
Rea Sudah berdiri didepan sekolah menunggu pak Rahmat, sebelumnya dia sudah berpesan kalau dia tidak mau dijemput didepan gerbang sekolah. Pak Rahmat dimintanya menunggu disebrang jalan, gadis itu tidak mau kalau sampai teman-temannya tau dirinya diantar jemput dengan mobil mewah, karena pemilik mobil seperti yang dibawa pak Rahmat memang tidak semua orang dinegaranya punya, apalagi dikota tempat dia tinggal sekarang.
Rea melihat Cindy dan sevia berboncengan, Cindy melambaikan tangan kearahnya, gadis itu membalas melambaikan tangannya sambil tersenyum, memutar sedikit kepalanya masih dengan melambaikan tangan, tiba tiba raut wajahnya berubah dia menurunkan tangan dengan sedikit kesal, melihat cowok diatas motor dengan helm full face disebrang jalan, sorot matanya Rea kenal betul mata yang meremehkan dirinya, mata Elang.
Tiba-tiba seorang gadis melewati Rea, gadis itu agak berlari menyebrangi jalan, yang memang aman untuk disebrangi tanpa melihat kakan kiri karena pak satpam sudah siap menghentikan kendaraan agar anak-anak bisa menyebrang jalan dengan aman.
Gadis itu menghampiri Elang, entah apa yang mereka bicarakan tetapi gadis itu tiba-tiba cemberut menghentak hentakan kakinya seperti merengek. Elang terlihat tidak perduli dan langsung tancap gas meninggalkan gadis itu.
"Tunggu tunggu, motor yang dipake Elang kayaknya aku pernah lihat, ah.. ga mungkin cowok bermotor sport merah yang aku pikir keren itu Elang, lagian motor kayak gitu kan banyak, siapa aja bisa punya" pikir Rea dalam hati.
Gadis yang menghampiri Elang tadi menyebrang balik ke depan gerbang sekolah, kemudian berdiri di samping Rea dan tersenyum, menatap rok Rea yang berbeda dengan yang dia pakai.
"Anak baru ya?" tanyanya.
"Iya" Jawab Rea.
"Nunggu jemputan?" tanya gadis itu lagi.
"Iya."
"Kamu Kelas berapa?"
"XI-2."
"Wah.. teman sekelas Elang donk" gadis itu tersenyum sambil membetulkan letak tas dipundaknya kemudian mengulurkan tangan ke Rea.
"Kenalkan, aku kinanti, panggil aja Ken."
"Rea" ucapnya sambil menyambut uluran tangan gadis itu.
__ADS_1
"Aku kelas XII-1."
"Pacar Elang ya?" Tanya Rea tanpa sadar.
"Apa'an sih re, kepo banget" Rea memarahi dirinya sendiri dalam Hati.
"Em.... gimana ya?" Ken hanya menjawab menggantung sambil tertawa, gadis itu membuka aplikasi taxi online di HPnya, memilih dijemput dilokasinya saat ini menuju sebuah tempat, sementara Rea melihat mobil yang dia kenal berbelok dan berhenti tepat didepannya.
"Duluan ya Ken" Rea berpamitan pada Ken kemudian membuka pintu depan mobilnya.
Pak Rahmat terhenyak kaget kenapa nonanya tidak duduk dibelakang seperti biasa. Secepat kilat Rea mengedipkan matanya ke arah pak Rahmat.
Ken memandangi mobil yang ditumpangi Rea menjauh, sebuah taxi online yang dia pesanpun sudah datang, ia masuk kedalam mobil itu sambil bergumam.
"Mobilnya bisa buat beli 20 mobil taxi ini."
"Rea kenapa ga duduk dibelakang kayak biasa?" tanya pak Rahmat.
"Ooo..bapak sudah lancar manggil nama aku tanpa non," ledek Rea diikuti senyuman dibibirnya, Pak rahmat juga ikut tersenyum.
"Harus nyelesai'in tugas adminsitrasi mengajar non paling."
"Hem.. ribet ya pak, capek ga ya mba Anisa? udah ngajar ngadepin anak-anak kayak aku, masih harus ngerjain kerjaan lain." Rea berbicara sambil menatap keluar jendela, ada sebuah taman dekat sekolahnya, dia terlihat gembira, bisa buat nongkorong sama Sevia dan Cindy pikirnya.
"Anisa memang sudah bercita-cita menjadi guru sejak kecil, karena cita-cita nya sudah tercapai bapak yakin dia bahagia sekarang."
"Aku denger gaji guru kayak mba Anisa kecil ya pak?"
"Ya begitulah non, nama nya juga mengabdi, yang penting tulus, ikhlas, rejeki kan sudah diatur sama yang di atas."
"Yah bapak manggil aku non lagi," gadis itu mendengus kesal.
__ADS_1
"Eh iya bapak lupa lagi," ucap pak Rahmat sambil tertawa.
"Kira-kira berapa ya gaji mba Anisa pak?"
Pak Rahmat menyebutkan nominal gaji anak perempuannya, Rea terkejut mendengarnya, bahkan uang jajannya sebulan 30 kali lipat lebih besar dari gaji Anisa.
Matanya masih membelalak karena terlalu terkejut, tiba-tiba terdengar dering ponsel dari dalam tasnya, segera ia mengambil benda pipih itu dan melihat sebuah panggilan masuk.
"Arkan."
Rea, meletakkan jari telunjuknya di mulut, meminta Pak Rahmat untuk tidak mengeluarkan suara.
"Halo.." jawab Rea pelan.
Suara Arkan disebrang sana agak gelisah, berbicara dengan kalimat panjang tanpa jeda. Rea tersenyum kemudian menyandarkan punggungnya dikursi. Gadis itu tertawa membayangkan ekspresi muka Arkan sekarang seperti apa.
Flash back on
Lisa memandangi cowok-cowok yang sedang bermain basket dilapangan. Dia melihat cowok ganteng idolanya yang sedang duduk dipinggir lapangan mendekat, meskipun tau cowok itu tergila-gila pada Rea tapi Lisa tetep bersikeras menjadi fansnya, hubungan pertemanannya dengan Rea pun sudah dibilang lebih kokoh dari besi baja, bukannya ada kalimat yang berbunyi bertengkarlah 1000 kali dengan temanmu jika setelahnya hubungan pertemanan kalian masih bisa kembali seperti biasa maka dia teman sejatimu, seperti itulah hubungan mereka.
Apalagi baik Rea maupun Lisa bukan tipe pendendam, mereka gadis yang menyenangkan untuk diajak berteman, lagipula Rea juga belum tentu suka kepada cowok yang sekarang sudah tepat berdiri didepannya.
"Apa kalian hari ini dihubungi Rea?" tanya Arkan ke Lisa dan ivy yang dari tadi duduk menikmati pemandangan Indah dan keren versi mereka.
"Aku tadi pagi baru berbalas chat dengan Rea, dia bilang sekolahnya baik-baik saja tapi dia yang tidak baik."
Lisa dengan santainya menjawab pertanyaan dari Arkan sambil memegang permen lollipop yang dia keluarkan dari mulutnya untuk menjawab pertanyaan cowok itu tadi, kemudian memasukkannya lagi kedalam mulutnya setelah selesai berbicara.
Tanpa berkata apapun Arkan berlari menuju tempat duduknya tadi terlihat mengambil celana sekolahnya mengeluarkan HP dari kantongnya.
"Kayaknnya dia kuatir banget sama Rea," ucap Ivy.
__ADS_1
"Padahal aku naksir dia, tapi kenapa aku sama sekali ga cemburu meskipun tau dia sangat perhatian sama Rea," ucap Lisa sambil menggelengkan kepalanya.
Flash back off