
Sepanjang perjalanan ke sekolah Rea melamun, dia masih memikirkan bagaimana cara mendekati Elang untuk tau identitas cowok yang ia curigai adalah kakaknya itu, dan tanpa dia sadari mobil sudah berhenti disebrang sekolahnya.
"Sudah sampai Re," ucap laki-laki itu memberi tahu gadis yang masih terlihat melamun itu.
Sekarang setiap pulang dan berangkat sekolah Rea hanya mau diantar sampai disebrang jalan, dia hanya butuh berjalan beberapa meter menyebrang jalan untuk sampai di sekolah dari pada harus berhenti tepat didepan gerbang dan menjadi perhatian siswa lain.
Saat hampir masuk ke gerbang, Rea melihat Sevia menuntun motornya masuk ke parkiran seperti anak-anak yang lain, gadis itu berlari kemudian meraih bagian belakang motor Sevia, membuat temannya itu sedikit kaget.
"Aku bantu dorong ya," Rea mengulas senyum di bibirnya.
Sevia hanya tertawa geli mendengar omongan temannya itu, setelah memarkirkan motornya dengan benar Sevia langsung mengajak Rea untuk menuju kekelas mereka.
"Aku pikir kamu berangkat bareng Cindy," ucap Rea ke Sevia sambil merapikan sedikit rambut panjangnya.
"Enggak, Cindy kadang nebeng aja kalau pas pulang, kalau ga dijemput bapak nya," Sevia memberi penjelasan ke Rea.
Didepan kelas XI-2 terlihat anak-anak berkerumun didepan pintu dan beberapa ada yang melongok melihat dari jendela, entah apa yang sedang terjadi didalam karena penasaran Rea dan Sevia mencoba menerobos masuk diantara kerumunan temannya yang menghalangi pintu.
Mereka terkejut melihat Cindy sedang duduk dibangku dengan dikelilingi tiga orang siswi, satu siswi yang duduk di atas meja terlihat menunjuk nunjuk dahi Cindy.
"Gila!" ucap Rea, gadis itu langsung berjalan cepat mendekat ke bangku temannya, ia memegang tangan siswi yang sedang menunjuk-nunjuk dahi Cindy, menghempaskan tangan itu menjauh dari temannya.
__ADS_1
"Apa apa'an sih mau loe apa'in temen gue, Ini tahun berapa? masih aja main buly-bullyan," ucap Rea sambil meminta Cindy berdiri dengan menarik tangan gadis itu.
Siswi itu agak terkejut dengan perlakuan yang dia terima, kemudian turun dari atas meja.
"Oh.. Loe ya siswi baru pindahan yang pada diomongin anak kelas loe didepan tadi, loe ga tau siapa gue?" ucap siswi itu sambil membusungkan dadanya.
"Gue tau KAR-MI-LA, nih nama loe jelas ada di baju loe," Rea mengeja nama siswi itu dengan sengaja sambil menunjuk nametag di baju siswi bernama Karmila itu.
"Berani banget loe nunjuk-nunjuk gue," Karmila mulai marah, sementara teman gengnya hanya berdiri didekatnya dengan ekspresi sok-sokan ikut marah. Anak-anak yang melihat malah bersorak memanaskan suasana.
"Loe tau, nih bokap temen loe satu ini utang duit ke bokap gue, tapi ga bayar-bayar," ucap Karmila dengan nada yang sudah meninggi
"Heh emang loe tukang kredit nagih-nagih ke orang, loe tu disekolah buat belajar, bukan jadi tukang penagih hutang, rentenir loe ya?" sahut Rea dengan nada yang tak kalah tinggi
"Kalau yang hutang bokapnya, kenapa nagih ke anaknya? emang dia udah kerja dan punya duit?" tanya Rea ke Karmila sambil menunjuk Cindy yang ada didekatnya.
Karmila tertawa "loe bilang temen nya, tapi loe ga tau, ni anak udah kerja, dia tuh kerja di kafe remang-remang."
Rea terkejut mendengar jawaban Karmila kemudian menatap iba kearah Cindy, cowok didepan pintu tadi sudah ingin masuk melerai tapi ditahan temannya.
"Kita liat dulu aja bro," cegah siswa itu dengan menghalangi badan Elang dengan tangannya sambil tertawa.
"Dasar nenek lampir kafe nyokap gue dibilang kafe remang-remang," batin Elang.
__ADS_1
"Heh...Karmila, kalau kafe lampunya terang itu bukan kafe tapi pos ronda," jawab Rea ketus.
Anak-anak tertawa lebih keras mendengar jawaban yang keluar dari mulut Rea, seru juga melihat anak baru udah berani adu mulut sama dedengkot sekolah begitu mungkin pikir mereka.
"Mending loe balik sana ke kelas loe, belajar yang bener biar ntar nilai loe bagus."
Karmila seperti ditampar dengan ucapan Rea barusan, dia penasaran bagaimana Rea tau kalau dia memang selalu dapet nilai jelek bahkan dua kali ia tidak naik kelas.
Elang akhirnya masuk kedalam kelas, melerai dua gadis itu.
"Mending loe balik ke kelas sebelum ada guru yang liat," ucapnya ke Karmila.
Karmila melihat sinis ke arah Elang, kemudian memelototi Rea dan Cindy bergantian, tangannya mengepal antara kesal atau mengancam.
Dengan perginya Karmila selesailah tontonan anak-anak tadi, mereka satu persatu membubarkan diri, Elang berjalan lalu duduk dibangkunya, sementara Rea menarik tangan Cindy maminta gadis itu duduk, Sevia memberikan tisu untuk menyeka air mata Cindy karena anak itu menangis.
"Udah Sin," Sevia menepuk nepuk punggung cindy menenangkan.
Rea hanya terdiam melihat ke arah Cindy yang menatapnya seperti ingin mengucapkan terima kasih tapi hanya bisa menangis saat itu.
"Nanti cerita ya kalau udah tenang," Rea melingkarkan tangannya memeluk pundak Cindy. Gadis itu sangat sedih merasakan dipermalukan Karmila didepan siswa yang lain seperti itu.
Rea masih memeluk Cindy kepalanya mengarah kebelakang bersandar pada pundak Cindy, matanya bertemu dengan mata Elang, cowok itu langsung memalingkan pandangan karena tanpa sadar ia menatap ke arah Rea sedari tadi, gadis itu hanya tersenyum melihat cowok yang mungkin kakaknya itu menjadi salah tingkah.
__ADS_1