Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 8 Sekolah Baru


__ADS_3


Pagi di rumah Rea, sarapan sudah terhidang diatas meja hanya untuk dia sendiri, ia duduk sambil menatap makanan didepannya, menyentuh sendok kemudian meletakkannya kembali, gadis itu berjalan menuju dapur mengintip didepan pintu, pak Rahmat, bi Ulfa dan mba Anisa sedang sarapan bersama dikursi dapur sambil saling bercengkrama satu sama lain.


"Kenapa mereka sarapan disitu sih bukannya dimeja makan," gumam Rea.


"Apa kalau di rumah kakek mereka juga makan di dapur seperti itu?"


Gadis itu menghela napas panjang, bahkan dirumah barunya dia tidak mendapat kehidupan baru seperti saat dia tinggal dirumah kakeknya.


Mobil melaju ditengah jalan yang tengah ramai, saat di lampu merah Rea melihat motor yang dilihatnya kemarin berada didepan mobil yang ada disebelah mobilnya. Tiba-tiba saja gadis itu membayangkan membonceng motor sport dibelakang Arkan, selama ini dia belum pernah sama sekali dibonceng cowok bahkan Arkan sekalipun. Dia tertawa geli sendiri sampai pak Rahmat menoleh kebelakang.


"Non Rea ngetawain apa?" tanya laki-laki itu.


"Enggak ada kok pak, cuma pengen ketawa aja, oh ya kok manggil aku non lagi, udah dibilang panggil Rea aja," gadis itu sudah menggelembungkan pipinya.


Pak Rahmat tersenyum melirik dari kaca spion depan.


"Kenapa mba Anisa ga bareng kita aja pak? kan mba Anisa juga ngajar di SMA 3. "


"Anisa kan bawa motor Non," jawab Pak Rahmat.


Lagi-lagi Rea menggelembungkan pipinya, cemberut.


"Iya maaf Re." pak Rahmat agak sungkan menyebut nama majikannya itu.


"Apa aku minta motor ke kakek yak pak? eh.. ga ga, minta ke om Andi," ia membenarkan kalimatnya sendiri karena sadar apa yang dia minta memang selalu dipenuhi kakeknya, tapi pasti ujung-ujunya pria itu tetap memintanya untuk bilang ke Andi.


"Kalau Rea naik motor,"


Pak Rahmat terlihat sudah lancar manggil nama Rea tanpa menggunakan imbuhan "non" didepannya.


"Bapak kehilangan kerjaan donk?" ucap laki-laki yang sudah tiga tahun ini menjadi sopir pribadi yang mengantar jemput Rea pulang sekolah. Ia berbicara sambil menghentikan mobil tepat didepan gerbang sebuah sekolah.


Rea menatap keluar jendela, melihat siswa lain yang sudah datang masuk ke gerbang sekolah, mereka terlihat berjalan bergerombol berbicara sambil tertawa- tawa, ada yang sibuk dengan smartphone ditangan, juga ada yang berlari buru-buru seperti dikejar setan, tapi yang paling menyita perhatian gadis itu adalah barisan siswa yang sedang antri masuk ke parkiran dengan menuntun motor mereka.


"Kenapa ga dinaikin aja sih motor nya?" pikir Rea

__ADS_1


Ia keluar dari mobil, berjalan menuju jendela depan menoleh kearah dalam, pak Rahmat menurunkan kaca jendela mobil.


"Pak Rahmat, ga jadi minta montor lah, liat tuh, bisa keringetan sebelum jam pelajaran aku ntar," ucap gadis itu sambil menunjuk kearah yang dia maksud dengan dagunya, tangannya terlihat membenarkan letak tas di punggungnya.


Pak Rahmat agak melongok sedikit melihat apa yang nonanya katakan. lalu tertawa sebelum menganggukan kepalanya kemudian membawa mobil pergi dari sana.


Rea berjalan masuk gerbang sekolah barunya, beberapa anak berbisik menatap ke arahnya, ia merasa anak-anak itu sedang membicarakan dirinya, gadis itu melihat dari sepatu, tas dan kemudian merapikan rambutnya, mencoba mengecek apa mungkin ada yang salah dibadan atau bajunya, tiba tiba pandangan anak-anak yang sedang berbisik itu berubah arah, seorang cowok berbadan tegap melewati Rea dengan kerennya, ia hanya memandang punggung cowok itu tanpa sempat melihat wajahnya


"Jaketnya familiar," ucap Rea dalam hati.


Gadis itu tersadar, dia ingat pesan Andi kalau sampai sekolah harus langsung menuju ke ruang Guru lebih dulu.


Sampai didepan ruang Guru, ia mengetuk pintu, seorang laki-laki yang sudah terlihat banyak uban dirambutnya mendekat.


"Rea ya?" sapa pak Alif yang namanya jelas tertera di name tag yang tergantung di bajunya.


"Kepala sekolah," baca Rea dalam hati melihat lanjutan di nametag bapak didepan nya.


"Bu Anisa" pak Alif memanggil nama yang tidak asing ditelinga Rea.


Rea tersenyum melihat Anisa yang berjalan mendekat. Dia merasa sedikit lega setidaknya ada yang dia kenal disekolah barunya.


Rea mengangguk paham, mereka saling melempar senyum kemudian berjalan ke arah Kelas XI-2 setelah berpamitan ke sang kepala sekolah.


"Re, kamu emang belum dapat seragam apa?" melihat rok seragam Rea yang berbeda dari siswi disana dan jelas menandakan seragam sekolah swasta.


"Ya Tuhan mba, pantes pada ngliatin aku tadi didepan, aku ga nyadar sama sekali," ucapnya polos.


Anisa ketawa geli melihat ABG didepan nya baru menyadari kesalahan kostumnya.


"Nanti ke ruang TU aja minta seragam, kamu pasti kan udah bayar penuh pas pindah kesini."


Rea hanya mengangguk


"mana aku tau mba, semua yang ngurusin om Andi"


Selang beberapa menit, mereka sudah sampai didepan kelas XI-2, Anisa sudah hampir membuka pintu kemudian melihat ke arah gadis disampingnya.

__ADS_1


"Kalau disini jangan panggil aku Mba ya," pinta Anisa.


"Oke, Bu Anisa," bisik Rea sambil membuat simbol OK dengan jarinya.


Anisa masuk kedalam kelas diikuti Rea, mereka berdiri didepan kelas, siswa-siswa yang tadi ribet dan berkeliaran didalam kelas seketika diam melihat guru mereka masuk. Siswa laki-laki mulai antusias dan penasaran melihat siapa yang ada disamping Bu Anisa.


"Pagi anak-anak, perkenalkan ini siswi pindahan yang akan menjadi teman baru kalian, silahkan perkenalkan diri kamu Re," lanjut Bu Anisa.


Semua mata sontak tertuju pada Rea. Gadis itu sedikit kikuk karena menjadi pusat perhatian seluruh kelas sekarang.


"Halo... perkenalkan nama aku Andreadina Bumi Pradipta, kalian bisa panggil aku Rea, semoga kita bisa jadi teman baik," Rea sedikit membungkukkan badan.


"Kalau jadi pacar boleh ga?" cletuk salah satu siswa laki laki diikuti sorakan dari teman teman nya.


"Huuuuu....." teriak yang lain menyebabkan kegaduhan didalam kelas.


Bu Anisa hanya tertawa sambil meminta muridnya untuk memelankan volume suara mereka dengan gerakan tangannya.


"Apa ada lagi yang pengen Kalian tanyakan ke Rea?" tanya bu Anisa.


"Ngapain anak kota jauh jauh pindah ke sini?"


Tiba tiba dari pojok kelas terdengar suara, cowok yang dari tadi memakai tangannya untuk bantal tidur mengangkat kepalanya, melihat kedepan lalu melihat rok Rea yang memang mencolok berbeda, bukan tipikal rok sekolah SMA biasa.


Semua siswa menoleh ke arah cowok itu kemudian beralih memandang Rea.


"Karena ayahku dipindah tugaskan kesini jadi aku ikut pindah," jawab Rea sekenanya, ia agak sedikit grogi apalagi melihat pandangan mata dari cowok yang melempar pertanyaan itu kepadanya.


"Please Rea, masa jawab pertanyaan gini aja kamu sampe gemetar. "


Cowok itu memandang Rea, menaikkan kedua alisnya, dan sedikit membuat senyuman aneh dibibirnya. Kemudian menyandarkan punggung di sandaran kursinya, menguap.


"Cih.. sok keren" gumam Rea.


"Elang, kalau kamu ngantuk cuci muka sana!" hardik Bu Anisa ke siswa nya itu.


Cowok itu berdiri, berjalan menuju pintu, melewati Rea yang masih berdiri didepan dengan pandangan aneh.

__ADS_1


"Sekarang kamu bisa duduk disebelah sana! " bu Anisa menunjuk sebuah kursi kosong.


Rea mengangguk kemudian menuju bangku yang ditunjuk wanita itu.


__ADS_2