
Dua orang manusia yang lama terikat sebuah ikatan tanpa cinta sedang duduk disebuah meja saling berhadapan, sang wanita terlihat menyodorkan sebuah map ke arah laki-laki yang sebenarnya sangat ingin dimilikinya.
Lidia memandang map itu mengingat kembali kenangan lamanya saat pertama kali bertemu dengan Farhan yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya. Saat itu mereka berkuliah disebuah universitas yang sama, Farhan yang merupakan anak pengusaha terkemuka tentu saja menarik perhatian banyak gadis di kampusnya tak terkecuali Lidia, ia juga menyukai Farhan selayaknya seorang gadis menyukai seorang pria, dia juga tidak menyangka bisa dijodohkan orang tuanya dengan laki-laki yang sangat dia harapkan untuk mencintainya itu.
Diawal pernikahan Lidia tau bahwa suaminya sama sekali tidak mencintainya, tapi didalam hatinya saat itu Lidia berharap Farhan bisa membuka hati dan membalas cintanya.
Seorang model yang sedang menjajaki dunia akting Lidia bisa dibilang menjadi pujaan banyak pria kala itu, tapi hatinya tidak pernah tergoda, cintanya hanya dia berikan ke Farhan, pria yang bahkan tidak pernah menganggap keberadaan dirinya.
Lidia ingat setiap malam suaminya pulang dalam kondisi mabuk, jangankan menyentuhnya berbicara dengannya saja laki-laki itu seperti tak sudi. Sampai suatu ketika pria itu pulang dalam keadaan mabuk seperti biasa, tak ada yang menyangka mereka menghabiskan malam berdua yang berakibat Lidia mengandung anak mereka.
Sebelum memutuskan untuk mengajak bertemu Farhan, wanita itu sudah benar-benar berusaha menata hatinya, keputusannya sudah bulat, ia memilih menjadi janda diusia yang masih terbilang muda.
Farhan mengambil map yang disodorkan Lidia membukanya kemudian menandatangani surat cerai didalamnya.
"Maaf, jika selama ini aku membuat hidupmu sia-sia," ucap Farhan.
Lidia sedikit terkejut mendengar permintaan maaf dari Farhan, wanita itu sedang mencoba menahan sesak didadanya agar cairan bening tidak sampai menetes dari matanya.
"Maaf, selama ini aku tidak bisa memberikan apa-apa."
Lidia tersenyum menatap laki-laki didepannya dengan pandangan masih penuh cinta "kamu sudah memberiku salah satu hal yang paling berharga didunia, kamu memberiku Rea," ucapnya.
Farhan tersenyum, pikirannya melayang jauh mengingat kenangan tujuh belas tahun yang lalu saat Lidia melahirkan buah hati mereka, dia sama sekali tidak mau menyentuh bayi mungil itu, sampai saat istrinya memohon kepada dirinya untuk memberi nama bayi perempuan mereka.
"Terserah mau kamu beri nama siapa," jawabnya ketus.
"Meskipun kamu tidak menganggapnya ada, apa kamu tidak bisa sedikit berbaik hati?" iba Lidia.
Farhan terdiam untuk sejenak kemudian sebuah kalimat meluncur dari bibirnya "Beri dia nama Bumi."
Tanpa Lidia ketahui saat masih berhubungan dengan Maya suaminya telah sepakat dengan wanita yang dicintainya itu, jika mereka memiliki anak laki-laki maka akan diberi nama Langit, sementara jika anak perempuan mereka akan memberi nama anak mereka Bumi.
Sampai Rea beranjak remaja laki-laki itu sadar tidak pernah memberi perhatian ataupun kasih sayang ke anaknya, bahkan dia pernah meragukan bahwa Rea adalah putri kandungnya. Dalam hati pria itu menyesal dan berniat memperbaiki hubungannya dengan anak perempuannya itu sebelum semua terlambat.
__ADS_1
Farhan tersadar dari lamunannya, menatap Lidia yang sudah berdiri dari kursinya, wanita itu sudah hampir pergi dari sana saat mantan suaminya tiba-tiba meminta nomor HP Rea. Lidia memberikan nomor HP anaknya dengan senang hati kemudian pergi dari sana.
"Selamat tinggal," bisik Lidia dalam hati sambil mengusap air mata yang jatuh dibalik kacamata hitam yang dia kenakan.
❤❤❤❤❤
Rea sedang menyendiri dikamarnya, dua malam tidur hanya beralaskan tikar didalam tenda membuat gadis itu rindu dengan kasurnya, beruntung besok adalah hari minggu dia bisa beristirahat seharian, gadis itu merasakan pegal diseluruh badannya terutama di betis kakinya.
Notifikasi pesan di HP Rea tiba-tiba berbunyi, dengan sedikit malas gadis itu meraih benda pipih dengan case warna biru favorite nya, bibirnya tersenyum melihat sebuah pesan disana.
"Re, apa kamu lelah, ini malam minggu bisakah kita bertemu?" ~ Langit.
Entah tersihir apa, gadis itu tiba-tiba merasa bersemangat dan sakit dibadannya hilang seketika. Ia membalas pesan dari pacarnya yang masih dia beri nama kontak "Langit" di ponselnya.
"Aku tidak lelah, jam berapa kamu mau menjemputku?" ~ Rea.
"Bersiaplah pukul tujuh," ~ Langit.
Rea tersenyum kemudian meletakkan ponsel yang tengah dia pegang diatas dadanya, ia masih berniat ingin membuat kenangan manis bersama Elang, tak perduli dengan kenyataan bahwa cowok itu adalah kakak kandungnya.
"Re, ini Ayah."
Gadis itu merasa takut seperti sedang melakukan sebuah dosa besar, belum sempat ia membalas sebuah kalimat sudah menyusul pesan pertama tadi.
"Kapan kamu libur kenaikan kelas? ayah ingin mengajakmu berlibur."
Sontak gadis itu meloncat bangun dari posisinya, ia tidak menyangka bahwa ayahnya akan mengirim pesan kepadanya dan mengajak dirinya berlibur, mata gadis itu berbinar hatinya merasa bahagia, tangannya mulai mengetik pesan balasan untuk ayahnya.
"Dua minggu lagi yah."
"Kalau begitu dua minggu lagi ayah akan datang kesana menjemputmu."
Rea meneteskan air mata, bukan karena sedih tapi gadis itu terlampau bahagia, untuk kali pertama dalam hidupnya orang yang Rea harapkan bisa menyayanginya mengirim pesan dan lagi mengajaknya pergi liburan. Gadis itu tak henti-hentinya tersenyum sambil masih menangis, ia tidak sabar menunggu dua minggu lagi.
__ADS_1
❤❤❤❤❤
Sementara itu Lidia memilih pergi meminta Laras untuk menemuinya di bar langganannya, wanita itu tidak berniat mabuk, ia hanya ingin ditemani untuk melupakan perasaannya.
Mereka duduk berhadapan, keduanya terdiam, Lidia terlihat memalingkan wajahnya menerawang jauh.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Laras.
Wanita itu sudah tau kalau Lidia baru saja bertemu dengan Farhan dan menandatangani surat cerai mereka.
"Aku baik-baik saja, cuma masih sedikit tidak percaya kalau hari ini datang juga," jawabnya lirih.
Laras menghembuskan napasnya seperti ikut merasakan sesak didadanya, lebih memilih diam karena Ia sendiri tidak bisa merangkai kata-kata untuk membalas pernyataan temannya.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
__ADS_1
To be continued