Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 76 Sahabat jadi Cinta


__ADS_3

Ditengah menikmati pemandangan bukit bintang, Rea tiba-tiba di


memegangi perutnya


"Sudah lapar?" tanya Elang


Gadis itu hanya tersenyum malu, kemudian mereka duduk disalah satu tempat makan lesehan yang ada disana, Elang memesan masakan seafood sementara Rea memilih memesan nasi goreng.


Seorang pelayan datang meletakkan makanan yang mereka pesan diatas meja.


"Arkan ga bisa tuh makan udang" Rea menatap udang asam manis yang dipesan Elang


"Apa dia punya alergi juga?" tanya Elang


Rea terdiam berfikir "kenapa bisa Arkan muncul lagi ditengah pembicaraan nya dengan Elang"


Elang menatap Rea yang terdiam


"Hem.. Iya" Jawab Rea pelan kemudian mulai menyantap makanan didepannya


*****


Jam 19.30 mereka sudah dalam perjalanan pulang menuju kafe milik keluarga Elang, karena Rea sudah janji bertemu dengan Cindy, Vira dan Sevia untuk memberikan pajak jadian ke mereka.


Rea mengecek HPnya ada pesan ternyata ada pesan dari mamanya


Lidia :" mama udah telpon orang tua teman kamu, mereka semua diijinin"


Rea :" makasih ya ma, Rea sayang mama"


Lidia :"idih kalau maunya dapet aja bilang sayang"


Rea : "hehehehe"


Lidia :" kamu udah balik belum dari pantai? baru keluar rumah sakit udah kluyuran sampai malam"


Rea :"ini udah balik ma, tapi mau masih nongkrong dulu di kafe bentar"


Lidia :"oh ya nanti mampir beli martabak telor sama manis ya buat mama"


Rea :"oke Ma siap"


Rea terlihat tersenyum sendiri, membuat Elang melirik ke arah gadis itu


"Siapa lagi?" tanya Elang


"Mama" ucap Rea sambil memasukkan HPnya ke kedalam tasnya "minta dibeliin martabak"


"Malam-malam begini? apa mama mu tidak diet seperti yang lain,dia kan artis, model juga, Iya kan?" tanya Elang penasaran "bukannya artis atau model harus benar-benar menjaga bentuk tubuhnya?"


"Wah apa kamu mau nunjukin ke aku kalau kamu cowok banget" ledek Rea


Elang mengernyitkan dahi "maksudnya?"


"Kamu ga pernah nonton acara gosip kan pasti? kalau kamu nonton kamu pasti tau mamaku sudah mengundurkan diri dari dunia ke artisan" ucap Rea


"Hem.. Kenapa Re? bukannya tante Lidia masih muda?" tanya Elang


"Katanya sih udah capek" Rea menyandarkan punggungnya dikursi mobil


"Oh ya ngomong-ngomong kayaknya kamu ga pernah membicarakan tentang papamu?" pertanyaan Elang membuat Rea menegakkan kembali badannya

__ADS_1


"Ayah, aku manggil nya ayah" ucap Rea


Elang mengangguk


"Apa karena seperti yang pernah kamu ceritakan saat berada di deck kapal waktu itu, bahwa ayahmu tidak menyayangimu?"


Gadis itu menatap Elang tersenyum kecut "hem.. Iya, seumur hidup ayahku sama sekali tidak pernah memelukku"


"Apa aku boleh tau apa alasannya?" tanya Elang lagi


"Dia bilang aku bukan anak kandungnya"


Sontak Elang terkejut dengan apa yang baru saja gadis itu ucapkan


"Tapi aku juga tidak berani bertanya baik ke ayah atau ke mama, aku ini anak siapa" Rea memiringkan badannya ke arah Elang


"Bagaimana kalau aku anak pungut Lang, atau lebih parah nya anak Haram?"


"Hussss... jangan ngomong gitu" Elang menatap sekilas wajah Rea kemudian kembali fokus menyetir


"Tapi Re bukankah kita bernasip sama kalau gitu" tanya Elang kemudian


"Bernasip sama?" Rea terlihat sedikit berfikir


"Kok bisa?"


"Coba pikir kita sama-sama tidak tau siapa ayah kandung kita" ucap Elang yang membuat bibir Rea tiba-tiba menjadi kelu, gadis itu terdiam sejenak


"Lang apa aku boleh tanya?"


"Apa?"


Sekarang gantian Elang yang terdiam cukup lama


"Jujur aku tidak ingin bertemu orang yang selama ini sama sekali tidak memperdulikan aku"


Rea terdiam, perasaan kawatir dan takut tiba-tiba muncul di hatinya


"Tapi jika memang diberi kesempatan bertemu, aku malah ingin mengucapkan terima kasih kepadanya " cowok itu menatap ke arah Rea


"Terima kasih?" tanya Rea


"Iya, terima kasih karena dia aku bisa lahir ke dunia ini dan bertemu dengan mu" cowok itu tersenyum, tapi Rea memalingkan wajahnya ke arah jendela, mencoba menguasai emosi nya saat ini.


"Pemandangan malam nya bagus" ucap Rea berusaha membuat Elang tidak curiga dengan perubahan ekspresi di wajahnya


Perjalanan pulang mereka terasa lebih cepat, Jam 21.30 mobil Elang sudah terparkir didepan kafe milik mamanya


Rea masuk kemudian menghambur ke arah meja dimana Sevia dan Vira duduk sementara Cindy masih sibuk bekerja karena malam minggu kafe sangat ramai.


Gadis itu memutar kepalanya, melihat kafe yang ramai, matanya berhenti saat melihat Arkan ada disana duduk bersama Kinanti. Mata mereka bertemu tapi gadis itu segera memalingkan wajahnya kembali menatap dua orang temannya.


Elang berjalan mendekati Rea sambil memegang kunci mobil ditangannya " aku kesana dulu ya"


Rea melihat kearah yang ditunjuk Elang, tante Maya sedang duduk didekat meja kasir, menatap ke arah mereka, Rea tersenyum menundukkan sedikit kepalanya, tante Maya juga melakukan hal yang sama.


"Kamu mau pesen ga Re" ucap Cindy yang datang dari arah belakang Rea


"Milk shake vanilla ya Sin kayak biasanya " ucap Rea kemudian melihat ke arah Sevia dan Vira "kalian ga pesen apa-apa? buruan pesen aku bayarin semua"


Sontak kedua gadis itu senang, memesan semua cemilan dan makanan yang mereka inginkan.

__ADS_1


Rea menatap tas milik temannya "kalian bawa baju ganti kan?" tanya Rea


"Iya donk karena mama mu sendiri yang telpon aku jadi di ijinin" ucap Sevia, Vira ikut menganggukkan kepalanya


"Cindy juga bilang dia boleh menginap" ucap Sevia


Rea menoleh ke arah Cindy yang sedang bekerja, berfikir kalau temannya yang satu itu benar-benar sangat pekerja keras, tiba-tiba matanya kembali bertemu dengan mata Arkan, cowok itu sama sekali tidak mendekatinya, bertanya atau menyapanya. Rea juga ingin berpura-pura tidak melihat Arkan disana.


"Apa kamu bahagia bisa pergi kencan berdua" Rea dan Arkan memikirkan kalimat yang sama dipikiran mereka masing-masing


"Ishhhhh.. dasar pembohong" ucap Rea


"Kamu ngomong apa Re?" tanya Sevia


"Ah enggak kok ga ngomong apa-apa" Rea merapatkan bibirnya


Seperti biasa di malam minggu pasti ada life musik dari band lokal di my Cafe.


Rea membalikkan badannya saat mendengar suara mic yang di ketuk, gadis itu antusias melihat band yang tadi sempat beristirahat kembali kepanggung, sang vokalis bertanya apakah pengunjung disana ada yang ingin request lagu.


Elang terlihat mengangkat tangan kanannya.


"Sahabat jadi cinta Zigas" ucapnya sambil melirik ke arah Rea


Sang vokalis kembali bertanya "untuk siapa lagu ini dipersembahkan bro?"


"Rea" ucap Elang sambil melihat ke arah Rea


Sontak semua mata tertuju pada gadis ber sweater nude pink yang duduk di sudut kafe.


Semua yang ada disana bersorak, pipi Rea menjadi bersemu merah, tapi saat vokalis band itu menyanyikan liriknya, Rea malah menoleh dan saling pandang dengan Arkan.


*Kudapati diri makin tersesat


Saat kita bersama


Desah napas yang tak bisa dusta


Persahabatan berubah jadi cinta


Satu kata yang sulit terucap


Hingga batinku tersiksa


Tuhan, tolong aku jelaskanlah


Perasaanku berubah jadi cinta


Tak bisa hatiku menafikan cinta


Karena cinta tersirat bukan tersurat


Meski bibirku terus berkata tidak


Mataku terus pancarkan sinarnya*


Gadis itu memalingkan wajahnya, mengambil minuman dimejanya, tersenyum ke arah Sevia dan Vira, kemudian berbalik lagi masih memegang gelas milk shake nya, menggigit sedotan nya, tersenyum ke arah Elang.


Sementara mata Arkan masih terus menatap ke arah Rea.


Tak terasa jam sudah menunjukkan hampir jam 11 malam, mereka kemudian pergi ke rumah Rea naik taxi, untuk menginap disana.

__ADS_1


__ADS_2