Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Episode 102 End


__ADS_3

Satu Tahun kemudian,


Rea berjalan menyusuri koridor sekolah, pikirannya kembali dihari dimana pertama kali ia menapaki lantai sekolah ini, bertemu dengan Langit yang dia cari. Rea terdiam didepan bangku dimana Elang pernah mengepang rambutnya disana, hari itu semua siswi memakai kebaya sementara para siswa memakai setelan jas dihari kelulusan mereka, jika semua siswi menyanggul rambut mereka, gadis itu memilih tatanan rambut half updo yang dikepang, memakai sebuah kebaya broklat berwarna soft blue Rea benar-benar terlihat cantik.


Semua siswa kelas XII duduk di bagian depan didalam aula sekolah, sementara orang tua mereka duduk di deretan kursi belakang. Prosesi wisuda kelulusan merekapun dimulai, satu persatu dari mereka naik ke atas panggung untuk menerima secara simbolis ijasah mereka.


Senyum bahagia muncul dari bibir semua orang yang ada disana, tak terkecuali Rea. Namun, di hatinya ia merasakan sedikit pedih karena Elang tidak hadir diacara wisuda itu, hari itu kakak laki-lakinya sudah harus terbang ke Amerika untuk melanjutkan study nya.


Arkan mendekat ke Rea yang tengah berfoto bersama teman-temannya, tersenyum ke arah sahabatnya, mereka berpelukan saling mengucapkan selamat atas kelulusan yang mereka raih.


Diantara kerumunan teman-temannya Rea menatap ke arah langit, melihat sebuah pesawat terbang diatas sana, mengingat saat Elang berpamitan kepadanya kemarin.


Mereka berdiri bersandar ditepian balkon kafe milik Maya, mencoba menyelesaikan perasaan yang masih mengikat mereka berdua.


"Mungkin besok aku tidak akan bisa datang ke acara wisuda," ucap Elang.


Rea hanya bisa memandangi wajah cowok disebelahnya, alis matanya terlihat berkerut heran dengan ucapan kakaknya itu.


"Aku besok berangkat ke Amerika." Elang memandang gadis di sebelahnya dengan tatapan penuh lara, sementara Rea hanya bisa terdiam, ujung bibirnya sedikit bergetar, ia memalingkan wajah, air matanya menetes membasahi kedua pipinya.


"Re, kita tidak tau bagaimana takdir berjalan, tapi sepertinya memang kita di takdirkan bersama di kehidupan ini hanya untuk menjadi seorang kakak dan adik."


Hening, hanya suara isak tangis dari bibir Rea yang terdengar.


"Jujur jika aku pergi, aku tidak ingin kamu cepat melupakan aku, tapi jika kamu tidak cepat melupakan aku, aku takut itu hanya akan membuat hatimu semakin sakit."


Rea merasakan badannya lemas tubuhnya tiba-tiba merosot, gadis itu berjongkok sambil terus menangis terisak, Elang yang melihat adiknya seperti itu langsung berlutut di sampingnya, memeluk Rea dengan kedua tangannya.


Bandara


Elang yang memegang tiket dan paspor tengah terdiam duduk diruang tunggu Bandara. Ia mengingat ucapan perpisahan yang disampaikannya ke Rea, adik yang cintanya masih belum bisa dia hapus dari dalam hatinya.


"Ayo kita lupakan perasaan kita pelan-pelan, meskipun itu sulit aku akan mencoba, berjanjilah untuk tetap baik-baik saja meskipun aku tidak ada."


Mendengar ucapan Elang, Rea menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah menolak semua ucapan yang cowok itu sampaikan kepadanya.


Elang membuka ponselnya, melihat beberapa foto kelulusan teman-temannya yang dibagikan ke group chat kelas mereka. Bibirnya tersenyum melihat Rea yang terlihat anggun menggunakan kebaya berwarna biru muda, ia memperbesar foto adiknya, mengusap foto Rea dengan jemarinya.


Sementara didalam mobil yang membawanya pulang kerumah, Rea hanya terdiam menatap keluar jendela, tangannya meraih ponsel di tas kecil yang dia bawa, membuka chat di group kelasnya, sebuah chat dari Elang membuat matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


"Selamat atas kelulusan XII-2, aku tidak akan pernah melupakan kalian dan semua kenangan kita, maaf aku tidak bisa hadir untuk merayakan kelulusan bersama kalian."


Rea membalik ponsel yang berada digenggamannya, satu tangannya ia gunakan untuk mengusap air mata yang jatuh membasahi pipinya, Lidia yang duduk disampingnya hanya bisa menggenggam tangan anak gadisnya itu, seolah memberi kekuatan, karena ia tahu pasti alasan ketidakhadiran Elang di acara wisuda tadi.


Notifikasi pesan di ponsel Rea berbunyi lagi, Rea membiarkannya kali ini, tapi saat berbunyi untuk yang ketiga kali ia membuka aplikasi pesan chat itu dan melihat nama Elang disana , kakak laki-lakinya itu mengirimkan beberapa chat dan juga pesan audio.


"Apa kamu ingat lagu yang pernah kita dengar saat berjalan berdua di Barcelona?"


"lagu yang dinyanyikan oleh seorang pengamen jalanan."


"Lagu itu berjudul Yo Te Amo, artinya aku mencintaimu."


Rea lalu memasang earphone ditelinganya, menyandarkan kepalanya dikursi mobil masih berpaling ke arah jendela.


En palabras simples y comunes yo te extraño


Dengan bahasa sederhana, aku merindukanmu


En lenguaje terrenal mi vida eres tu


Dengan bahasa duniawi, kau adalah hidupku


En total simplicidad sería yo te amo


Y en un trozo de poesía tu serás mi luz, mi bien


Dan dalam kedamaian puisi, kau kan jadi cahaya


Sambil masih mendengarkan lagu itu, tangan Rea mengetikkan sebuah pesan.


"Bukankah lagu ini terlalu manis untuk situasi kita saat ini?"


"Hem, aku tau." Elang membalas diseberang sana.


"Terima kasih Re, telah memberiku awal yang bahagia dan bagian tengah yang bahagia juga, jangan terlalu lama patah hati karena kita juga harus tetap hidup dan bahagia," gumam Elang dalam hati.


Elang berjalan menuju antrian masuk ke pesawat yang akan membawanya terbang ke Amerika. Memutar kepalanya memandang orang-orang yang berada disekitar sana seolah mengucapkan selamat tinggal, sambil berharap melihat orang yang dicintainya disana.


Beberapa hari kemudian, Rea tengah berada didalam pesawat untuk kembali ke kota kelahirannya, ia memandang keluar jendela pesawat yang masih berjalan diatas landasan pacu menunggu antrian untuk terbang.

__ADS_1


Tangannya bergerak menyentuh jendela disampingnya, sebuah earphone yang tersambung ke ponselnya terpasang ditelinganya.


Dear Langit Biru,


Aku datang mencarimu dengan alasan yang takdir siapkan untukku


Aku bahagia bisa menemukanmu dan berbagi rasa denganmu


Meskipun pilu aku bahagia karena memiliki kenangan indah denganmu


Langit, Terima kasih


Aku menyayangimu.


Bibir Rea tersenyum, sebuah lagu yang selalu dia dengarkan beberapa minggu belakangan semenjak Elang pergi menggema ditelinganya.


Sebuah tangan menarik satu earphone dari telinga Rea, gadis itu kaget melihat Arkan yang memang ikut pulang bersamanya hari itu.


Cowok itu tersenyum karena mendapat ijin dari Lidia untuk bertukar tempat duduk, setelah memasang earphone ditelinganya Arkan lalu melipat kedua tangan didepan dada dan memejamkan mata.


Rea tersenyum memandang ke arah cowok disebelahnya sebelum memalingkan wajah ke arah jendela lagi.


Kelak kau 'kan menjalani hidupmu sendiri


Melukai kenangan yang telah kita lalui


Yang tersisa hanya aku sendiri di sini


Kau akan terbang jauh menembus awan


Memulai kisah baru tanpa diriku


Seandainya kau tau ku tak ingin kau pergi


Meninggalkanku sendiri bersama bayanganku


Seandainya kau tau aku 'kan selalu cinta


Jangan kau lupakan kenangan kita selama ini

__ADS_1


(Vierratale : Seandainya)


END


__ADS_2