
Sabtu siang, Rea Sudah diantar pak Rahmat ke My Cafe untuk berkumpul latihan dengan kelompoknya. Rea minta ditinggal karena tidak tau berapa lama waktu yang di butuhkan untuk latihan hari ini.
Gadis itu melihat sekeliling saat sudah berada didalam kafe, ternyata satupun teman kelompoknya belum ada yang datang, ia sudah hampir duduk dan memesan minuman, tapi seseorang muncul dan memanggil namanya dari atas anak tangga.
"Re, ayo naik aja!"
Suara ajakan itu berasal dari Elang, Rea kemudian naik sesuai dengan apa yang diperintahkan cowok itu.
Ternyata diatas kafe masih ada sebuah tempat, terlihat satu ruangan tertutup dan satu tempat terbuka seperti balkon, Rea berjalan ke arah bagian terbuka, mendekat ke pagar pembatas, gadis itu mencoba merasakan hembusan angin siang yang tak entah kenapa tidak begitu panas menurutnya, rambutnya tertiup angin lembut, membuat orang yang sedang menatapnya merasa berdebar.
"Sial, Kenapa dia terlihat cantik saat rambutnya tertiup angin," gumam Elang.
"Apa tidak panas berdiri disitu?" tanya Elang mengembalikan kesadaran diri Rea dari lamunan.
Rea memalingkan wajahnya menatap ke arah Elang, helaian rambutnya tersibak menutupi sebagian wajahnya, buru-buru ia merapikan rambutnya dengan kedua tangannya.
"Sial!kenapa aku jadi deg degan kayak gini," batin Elang.
Rea kemudian mendekat ke arah Elang, cowok itu berdiri didepan pintu ruangan yang tertutup tadi, ternyata di dalam terlihat sangat nyaman ruangan itu ber AC terdapat sofa dan beberapa alat musik disana.
"Ini pasti basecamp rahasia Elang?" tanya Rea sambil tersenyum masuk dan melihat kedalam ruangan itu.
"Kadang aku ga pulang kerumah, jadi tidur disini," ucap Elang sambil melihat ke arah sofa yang ada disana.
__ADS_1
"Jadi ini seperti rumah keduamu? aku pikir aku saja yang punya rumah kedua."
Elang yang tidak mengerti maksud perkataan Rea kemudian bertanya.
"Apa?"
"Ha? Enggak, ga apa-apa," jawab Rea cepat sebelum Elang bertanya pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya.
Gadis itu kemudian menghampiri alat musik keyboard yang dia lihat dari tadi, jemarinya mulai memainkan sebuah nada musik klasik tetapi berhenti karena Ia tiba-tiba lupa nada itu ditengah-tengah, Rea hanya tersenyum sambil mengangkat jemarinya dari alat musik itu. Elang mendekat kemudian memainkan nada yang Rea lupa tadi.
"Kamu tau nada ini?" seru Rea, matanya berbinar menatap wajah cowok yang sekarang sedang berdiri disampingnya.
"Tentu, ini salah satu nada musik klasik kesukaanku," jawab Elang.
"Sama, aku suka dengan nada musik ini, entah kenapa menenangkan saat aku merasa kesepian, aneh sekali padahal nadanya terdengar sedih bukan?" Rea menatap ke arah Elang dengan senyuman sedikit sendu.
Rea hanya menatap mata cowok disebelahnya itu dengan sorot bingung.
"Apa kamu pernah merasa kesepian?" tanya Rea penasaran.
"Tentu," jawab Elang singkat.
"Kamu pasti punya orang tua yang menyayangimu? Kenapa masih merasa kesepian?" tanya Rea heran.
Elang menyunggingkan senyum "Lalu apa kamu tidak punya orang tua?"
__ADS_1
"Punya, tapi mereka tidak menyayangiku, ayahku bahkan lebih menyayangi anak yang belum pernah ditemuinya, dari pada aku."
Elang hanya terdiam, ada perasaan aneh didalam hatinya melihat perubahan ekspresi di wajah Rea. Mereka saling pandang satu sama lain. Cowok itu tidak mengerti maksud perkataan Rea, tapi entah kenapa ada perasaan bersalah yang tiba-tiba melintas dihatinya.
❤❤❤❤❤
Teman kelompok mereka yang lain sudah datang. Elang sempat mengirimkan pesan, meminta mereka langsung saja naik ke lantai atas setelah sampai di kafe, tanpa Elang sadari ketiga teman kelompoknya sudah berdiri sedari tadi didepan pintu, melihat dirinya dan Rea yang saling memandang satu sama lain.
"Ehemm!" Randy pura-pura batuk, membuat Elang dan Rea terkejut.
"Kalian sudah sampai?" tanya Rea untuk menutupi rasa malunya.
Elang terlihat salah tingkah, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, ia lalu mempersilahkan ketiga temannya masuk.
Mereka berlima benar-benar latihan dengan serius apalagi Rea, gadis itu ingin kelompoknya mendapat nilai sempurna, dia tidak ingin membuat kesalahan yang bisa merugikan teman sekelompoknya.
Rea berkali kali membenarkan rambutnya yang mengganggu sambil terus latihan bernyanyi, Elang yang memainkan gitar sesekali melirik ke arah gadis itu kemudian tersenyum sendiri, melihat rambut Rea yang mengganggu Cindy memberikan ikat rambut untuk temannya itu.
"Lihatlah gadis aneh itu, bukannya dia bisa meletakkan catatan liriknya, kemudian mengikat rambutnya, kenapa harus menggigit catatan itu di mulutnya sambil mengikat rambutnya?" batin Elang dalam Hati
Setelah selesai mengikat rambutnya, Rea meneruskan latihannya, mengikuti sampai mana lirik yang sedang dinyanyikan temannya.
❤❤❤❤❤
Selesai latihan mereka berlima turun ke lantai satu kafe, Rea menuruni anak tangga disusul Elang dibelakangnya, gadis itu tiba-tiba berhenti tepat di pertengahan anak tangga, Elang yang merasa kaget menabrak badan Rea dengan dadanya membuat gadis itu terdorong, cowok itu kemudian memegang tangan Rea dengan tangan kirinya, tangan kanannya dia pake bertumpu pada pegangan anak tangga, memegang erat karena gadis itu hampir saja jatuh terjerembab.
__ADS_1
Rea terhenyak kaget kemudian berbalik. Matanya bersitatap dengan mata cowok yang tengah memegangi dirinya, mereka sangat dekat seperti hampir berpelukan karena Elang sudah memegang badan Rea erat menggunakan kedua tangannya. Mereka diam dalam posisi seperti itu di atas tangga untuk beberapa saat, tapi buru-buru Elang melepaskan tangannya saat melihat Rea sudah bisa berdiri sendiri dengan stabil.