
Arkan sudah menunggu didepan kelas Rea, bersandar ditembok sambil menyilangkan kedua tangannya. Arkan terlihat sangat keren, seperti nya akan jadi Idola baru anak-anak kelas XI. Teman-teman sekelas Rea saja sudah berbisik memandangi Arkan dari tadi.
Rea keluar dari kelas nya menghambur ke arah Arkan, berdiri didepan cowok itu, Arkan mengacak acak rambut Rea gemas. Rea terlihat membenarkan tatanan rambutnya.
Anak anak yang lain terlihat penasaran apa hubungan mereka, Ken yang dari tadi ikut melihat bergumam dalam hati
"Apa itu cowok yg disukai Rea?"
Ken melihat Elang yang sudah berdiri didepan pintu terlihat memandang ke arah Arkan dan Rea dengan pandangan yang masih sama seperti di lapangan basket tadi.
Ken berjalan cepat menghampiri Elang, terlihat menyapa Rea. Arkan memandang sekilas ke arah Ken.
"Kayaknnya aku tadi liat gadis itu di ruangan kepala sekolah?" Arkan menunjuk ke arah Ken yang sudah berjalan mengekor dibelakang Elang.
"Namanya Ken, dia memang anak kepala sekolah, dia duduk di kelas XII" Jawab Rea
Arkan dan Rea kemudian berjalan beriringan menuju gerbang sekolah.
"Tapi aku lihat gadis itu tadi merengek didepan kepala sekolah, childish sekali" cerita Arkan
Rea hanya terdiam, kemudian bertanya pada Arkan "kalau dia childish aku apa? bukankah aku suka merengek padamu, kakek dan kadang ke Om Andi?"
"Hey..tidak bisa disamakan , kamu itu imut " jawab Arkan sambil mencubit kedua pipi Rea
(Memang bucin si Arkan 😂)
Rea melihat mobil nya sudah ada disebrang jalan, kemudian menarik Arkan untuk ikut menyebrang.
"Ayo kerumah ku" Rea sudah menggandeng tangan Arkan mengajaknya untuk berjalan cepat.
"Kenapa meminta pak Rahmat menunggu disana? Bukan kah bisa memintanya langsung menjemputmu di sini" tanya Arkan
__ADS_1
Rea sudah menarik tangan Arkan lagi
"sudah ayooo"
Arkan masuk kedalam Mobil, duduk disebelah Pak Rahmat, Pak Rahmat kaget melihat Arkan sudah ada di samping nya
"Lho Mas Arkan kok ada disini?" tanya pak Rahmat heran
"Arkan tu ga bisa pak jauh dari aku, makanya paling dia ngrengek ke om Andi sama tante laras buat bisa pindah sekolah sama kayak aku" sahut Rea
"Lha kan malah bagus non Rea ada temannya, bapak juga bakal ada temennya main catur lagi, ya ga Mas Arkan?" timpal pak Rahmat
Arkan menoleh ke bagian belakang mobil, mencibir Rea, merasa menang dibela Pak Rahmat.
Selang beberapa menit, mereka sudah sampai dirumah Rea. Rea naik keatas untuk mengganti seragamnya, meminta Arkan untuk menunggunya dimeja makan.
Arkan masuk ke dapur bertemu mba Anisa yang sedang menata piring, lalu tanpa basa-basi meminta di buatkan minum. Rea yang sudah memakai baju santai turun menghampiri Arkan yang duduk dimeja makan sambil bermain HP. Mba Anisa meletakkan jus jeruk didepan Arkan. Arkan masih sibuk bermain HP, dia kaget saat Rea menampar punggung tangannya.
"Iya, dia pembantu dirumah ini kan?" jawab Arkan enteng sambil meminum jus jeruknya
"Dia itu anak pak Rahmat dan Bi Ulfa, dia itu guru Fisika kita tau"
Arkan langsung menyemburkan jus Jeruk yang belum masuk ke tenggorokannya. Rea tertawa sejadi jadinya
"Kenapa ga bilang dari tadi?"
"Lha mana aku tau?" jawab Rea enteng
"Sehari ini benar benar kacau, kau tau lawan kelasmu saat basket tadi adalah kelasku, dan pak Lucky guru olah raga yang sekaligus wali kelasku itu tinggalnya dikosan yang sama dengan ku , Kamarnya persis di sebelah kamar ku"
"Kamu pasti nyesel iyakan minta pindah kesini?" ledek Rea
"Ga, ga sama sekali " jawab Arkan enteng
__ADS_1
"Sebenarnya aku mau menagih janjimu tadi pagi dilapangan basket, tapi aku simpan dulu, akan aku pikirkan nanti apa mauku, dan kauuuuuuuu...." Arkan mendekatkan wajahnya ke arah Rea
"Apa?" Rea menjauhkan wajahnya dari Arkan tapi cowok itu sudah menarik tangannya sehingga wajah Rea kembali dekat dengan wajahnya
"Kamu liatkan tadi bagaimana anak-anak perempuan di sekolah menatapku?kamu juga pernah janji kalau anak di sekolah barumu menganggap aku keren kamu juga akan menggabulkan permintaan ku, jadi nona Andreadina kau berhutang 2 permintaan dari ku"
Rea hanya tersenyum mendengar perkataan Arkan
"Sudah cepat katakan sekarang kamu mau minta apa, jangan bilang kamu minta cium?"
"Apa boleh?" Arkan terlihat antusias
Muncul ide di kepala Rea untuk menggoda cowok didepan nya, Rea mendekatkan wajah nya ke arah Arkan, saat wajah Arkan mendekat Rea menepuk pipi kanan cowok itu dengan tangannya.
Plaaaakkkk "Mimpi"
Rea tertawa puas meninggalkan Arkan yang masih duduk sambil menahan malu dan menahan detak jantungnya.
Mereka berdua lalu duduk ngobrol ditaman rumah, Rea menceritakan kepada Arkan siapa sosok Langit yang sekarang kemungkinan 90% adalah kakak yang dia cari, bagaimana dia jajan bakso tusuk dari luar pagar, lalu temannya yang super mandiri bernama Cindy, tetapi Arkan sama sekali tidak fokus dengan cerita Rea, dia hanya memandangi wajah Rea yang sedang semangat bercerita itu, Mencari tau dalam hatinya sebenernya apa sih yang membuat dia sangat menyukai gadis didepannya itu.
-----------------
Arkan memilih pulang Naik taxi online, padahal pak Rahmat sudah menawarkan ingin mengantarnya, malam sebelum jam 8 Arkan sudah sampai dikosnya. Wajahnya terlihat sumringah, menaiki anak tangga sambil bernyanyi, pak Lucky guru sekaligus tetangga kamar kosnya sedang bersandar pada pagar pembatas lantai dua, melihat Arkan yang sedang bertingkah seperti orang gila kemudian menghardiknya
"Hey penghianat kelas, bisa tidak berhenti senyum senyum sambil bernyanyi seperti itu"
Arkan tau dari nada bicaranya pak Lucky hanya sedang bercanda. Arkan mendekat kemudian ikut bersandar seperti yang pak Lucky lakukan.
"Pak, bapak pasti jomblo kan?, makanya bapak ga tau gimana rasanya jatuh cinta" ucap Arkan sambil langsung lari membuka pintu kamar kosnya.
"Dasar bocah, aku sudah punya pacar tau " jawab Pak Lucky.
Arkan tertawa puas karena bisa membuat gurunya kesal.
__ADS_1