
Rea sibuk mencari sebuah buku diperpustakaan, setelah menemukan buku yang dia cari Rea duduk dikursi membuka buku dan menyalin beberapa materi dari buku ke catatan yang dia bawa, seseorang duduk tepat didepan Rea.
"Tidak usah dicatat, kalau kamu butuh buku itu, aku punya, masih bagus karena jarang aku baca," bisik orang itu ke Rea.
Rea berhenti mencatat, kemudian menoleh ke arah suara yang berbisik padanya barusan . Ternyata kinanti, Rea mengulas senyum dibibirnya.
"Lebih baik kita keluar jajan aja yuk," bisik kinanti lagi.
Rea tersenyum merapikan bukunya, bertanda mengiyakan ajakan Kinanti. Mereka keluar dari perpustakaan, Rea hampir berbelok ke kanan tapi tangannya langsung ditarik kinanti.
"Ke arah sini!"
"Bukannya kantin ke arah sana?" jawab Rea sambil menunjuk arah berlawanan.
"Sudah ayok," Ken sudah menarik tangan Rea untuk mengikuti langkahnya.
Ternyata di area parkir dibelakang sekolah banyak pedagang yang berjualan dari luar pagar sekolah, Rea kaget melihat beberapa anak mengulurkan uang dari dalam pagar kemudian pedagang melemparkan makanan pesanan lewat atas pagar.
Rea terlihat sangat tertarik ingin mencoba membeli jajanan dengan cara seperti itu. Dia membuka dompetnya kemudian mengulurkan uang seratus ribuan ke arah pedagang bakso tusuk.
"Walah neng ga ada kembaliannya, yang kecil aja."
Rea bingung karena dia memang tidak punya uang Kecil didompetnya, tapi kemudian Ken mengeluarkan uang memberikannya ke abang penjual bakso tusuk.
"Lima ribuan dua ya bang," Ken memandang dan tersenyum ke arah Rea.
"Aku yang traktir," lanjut Ken.
"Terima kasih," sahut Rea sambil tersenyum.
Inilah yang Rea tunggu tunggu menangkap jajanan yang dibeli seperti anak-anak yang lain.
"Oke bang lempar!" perintah Rea ke abang bakso tusuk.
Gadis itu mengambil ancang-ancang, tapi tiba-tiba bungkusan bakso tusuk itu melayang terlalu tinggi diatas kepalanya, dia berbalik sambil menatap bungkusan yang melayang itu, dan tiba tiba "BRUKKKK" wajah Rea menabrak dada seseorang.
Ken ikut terkejut, bungkusan bakso tusuk milik Rea ditangkap tangan kanan orang yang dadanya ditabrak oleh wajah Rea di udara.
Orang yang ditabrak terkejut karena bungkusan itu ternyata Panas, Rea yang sudah menjauhkan badannya dari orang yang dia tabrak kaget, tiba-tiba orang itu melemparkan bungkusan ke arahnya, Rea kaget menangkap bungkusan itu.
"Aduh Panas panas," seru Rea yang dengan cepat mencari ikatan bungkusan bakso tusuk yang barusan dilempar ke arahnya agar tidak panas saat dipegang.
"Makasih ya, hari ini kamu sudah ngebantu aku dua kali," ucap Rea.
Benar, orang yang ditabrak dadanya tadi adalah orang yang juga membantu dia tadi pagi, setelah hanya memandangi adegan didepannya Ken berjalan mendekat.
__ADS_1
"Ayo kita makan disana," ajak Ken.
Rea kemudian berjalan menuju tempat yang ditunjuk oleh gadis itu.
"Apa acara besok jadi?" Tanya Elang.
"Jadi," Jawab Ken ketus sambil meninggalkan Elang yang masih berdiri ditempatnya.
"Kamu marah? Apa salah ku?" tanya Elang lagi, yang diajak bicara sudah berlalu meninggalkan dirinya.
Elang mendekat ke arah pagar ternyata dia juga ingin jajan, sambil memberikan uang ke abang bakso tusuk Elang memberi nasehat.
"Bang kalau ngelempar jangan tinggi-tinggi, kalau yang nangkap jatuh gimana?" ucap Elang sambil melihat ke arah Ken dan Rea yang sedang asik makan bakso tusuk.
"Iya Mas, maaf," jawab abang bakso tusuk itu sambil tertawa.
Rea dan Ken makan sambil duduk dikursi dibawah sebuah pohon. Ken memulai perbincangan mereka terlebih dahulu.
"Tadi kamu hampir telat ya pas apel?"
"Iya, mobilku bannya bocor di jalan untung Elang lewat, lalu memberi aku tumpangan" jawab Rea sambil menguyah Bakso tusuk miliknya.
"Tunggu....tunggu, kalau kalian ketemu di jalan berarti kamu tadi ga pake helm donk?" Ken yang penasaran terlihat melebarkan bola matanya.
"He'em," Rea menjawab sambil masih menikmati bakso tusuknya.
"Sumpah ni jajan enak banget," pikir Rea.
Rea berhenti mengunyah, kemudian berpikir
"Apa maksud Ken kejadian pas pertama kali kami bertemu dan berkenalan didepan gerbang sekolah, saat itu memang Elang meninggalkannya begitu saja."
"Tapi itu udah biasa buat aku, ditolak Elang," ucap Ken.
Rea tiba tiba tersedak kuah bakso tusuknya.
"Maksud kamu ditolak? kamu pernah nembak tuh cowok?" Rea melihat kearah Elang sambil memegang dadanya yang agak sakit karena tersedak.
"Elang dulu teman sekelas aku, karena sering ikut lomba basket dan ga pernah ikut pelajaran, dia sedikit terlambat mengejar pelajaran, sebenarnya bisa-bisa aja sih naik kelas, Elang ga se bodoh itu dipelajaran, tapi aku ga tau kenapa orang tua nya memilih meminta ke pihak sekolah supaya Elang ga naik kelas."
Rea terkejut satu informasi penting dia dapat lagi, om Andi bilang kakaknya kemungkinan setingkat dengan dia karena pernah tidak naik kelas.
"Ada kemungkinan tambahan, Elang adalah kak langit yang aku cari."
"Apa ada cewek yang tidak tertarik pada Elang?" tanya Ken lagi.
"Apa maksudnya? Kenapa berkata dan Bertanya seperti itu?"
__ADS_1
"Aku sarankan jangan terlalu dekat dan baik kepada Elang, karena kamu tidak akan tau kapan tiba-tiba bisa menyukainya," bibir Ken tersenyum Ken, tapi kata-katanya seperti memperingatkan adik kelasnya itu.
"Tidak mungkin, aku sudah punya orang yang aku sukai," jawab Rea.
Ken seperti mendapat angin segar, sepertinya gandengan tangan Elang ke Rea tadi pagi hanya kebetulan, gadis ini tidak punya perasaan apa apa pada Elang.
"Syukurlah," batin Ken
Ken menyadari kalau Rea adalah gadis yang baik, dia cantik, manis, ceria dan imut, tipikal gadis yang gampang mencuri hati cowok, dia takut Elang bisa saja tiba-tiba menyukai gadis itu.
Ken kemudian menyerahkan HP nya ke Rea
"Minta nomor HP mu ya Re."
Rea tersenyum kemudian menuliskan nomornya dikontak HP milik Ken.
Bel tanda masuk berbunyi, anak-anak mulai berjalan dan berlarian kembali ke kelas mereka. Sevia dan Cindy sudah duduk dibangkunya. Sevia menanyakan kemana saja Rea selama jam istirahat, gadis itu menceritakan sehabis dari perpustakkan Ken mengajaknya pergi jajan dibelakang sekolah. Sontak Sevia membelalakkan mata mendengar cerita Rea.
"Kamu temenan sama Ken?, lagian apa kamu ga tau? disini dilarang jajan diluar Re," bisik Cindy.
"Aku ga jajan diluar, aku belinya masih didalam gerbang, aku ga keluar kok," Rea mengelak sambil tersenyum.
"Sama aja," ucap Cindy gemas.
"Hanya anak yang berani kena hukuman aja yang berani jajan diluar," imbuh Sevia.
Rea tertawa terbahak-bahak, Berarti Ken tadi sudah mengajaknya melanggar aturan sekolah, tak mengapa toh ketua kelasnya juga tadi jajan diluar begitu pikir Rea sambil melihat ke arah Elang.
Elang yang sedari tadi memperhatikan Rea sedikit kaget melihat gadis itu menatap ke arahnya, cowok itu berkata tanpa bersuara.
"Apa?"
Rea hanya menggelengkan kepala, menoleh ke arah Sevia dengan masih tersenyum, kemudian serius bertanya ke temannya itu.
"Ken bilang Elang pernah ga naik kelas, bener ga Sev?"
"Iya bener, seharusnya sekarang dia dikelas XII," Jawab Sevia.
Dua poin penting untuk Rea.
"Namanya Langit dia tidak naik kelas satu kali, aku harus bisa segera menemukan identitas orang tuannya, untuk memastikan."
Rea mengatupkan kedua bibirnya.
"Lalu, memang ada apa dengan Ken kenapa tadi kamu dan Cindy seperti terkejut?"tanya Rea penasaran.
"Ken adalah gadis populer di sekolah ini, bahkan banyak anak sekolah lain yang naksir dia, tapi dia suka sama Elang," bisik Sevia.
__ADS_1
"Dia nembak Elang berkali-kali tapi di tolak, dan dia anak pak Alif, kepala sekolah kita," ucap Cindy.
"Apa?" Rea terkejut mendengar penjelasan kedua temannya.