
Malam itu Andi yang sedang santai dirumahnya sambil menonton berita dari saluran TV favoritenya tiba-tiba dihubungi oleh dokter Hendi, entah apa yang dokter Hendi sampaikan yang pasti pria itu lalu bergegas mengganti bajunya untuk segera pergi kerumah sakit.
Laras yang melihat suaminya tergesa-gesa sempat menanyakan ada masalah apa, tapi tidak ada jawaban yang keluar dari mulut laki-laki yang sudah memberinya dua anak itu.
Andi mengambil kunci mobilnya dan bergegas ke garasi dengan setengah berlari, Laras hanya bisa mengikuti suaminya kesana kemari seperti orang kebingungan.
"Ada apa?" tanya Laras sedikit membentak dengan nada suara yang meninggi.
Andi kaget dan baru tersadar setelah mendengar suara bentakkan dari istrinya itu, karena terlalu bingung dia sampai mengacuhkan pertanyaan Laras yang juga sudah terlihat bingung dan cemas melihat tingkah anehnya sejak tadi.
"Farhan sudah siuman," Jawab Andi.
Laras yang terkejut sekaligus senang mendengar kabar itu hanya bisa berucap syukur dalam hati, wanita itu memegang erat tangan suaminya.
" Apa mau aku temani?" tanyanya.
"Tidak usah aku sendiri saja, nanti kalau Aryan bangun pasti mencarimu," jawab Andi.
Laras melepaskan tangan suaminya, menunggu sampai Andi naik kedalam mobil untuk pergi ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit Andi melihat sahabatnya sudah duduk di ranjang kamar inap pasien biasa, Andi hanya mengintip dari luar pintu kemudian terlihat berbicara dengan dokter Hendi didepan kamar Farhan, laki-laki itu kemudian masuk dengan nada bicara yang agak sedikit emosi, tangannya membanting pintu kamar dengan kesal, bibirnya terlihat mengumpat.
"Kalau semua ini hanya sandiwara Han, gue bener-bener ga akan maafin loe," ucapnya marah.
__ADS_1
"Gue baru sadar dan elo udah marah-marah?" Farhan memandang Andi dengan pandangan mata yang menunjukkan dia sedang tersinggung.
"Farhan, loe tu bukan bocah lagi, loe tu udah tua bisa-bisanya bikin sandiwara kayak gini."
"Sakit gue bukan sandiwara An, tapi kalau sampe harus transplantasi ginjal itu emang agak berlebihan, gue masih ga percaya sama ucapan dokter Hendi kalau ginjal gue udah rusak parah."
"Sumpah loe bener bener gila, om Heru sampai sedih banget, dia pikir bakal kehilangan anaknya yang brengsek kayak loe," akhirnya umpatan itu muncul dari bibir Andi.
"Biarin aja, gue ga peduli sama Papa," jawab Farhan ketus.
"Durhaka ya loe Han, padahal om Heru hampir setiap menit selalu nanyain keadaan loe ke dokter Hendi."
Farhan sedikit merasa bersalah mendengar ucapan Andi barusan, mimik wajahnya sudah berubah tapi segera ia sembunyikan agar sahabatnya itu tidak menyadarinya.
"Maksud loe siapa, Lidia dan Rea?" balas Andi
"Siapa lagi kalau bukan dua orang sialan itu?"
"Sebenci itu loe sama Lidia and Rea? oke lah kalau Lidia gue bisa paham, tapi Rea? Anak itu ga tau apa-apa Han."
"Loe pasti udah tau kan kalau Rea bukan anak biologis gue?"
Andi kaget karena dia pikir hanya dia saja yang tau hasil test itu karena saat itu Farhan masih tidak sadarkan diri, tapi ternyata sepertinya semua ini memang hanya sandiwara yang sudah direncanakan oleh sahabatnya itu.
"Ini cara gue biar tau siapa Lidia sebenarnya, perempuan itu berani-beraninya bohong dan nipu gue selama ini."
__ADS_1
"Jadi intinya loe pura-pura gini, biar bisa dapetin hasil test DNA?" tanya Andi masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya sejak SMA itu.
"Loe pikir papa gue bakal ngijinin test DNA tanpa alasan?"
"Farhan loe bener bener sinting ya, Rea sekarang lagi ada di Kota XX buat nyari anak loe sama Maya , buat bujuk dia biar mau donorin ginjalnya buat elo, Kenapa loe malah kayak gini? gue bener-bener bisa ga ada wibawanya didepan anak itu," Andi sudah mulai meluapkan emosinya.
"Biarkan aja anak itu, loe kan juga tau selama ini gue udah cari Maya dan anak gue tapi ga pernah ketemu, apalagi bocah itu?"
Tanpa Farhan sadari bocah perempuan itu memiliki keberuntungan yang lebih besar dari apa yang dipikirkannya.
"Terus dimana papa gue sekarang?"
"Om Heru lagi berobat ke Singapore, sepertinya jantung beliau bermasalah lagi."
Ekspresi wajah Farhan berubah lagi, bagaimanapun juga Heru adalah ayah kandungnya, sebenci apapun dia ke laki-laki yang membuatnya berpisah dengan Maya wanita yang sangat dicintainya, ia tetaplah anak yang pasti masih memiliki sedikit rasa cemas mendengar orang tuanya dalam kondisi tidak baik.
"Gue pengen pulang, kalau bisa malam ini," pintanya ke Andi.
"Loe bener-bener gapapa?"
"Orang masih bisa hidup dengan satu ginjal, kalau ginjal gue rusak satu, gue masih punya satu," ucap Farhan enteng.
Andi hanya mengerutkan dahinya, masih tidak percaya ketika semua orang cemas dan takut kalau dia sampai mati ternyata mereka dibodohi oleh laki-laki itu.
Akhirnya malam itu juga Andi mengurus semua administrasi yang diperlukan agar Farhan bisa keluar dari rumah sakit.
__ADS_1