Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 63 Pedih


__ADS_3

Senin pagi Rea bangun agak terlambat, dia berlari menuruni anak tangga, ingin melewatkan sarapan. Melihat Arkan yang santai duduk sambil meminum segelas jus berwarna pink membuat Rea heran.


"Ayo berangkat nanti telat upacara"


Arkan masih santai menikmati sarapannya.


"Makanya kalau bolos jangan lama-lama, terus nanya kek ga langsung panik sendiri, hari ini ga ada upacara " ucap Arkan enteng


Rea terdiam menyadari kekonyolannya


"Kenapa ga bilang dari kemarin sih?"


Gadis itu meletakkan tasnya duduk dikursi makan, memakan sarapannya sambil cemberut.


"Mama nanti ke sekolah jam 10an ya" ucap Laras ke anaknya


Arkan hanya menganggukkan kepala sudah berdiri menenteng tasnya


"Pake celana panjang sana gih" perintah nya ke Rea


"Buat apa?"


"Hari ini berangkat bareng aku aja"


"Emang pak Rahmat kemana?"


"Mobil mau dipakai mama sama tante Lidia"


"Terus ngapain harus pake celana"


"Ya biar kamu nyaman boncengnya"


"Aku kan bisa bonceng miring" ucap Rea sambil berpamitan ke Laras dan mamanya yang baru turun dari kamar


"Ga takut jatuh? "


"ga udah pernah" gadis itu berjalan keluar


"bonceng siapa?"


"Elang"


Sontak Arkan kaget mengejar Rea yang udah hampir tidak terlihat punggung nya. Lidia menggaruk belakang rambutnya sambil menggelengkan kepala menatap ke arah Laras.


Arkan menyodorkan helm yang dia pinjam dari Bi Ulfa.


"Beli helm kek, ga ada keren-keren nya tau aku pake helm punya Bi Ulfa" Rea cemberut


"Iya ntar beli, sekarang pake ini dulu aja, ga bakal Ilang cantik nya"


Rea masih cemberut


*****


Sampai di sekolah Rea kaget Arkan memarkirkan motor nya disebelah toko foto copyan, dia melihat motor Elang sudah ada disana.

__ADS_1


"Kamu tau dari mana bisa nitip parkir motor disini?" Rea bertanya sambil mencoba melepaskan helm dikepalanya


Arkan yang melihat gadis itu kesusahan membantu melepaskan helm


"Tau dari Elang" jawabanya sambil membantu merapikan rambut Rea yang agak sedikit berantakan.


Mereka berjalan masuk ke gerbang sekolah, Rea langsung berjalan ke kelasnya sementara Arkan harus ke ruang BK memberi tahu Bu Ambar kalau mamanya akan kesekolah sekitar pukul 10 nanti.


Rea masuk kedalam kelas, melihat teman-teman nya yang sedang duduk menunggu bel masuk, beberapa ada yang sedang memegang HP, Rea melihat Elang duduk dibangkunya menatap keluar jendela.


"Re" teriak sevia melihat Rea yang sudah berdiri didepan pintu, membuat Elang menatap ke arah gadis itu


Sevia buru-buru meminta Rea duduk, kemudian memperlihatkan apa yang sedang dia lihat di ponselnya.


Rea heran ternyata teman nya ini mengikuti sebuah akun gosip. Rea terbelalak melihat postingan akun itu 18 jam yang lalu. Foto dimana dia bertemu Elang setelah selesai jogging di sekitar komplek rumahnya.


Caption dibawah foto tersebut membuat Rea terbelalak


Ternyata anak gadis mba Lidia cantik banget yesss, apalagi cowoknya uluhhh uluhhhh mimin mau donk jadi selingkuhannya


Tangan Rea bergerak melihat beberapa komen, terutama komen yang banyak mendapatkan like


*Aku juga mau min jadi selingkuhannya


Mau donk jadi motornya biar bisa nemenin kemana-mana


Cantik lah anak artis


Itu ngapain sih didepan gerbang ga bisa woi pacaran ga disitu*


Dan masih banyak komen lain yang sebagian baik, tapi sebagian menghina dan menghakimi


Rea kembali terbelalak dengan caption yang diberikan pengelola akun itu ke fotonya bersama Arkan


Anak mba Lidia cowoknya banyak kali ya, mimin iri nih bisa bagi satu ga buat mimin, mimin jomblo nih, yang kemarin atau yang ini juga gapapa


Lebih parah komen-komen dibawahnya


*Sok kecantikan ya ni anak mentang-mentang anak artis


Ibunya pembohong anaknya tukang selingkuh


Cantik mukanya hatinya ga


Cewek gampangan*


Rea mengambalikan HP Sevia, dia sudah hampir menangis mendapat banyak penghakiman dari orang yang bahkan tidak mengenalnya, Sevia yang melihat perubahan wajah temannya merasa bersalah kenapa tadi dia menunjukkan postingan akun gosip itu ke Rea.


*****


Laras sudah ada disekolah Arkan, pergi ke ruang BK bersama anaknya, seperti yang dia duga, dia kena ceramah panjang lebar guru BK Arkan, dinasehati untuk lebih mengawasi anaknya, sekarang yang bisa di lakukan Laras hanya mengiyakan, mengangguk dan berkata baik.


Keluar ruang BK Laras mencubit pinggang anaknya


"Awas ya bikin ulah lagi, mama bakal minta papa buat langsung kirim kamu ke luar negeri" ancamnya

__ADS_1


"Iya Iya ma, janji"


"Kalau ga khilaf lagi" lanjutnya


Membuat mamanya mencubit lagi pinggangnya


Sementara itu Lidia duduk dimobil menunggu Laras, mereka memang pergi berdua, tapi Lidia tidak mau turun dari mobil karena dia yakin pasti ada yang sedang mengawasinya.


Lidia mengambil ponselnya menelpon Dona


Lidia : Don, bisa minta tolong ga, loe somasi tu akun gosip, bener-bener keterlaluan sampai privasi anak gue juga dibawa-bawa


Dona : loe sekarang masih di kota XX?


Lidia : Iya masih, untuk sementara gue pengen tetap stay disini sama Rea.


Dona : banyak iklan, kerjaan yang batal, kamu siap sama pinalti kontrak?


Lidia : udahlah gue udah mundur dari dunia artis, ga lucu juga kalau masih main iklan, soal pinalti kontrak bayar aja semua, ga akan jatuh muskin gue


Dona : sombong amat


Lidia terkekeh


Dona : studio yang mau kita bikin aku udah nemu lokasi yang cocok


Lidia : aku percaya sama kamu kalau urusan itu, eh udah dulu ya Don, jangan lupa permintaan gue tadi


Lidia menutup telpon karena melihat Laras yang sudah datang mendekat ke arah mobil


"Jadi kita mau kesana?" tanya Laras yang sudah duduk dikursi mobil disamping Lidia yang memegang kemudi


Sahabatnya itu hanya mengangguk


"Loe tau tempatnya?"


Lidia sudah membawa mobil itu sambil sesekali melihat map yang ada di dashboard mobil


"Tau donk, aku tanya pak Rahmat, dia beberapa kali nganterin Rea kesana"


"Loe mau ngapain?"


"Ga mau ngapa-ngapain, cuma pengen liat wajahnya doank"


"Sampe segitunya" Laras menurunkan kaca, merapikan rambutnya


"Habis ini gue mau gugat cerai Farhan ras"


"Apa?" Laras terkejut "serius? "


"I deserve to be happy, gue layak bahagia ras, kayaknya belum telat kan ya kalau gue cari laki yang cinta sama gue"


Laras menatap heran ke arah Lidia, namun ada rasa kasihan di sorot matanya.


"Silau, pedih mata gue"

__ADS_1


Lidia mengambil kacamata hitam miliknya. sementara Laras memalingkan pandangannya keluar kaca jendela


"Bilang aja mau nangis" bisik Laras dalam hati


__ADS_2