Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 96 : Apple to Apple


__ADS_3

Pembagian hasil belajar siswa telah selesai, tidak sampai pukul sebelas siang seluruh siswa sudah diperbolehkan pulang, sebagian memilih langsung pulang dan sebagian masih disekolah untuk mengobrol dengan teman mereka karena tiga minggu kedepan mereka akan berpisah untuk sementara waktu.


Sevia berkata liburan ini tidak akan pergi kemana-mana, begitu juga Cindy yang harus tetap bekerja disela libur kenaikan kelasnya, sementara Vira berkata mungkin dia akan pergi kerumah neneknya yang berada diluar pulau, Rea hanya diam mendengarkan cerita ketiga temannya, gadis itu tidak bercerita kalau dirinya akan berlibur ke Spanyol bersama ayahnya.


Elang masuk kedalam kelas mengambil tasnya dibangku kemudian mengajak Rea untuk pulang, gadis itu berpamitan kepada ketiga temannya lalu mengekor dibelakang Elang yang sudah berjalan mendahuluinya. Sambil berjalan bersebelahan cowok itu mengajak pacarnya mengobrol.


"Apa kamu sudah packing?"


"Belum, aku mau meminta bantuan mama memilih beberapa baju dan barang apa yang harus aku bawa, paling nanti setelah sampai rumah."


"Apa ini kali pertamamu pergi keluar benua?"


"Hem, liburanku keluar negeri tidak pernah jauh-jauh dari benua Asia."


"Oh ya aku sedikit membaca soal Alhambra, ternyata cukup tragis cerita dibaliknya, tapi sepertinya lebih tragis cerita kita."


Rea menggigit bibir bawahnya mendengar ucapan kakak laki-lakinya itu.


"Bagaimana bisa cerita kita kamu bandingkan dengan Alhambra, itu tidak apple to apple," ucap Rea.


"Aku tau, intinya lebih tragis hubungan kita," ucap Elang sambil terus berjalan dan tidak menyadari bahwa Rea berhenti melangkah.


Elang tersadar bahwa gadis itu tertinggal dibelakangnya, dia berbalik kemudian mengulurkan tangan kanannya, cowok itu tau kalau gadis itu tidak suka dengan apa yang baru saja diucapkannya.


Elang menggerakkan tangannya, gadis itu masih terdiam sampai ia berucap maaf baru Rea berlari menerima uluran tangannya.


"Jangan berkata hubungan kita tragis, kita sudah sepakat untuk membuat kenangan indah ditengah-tengah," ucap Rea.


Cowok itu tersenyum, mereka berjalan menuju penitipan motor diluar sekolah, Elang menganyunkan gandengan tangannya ke Rea layaknya seorang anak kecil.


❤❤❤❤❤


Sore hari di rumahnya Rea benar-benar meminta sang mama untuk membantunya packing, Lidia dengan senang hati memilihkan beberapa baju dari lemari anaknya, ia senang saat Rea bercerita bahwa ayahnya mengajak liburan bersama, akhirnya Farhan ingin menunjukkan rasa sayangnya juga ke anak gadisnya begitu pikir Lidia.


Rea melihat mamanya yang antusias memasukkan satu persatu baju kedalam koper berwarna pink miliknya, Lidia juga menyarankan Rea untuk membawa flat shoes dan sneaker saja, wanita itu juga berpesan agar anaknya selalu membawa lip balm di dalam tasnya.


Rea mengiyakan nasihat mamanya, lalu dengan sedikit ragu ia menanyakan perihal ucapan mamanya kemarin, yang berkata sudah bercerai dengan ayahnya.


"Apa mama tidak sedih?"

__ADS_1


"Apa kamu sedih?" Lidia malah melempar balik pertanyaan dari anaknya.


"Sedih, karena aku berharap kita bisa menjadi satu keluarga yang utuh, tapi aku lebih sedih kalau mama harus menderita jika masih menjadi istri ayah."


Lidia terlihat menghentikan kegiatannya menata baju dikoper Rea, memalingkan wajah ke arah Rea sambil tersenyum, wanita itu menghela napas kemudian melanjutkan apa yang sedang ia kerjakan.


Rea menatap wanita yang melahirkannya itu lekat, ia melihat mamanya jauh berbeda, jika dulu selalu berpenampilan glamour sekarang wanita yang melahirkannya itu lebih suka berdandan natural, bahkan sekarang mamanya terlihat sangat santai hanya menggunakan celana pendek dan kaos berwarna putih polos.


Gadis itu kemudian melompat dari ranjang yang dia duduki sedari tadi sambil melihat mamanya yang sibuk menata koper miliknya, berlutut dibelakang mamanya yang tengah berjongkok kemudian memeluk wanita itu.


"Aku sayang mama," ucapnya sambil mencium pipi sang mama.


Ucapan anak gadisnya itu membuat Lidia terharu, bahkan dia hampir meneteskan air mata.


"Terima kasih meskipun mama tau ayah tidak menginginkan aku dulu, mama tetap mau mengandung dan melahirkan aku," ucap Rea sambil mempererat pelukannya dibahu Lidia.


Air mata Lidia menetes, tapi buru-buru ia hapus dan berbalik menatap anak gadisnya.


"Memiliki kamu adalah anugerah terindah dari Tuhan untuk mama, jadi tidak perlu memikirkan hal seperti itu lagi," Lidia membelai pipi Rea, menatap mata anaknya, yang baru dia sadari sangat mirip dengan mata laki-laki yang sangat dicintainya.


"Mama ingin kelak kamu bisa hidup bahagia dengan laki-laki yang kamu cintai, jangan hidup seperti mama, oke!"


Lidia tersenyum lalu menutup koper yang sudah selesai dia isi dengan perlengkapan yang ia rasa dibutuhkan oleh Rea, sementara gadis itu memilih berdiri kemudian menghampiri Arkan.


❤❤❤❤❤


Mereka berjalan menuruni anak tangga menuju meja makan, Rea masuk kedapur mengambil minuman dari dalam kulkas, saat berpapasan dengan Anisa gadis itu menggoda gurunya yang akan menikah tahun depan.


Rea meletakkan minuman didepan Arkan, sambil memandangi wajah cowok itu.


"Apa?" tanya Arkan melihat Rea yang matanya berputar menjelajahi wajahnya.


"Aku sedang memastikan apakah ada bekas luka dimukamu, jangan sampai ada belang diwajah berhargamu itu," ucap Rea sambil masih memandangi wajah Arkan.


Cowok itu mendecih mendengar ucapan Rea.


"Jangan berkelahi lagi hanya untuk membelaku, aku tidak ingin bertanggung jawab menikahimu kalau sampai tidak ada gadis yang mau denganmu karena mukamu tidak mulus lagi."


"Hah....."

__ADS_1


Rea tertawa melihat sahabatnya itu kesal mendengar ucapannya.


"Berapa hari kamu akan berlibur di Spanyol?"


"Kata ayah enam hari, setelah itu aku mau tinggal beberapa hari dirumah ayah."


Arkan kemudian berdiri memegang pergelangan tangan Rea "Ayo kita pergi jalan-jalan, setidaknya saat aku memikirkan dirimu sedang bersenang-senang dengan Elang di Spanyol, aku bisa mengingat apa yang akan kita lakukan."


Rea kaget, tangannya masih memegang minuman, cowok itu sudah menariknya ke atas untuk mengambil tas dan berpamitan ke mamanya.


❤❤❤❤❤


Arkan mengajak Rea kesebuah benteng yang terletak di komplek perumahan gubernur kota itu.


"Ini bukan Alhambra, tapi anggap saja seperti itu, bukankah sama-sama ada bangunan benteng."


Rea mencebikkan bibir mendengar ucapan Arkan, ia merasa hari in kedua cowok yang disayanginya sama-sama membandingkan sesuatu yang tidak apple to apple.


"Beda tau Ar, Alhambra pasti jauh lebih romantis."


"Kamu salah, romantis atau tidak itu tergantung kamu pergi bersama siapa," jawaban Arkan membuat gadis itu diam seketika.


Melihat Rea yang terdiam dan berhenti berjalan Arkan menghentikan langkahnya menaiki anak tangga benteng itu, Ia kemudian mengulurkan tangannya ke arah gadis yang sangat disukainya itu.


"Untukku pergi kesini bersamamu saja sudah sangat romantis," ucap Arkan.


Cowok itu menggerakkan tangannya seperti yang Elang lakukan tadi pagi, Rea tersenyum meraih tangan sahabatnya itu kemudian mengikuti langkah Arkan naik keatas benteng.


Mereka melihat pemandangan jalan dan bangunan yang ada disekitar benteng.


"Romantis kan?"


"Hem...,"



Picture credit : Benteng Vredeburg from detik.com


Note dari aku : lebih romantis kalau malam hari, sayang susah nyari foto nya dimalam hari ❤❤ 😁😁

__ADS_1


__ADS_2