
Anak anak sudah mulai masuk ke bus, wajah mereka semua terlihat sumringah, memang ini yang mereka tunggu, liburan bersama teman-teman mereka, melupakan sejenak tugas sekolah dan tugas rumah mereka.
Rea mulai mencari tempat duduk sesuai denah yang sudah dibagi dikelas kemarin, dia melihat kursinya masih kosong, bertanda teman sebelahnya belum naik keatas bus, Rea mengangkat koper kecil nya untuk diletakkan dibagasi atas, sayang meskipun sudah berjinjit agaknya susah menaikkan koper itu, berkali dia coba tapi belum berhasil, tiba-tiba seseorang meraih koper yang posisinya sudah setengah bagian ada diatas, tangan mereka bersentuhan, Rea buru-buru menurunkan tangannya, punggung nya terasa dekat dengan dada orang yang membantunya, membuat dadanya tiba-tiba berdetak tidak karuan, gadis itu berbalik sekarang wajahnya sudah berada tepat didada orang itu, Rea mendongak ke atas, orang yang membantunya menurunkan pandangannya, sekarang mata mereka bertemu.
Rea merasakan ada desiran yang mengaliri seluruh badannya, tubuhnya membeku untuk sesaat melihat cowok yang saat ini sangat dekat berdiri dihadapan nya, dengan kaos putih dan outer motif tartan berwarna maroon yang terlihat sangat cocok dia kenakan. Seketika Rea tersadar saat cowok itu bertanya
"Kamu mau duduk disebelah mana?"
"Disitu... se...see..belah jendela" Rea tergagab, kemudian langsung menggeser badannya duduk disebelah jendela.
Elang meletakkan tasnya diatas, kemudian duduk di samping Rea. Gadis itu menghadap jendela memukul dahinya sendiri, tanpa sadar Elang tersenyum sendiri, tau kalau gadis yang duduk disebelahnya sedang salah tingkah.
__ADS_1
Bus sudah mulai berjalan, seorang tour leader mulai berbicara, menjelaskan berapa lama perjalanan yang akan mereka tempuh, dimana mereka akan berhenti untuk makan, dan kemana saja tujuan mereka nanti.
Elang mengantuk, menyandarkan kepalanya disandaran bus, melipat kedua tangan didepan dadanya, Rea memandangi wajah cowok disebelahnya dari samping, melihat sedikit lebih dalam, ingin memastikan apakah wajah orang di samping nya mirip dengan wajah ayahnya, kemudian buru-buru memalingkan muka menatap kejendala lagi saat Elang menggeliat.
"Jangan sampai dia tersadar kalau aku menatap nya dari tadi" bisik Rea dalam hati
Gadis itu kemudian mengambil earphone, menyambungkan ke HPnya, mulai mendengarkan lagu yang ada di playlist favoritenya, masih memandang keluar jendela.
"Kenapa kamu mendengarkan lagu sedih seperti ini sendirian?"
Rea hanya terdiam.
"Apa kamu sedang merasa kesepian? bukan kah ada aku disampingmu?" Elang membuka matanya kemudian memalingkan sedikit badannya ke arah Rea.
__ADS_1
Rea masih terdiam, tidak mengerti sama sekali apa yang dibicarakan cowok di sampingnya ini.
"Sepertinya aku tau maksud perkataanmu kemarin dibalkon kafe, sepertinya nasip kita sama"
Rea masih terdiam mendengar apa yang Elang katakan
"Tunggu, apa dia sudah tau kalau dia bukan anak kandung papa nya? dan apa dia pikir aku yang berbicara soal kakak atau adik dari pernikahan orang tua terdahulu, dia pikir aku juga.... "
Rea tiba-tiba berhenti berfikir saat tangan kiri Elang sudah mendarat dipipi kanannya.
"Pasti sulit untuk gadis sepertimu"
"Tunggu, kamu salah paham" Rea menjerit dalam hati tapi dia sendiri tidak kuasa untuk menolak sentuhan tangan Elang dipipi nya
__ADS_1