiring makanan kepada Chen.
“ kau tidak mau menyuapi aku boss? ” goda Chen. Dengan terkekeh geli.
__ADS_1
“ sepertinya kau sudah sehat, tidak seperti tadi pagi. Melihat kau seperti tadi aku sempat berfikir bahwa kau mungkin akan segera tiada ” celetuk Liu sambil tertawa kecil.
“ sialan kau boss ” ketus Chen merasa kesal dengan ucapan Liu yang mendoakan agar dirinya cepat mati.
“ haha, sudahlah cepat kau makan. Setelah itu jangan lupa untuk meminum obat mu, agar kau cepat sembuh ” ujar Liu sambil berjalan keluar kamar Chen, menuju kamarnya untuk mengantarkan makanan untuk Aqila.
“ kau sungguh sangat perhatian boss, ” teriak Chen dari dalam kamarnya, kepada Liu yang sudah berada di luar kamar.
Tidak butuh waktu lama bagi Liu untuk sampai ke kamar nya, untuk mengantarkan sarapan untuk Aqila, pujaan hatinya.
“ Bǎobǎo xǐngle, gāi chī zǎofànle ” ujar Liu sambil menggoyang-goyangkan pelan tubuh, agar Aqila terbangun dari tidurnya.
“ sepuluh menit lagi ” balas Aqila masih dengan menutup matanya. Sambil membenarkan selimut yang di tarik oleh Liu.
“ tidak bisa, kau haru bangun sekarang juga! ” balas Liu kembali menarik paksa selimut yang menutupi tubuh Aqila.
__ADS_1
“ kau itu mengganggu saja, aku ini masih mengantuk ” gerutu Aqila dengan wajah yang terlihat sangat kesal.
“ apa kau marah padaku? ” tanya Liu dengan nada sedikit tidak terima. Tidak terima jika dimarahi oleh Aqila padahal dirinya sendiri.
“ menurut mu? ” balas Aqila ketus. Jika saja dirinya sudah bisa berjalan pasti saat ini dirinya sudah pergi meninggalkan Liu.
“ astaga, jika seperti ini aku harus lebih banyak bersabar ” gumam Liu pelan. Jika seperti ini terus bisa-bisa dirinya menjadi gila.
“ sudah waktunya untuk sarapan dan minum obat, setelah itu jika kau ingin melanjutkan tidurmu silahkan. ” ujar Liu sembari membenarkan rambut Aqila yang acak-acakan.
“ tapi aku masih mengantuk, ” rengek Aqila, dengan wajah memelas.
“ setelah sarapan kau bisa tidur lagi” balas Liu mengambil sepiring makanan yang tadi di bawakan oleh pelayannya. “ buka mulut mu ” perintah Liu sembari menyodorkan sesendok makanan.
“ tapi aku belum mencuci muka dan menggosok gigi ” balas Aqila, merasa tidak nyaman jika makan sebelum cuci muka dan gosok Gigi.
__ADS_1
“ tidak perlu, cepat buka mulutmu atau kau mau aku paksa ” ancam Liu dengan menatap tajam Aqila. Liu bukan marah tapi Liu hanya menggertak. dan ternyata cara itu berhasil, dengan malas Aqila menerima suapan dari Liu. dan hal itu membuat Liu tersenyum bahagia.