Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 95 : Wajah Berharga


__ADS_3

Ujian akhir semester telah berlalu, semua anak kelas XI merasa lega tak terkecuali kelas XII yang sebentar lagi menyambut kelulusan mereka.


Rea berjalan kembali menuju kelasnya setelah mengembalikan beberapa buku yang dia pinjam dari perpustakaan sekolah, langkahnya terhenti saat Ken tiba-tiba berdiri didepannya dan mengajaknya pergi ke kantin.


Kedua gadis itu duduk berhadapan, Rea memilih diam sambil menggigit sedotan es teh digelasnya, sementara Ken beberapa kali mendesah, gadis itu berkata belum rela meninggalkan sekolah tercintanya, banyak kenangan manis ditempat dimana ia mengenyam pendidikan tiga tahun ini.


Kinanti berkata bahwa dia sudah mendaftar disebuah Universitas ternama dikota ini, Rea hanya terdiam sambil sesekali tersenyum mendengar curahan hati kakak kelasnya itu.


Sampai Kinanti bertanya apakah rumor yang mengatakan bahwa dia dan Elang adalah kakak adik itu benar, Rea hanya menganggukkan kepala, dia sadar cepat atau lambat semua orang pasti akan tau bahwa dia dan Elang adalah saudara kandung.


Tanpa berpikir siapa yang menyebarkan rumor seperti itu, Rea lebih memilih untuk menikmati hubungannya dengan Elang.


Ken lalu bercerita bahwa dia dan Arkan juga hanya berteman seperti anak-anak yang lain, seperti ingin memberitahu adik kelasnya itu agar tidak salah paham dengan kedekatan mereka.


Rea hanya tersenyum, didalam hati ia tahu betul bahwa Arkan tidak mungkin bisa menyukai gadis lain selain dirinya, begitu besar rasa percaya diri gadis itu tentang perasaan sahabatnya.


Disela obrolan dengan Kinanti, Rea sesekali melihat kesekeliling, entah kenapa dia merasa sekolah lebih sepi, memang semua anak tinggal menunggu hari sabtu untuk menerima hasil belajar mereka selama setahun, ia penasaran biasanya para siswa akan memenuhi kantin tapi dia hanya melihat beberapa meja kantin yang terisi.


Tiba-tiba pak Alif beserta pak Lucky berjalan tergopoh diikuti guru BK mereka, sontak Kinanti dan Rea penasaran, kemudian mengikuti langkah ketiga guru mereka dari belakang.


Mereka terkejut mendapati kerumunan anak diparkiran belakang sekolah, pak Alif menyibak kerumunan itu, alangkah terkejutnya Rea dengan apa yang dia lihat disana.


Elang sedang menindih dan memukuli seorang siswa yang Rea tau adalah kakak kelas mereka, mukanya sangat familiar karena siswa itu adalah salah satu kakak pembina pramukanya di perkemahan kemarin.


Sementara tak jauh dari sana Arkan juga terlihat sedang mencengkeram kerah baju kakak kelasnya. Pak Alif langsung menarik badan Elang untuk berdiri dari atas tubuh temannya, sementara pak Lucky memilih melingkarkan lengannya ke leher Arkan untuk membuat anak itu berhenti memukuli kakak kelasnya.


Sang guru BK meminta anak-anak untuk bubar, sementara Ken dan Rea masih berdiri disana, gadis itu memandang bingung ke arah Arkan dan Elang bergantian.


Kelimanya digelandang ke ruang BK, benar saja dua cowok itu melawan tiga orang kakak kelasnya, tapi yang satu lebih memilih kabur dan mengadu ke guru mereka.


Elang menatap Rea dengan wajah penuh penyesalan, begitu juga dengan Arkan, gadis itu begitu penasaran dengan apa yang sedang terjadi.


Didalam ruang BK kelima anak itu disidang oleh guru mereka, dengan menahan memar dan rasa perih dimuka dan badan mereka, satu persatu mereka bersahutan mengucapkan kalimat pembelaan.


❤❤❤❤❤

__ADS_1


Rea terdiam didalam kelasnya setelah mendengar cerita salah satu temannya yang mengetahui penyebab perkelahian dua cowok yang dekat dengan dirinya itu, ternyata sang kakak kelas yang pertama kali memulai dengan mengolok-olok Rea didepan Elang, dan tanpa mereka sadari Arkan berada didekat mereka, cowok itu mendengar apa yang diucapkan kakak kelasnya, dan langsung memukul wajah kakak kelasnya.


"Rea itu memang seksi, cantik dan kaya, pantas kamu menjadikannya pacar, dan lagi cowok di kelas XI4 yang juga menyukainya, pasti gadis itu bahagia digilir oleh kalian, apa kamu sudah pernah menikmati tubuhnya? "


Elang sudah mengepalkan kedua tangannya, tapi dia kalah cepat dengan Arkan yang langsung berlari dan memukul wajah kakak kelasnya. Mereka kemudian terlibat baku hantam.


Rea merasa sakit hati mendengar cerita temannya, tiba-tiba air mata menetes di pipinya, ucapan kakak kelasnya itu seperti pelecehan ditelinganya, Cindy dan Sevia hanya bisa menepuk pundak gadis itu dan mengelus punggungnya untuk menenangkan.


Gadis itu kemudian berdiri dari bangkunya berlari keruang BK, mendobrak masuk kedalam ruangan yang membuat orang-orang didalam sana terkejut, Kemudian PLAKKKK


Rea menampar wajah kakak kelasnya yang mengucapkan kata hinaan didepan pacarnya tadi, untuk beberapa saat semua orang terdiam, mereka tidak percaya apa yang sedang gadis itu lakukan.


"Coba ulangi apa yang kamu bilang ke Elang tadi soal sudah pernah menikmati tubuhku, kamu pikir aku pela~cur? Kamu pikir aku takut sama kamu?" ucap gadis itu sambil menangis.


Arkan yang berdiri lebih dekat dari Rea memegang lengan gadis itu untuk menenangkannya.


Rea kemudian menatap ke arah pak Alif dan guru BK nya.


"Jika Arkan dan Elang sampai diberikan hukuman, saya akan meminta orang tua saya untuk melaporkan dia dengan pasal pencemaran nama baik," ucap Rea sambil menunjuk kakak kelasnya.


Pak Alif hanya bisa menghela napas, kemudian meminta guru BK memberikan skor untuk Elang dan Arkan, sementara untuk ketiga kakak kelas mereka sekolah merasa percuma memberi sanksi skor karena beberapa hari lagi mereka juga akan lulus dari sana, tapi pak Alif meminta orang tua mereka datang agar setidaknya tau perbuatan anaknya.


❤❤❤❤❤


Mereka semua keluar dari ruang BK, Rea berjalan didepan Elang dan Arkan yang terlihat meringis memegangi bibir dan pipi mereka, tiba-tiba gadis itu membalikkan badannya sontak semua cowok dibelakangnya kaget, tak terkecuali ketiga kakak kelasnya yang kemudian memilih ngacir melihat mata Rea yang melotot ke arah mereka.


Arkan dan Elang hanya tersenyum melihat kakak kelas mereka salah tingkah, lalu terdiam melihat gadis didepannya yang juga ternyata masih melotot ke arah mereka.


Saat bel pulang berbunyi Rea langsung menarik tangan Elang untuk keluar kelas menuju kelas XI4, Arkan terlihat keluar dari kelasnya sambil menyentuh luka disudut bibirnya, cowok itu kaget melihat Rea dan Elang yang bergandengan tangan, belum hilang rasa kagetnya Rea menarik tangannya, jadilah Rea berjalan sambil kedua tangannya memegang tangan Elang dan Arkan, gadis itu tidak peduli dengan pandangan aneh teman-temannya, sesampainya didepan gerbang ternyata pak Rahmat sudah menunggu, ia membuka pintu mobil mendorong Arkan masuk terlebih dahulu kemudian Elang.


Gadis itu memilih duduk disamping pak Rahmat, mengambil kantong plastik di jok mobil sebelum mendudukinya, ia sempat berpesan untuk membelikan plester dan obat luka kepada pak Rahmat sebelum menjemputnya.


Laki-laki paruh baya itu melihat dua anak yang duduk dikursi belakang, sambil sedikit meledek.


"Habis tawuran Mas?"

__ADS_1


Terang saja Arkan dan Elang hanya bisa terdiam saling pandang, melihat pantulan wajah Rea dari kaca spion yang juga digunakan pak Rahmat untuk melihat mereka tadi, gadis itu sudah menggelembungkan pipinya.


Rea meminta pak Rahmat menghentikan mobil di taman yang tak jauh dari sekolahnya, dia meminta kedua cowok itu duduk kemudian secara bergantian mengoleskan salep dan menempelkan plester diluka mereka.


"Terima kasih udah ngebela harga diri aku, tapi awas kalau kalian sampai bonyok lagi cuma gara-gara aku."


Arkan dan Elang hanya terdiam kemudian memandang ke arah gadis itu bersamaan.


"Wajah kalian terlalu berharga tau," ucap Rea sambil memegang sebelah pipi kedua cowok itu dengan tangannya.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


JANGAN LUPA LIKE 👍

__ADS_1


DAN VOTE BINTANG 🌟🌟🌟🌟🌟


__ADS_2