Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 80 Saling Cemburu?


__ADS_3

Elang melepaskan ciumannya, memandang Rea yang masih memejamkan mata, berlahan gadis itu membuka matanya lalu tersenyum, pipinya sudah semerah tomat, untung lampu disana tidak begitu terang, pasti dia akan sangat malu kalau Elang sampai menyadarinya.


"I love you," ucap Elang membuat Rea semakin malu, gadis itu hanya diam terpaku.


"Kenapa tidak menjawab" tanya Elang sambil meraih tangan gadis didepannya.


"I love you too," jawabnya tersipu.


Elang dan Rea tertawa bahagia merasakan manis indahnya cinta diusia mereka, sejenak gadis itu lupa dengan tujuannya.


Rea masuk kedalam rumah setelah melihat pacar yang mengantarnya pulang berbelok keluar gerbang. Menepuk-nepuk pipinya yang masih bersemu merah, sesekali mengusap bibirnya dan tersenyum sendiri.


Saat akan masuk ke kamarnya dia ingat akan sahabatnya yang merajuk sedari pagi, mengetuk pintu kamar Arkan, tidak ada suara dari dalam, gadis itu membuka pintu kemudian masuk, kamar Arkan gelap hanya di terangi lampu tidur disamping ranjang, mata Rea melihat Arkan berada di balik selimut tapi cahaya didekat cowok itu menandakan dia masih sibuk bermain dengan smartphone nya.


Gadis itu langsung melompat membaringkan tubuhnya disamping Arkan,menatap langit-langit kamar, cowok itu tidak bergerak sama sekali.


Rea memiringkan badannya, menujuk-nunjuk punggung Arkan yang membelakangi nya dibalik selimut dengan jarinya.


"Ar.. Arkan.. Mau sampai kapan marahnya?"


Cowok itu menggerakkan punggungnya memberi tanda kalau dia tidak ingin disentuh.


"Aku tadi mencium Elang, rasanya beda saat kamu mencium aku," cerita gadis itu tanpa filter sedikitpun membuat Arkan meletakkan HPnya kemudian membuka selimutnya berbalik menghadap Rea, sontak gadis itu kaget karena sekarang wajah mereka begitu dekat.


Rea reflek memegangi dadanya lagi, entah kenapa dari pagi Arkan selalu membuat jantungnya seperti melompat-lompat didalam sana.


"Apa kamu yang mencium nya duluan?" tanya Arkan penasaran.


"Hem.., aku menciumnya sekilas."


Rea tidak bercerita kalau setelah itu Elang menciumnya lagi dengan durasi yang lumayan lama, bahkan dengan gaya seperti drama yang pernah dia tonton.


"Wah... kamu benar-benar ya Re, sampai kapan kamu akan seperti ini?"


"Seperti ini apa?"


"Kamu tau aku menyukaimu tapi dengan santai nya bercerita tentang cowok lain, bahkan kamu dengan bangga pamer menciumnya."


"Aku hanya ingin memastikan perasaanku, tapi Ar bukannya aneh, menurutku kamu itu cuma suka sama aku sebagai sahabat, tidak mencintaiku seperti layaknya cowok ke cewek, bukti nya kamu tidak pernah cemburu dengan apa yang aku lakukan sama Elang"


"Elang berkata dia mencintaiku," lanjut Rea.


"Dan apa kamu juga bilang mencintainya?"


Rea hanya terdiam tidak berniat menjawab pertanyaan Arkan.


"Aku juga mencintaimu Re," ucap Arkan.

__ADS_1


"Tapi kenapa kamu tidak pernah menunjukkan rasa cemburu ke aku?"


"Aku ini sedang cemburu tau, tapi apa aku harus marah-marah seperti orang gila? toh aku ini siapa? Bukan siapa-siapa kamu, untuk apa menunjukan rasa cemburu yang berlebihan."


"Ar apa tidak boleh aku punya dua pacar?"


"Apa maksud mu?"


"Enggak, gapapa" Rea beranjak bangun dari samping Arkan.


"Kakimu gimana?"


"Udah mendingan."


"Tidurlah! semoga besok pagi kakimu bisa lebih baik dari sekarang, aku juga udah ngantuk, selamat malam," ucap Rea sambil berlalu meninggalkan Arkan dengan rasa penasaran di otak dan sesak didadanya.


****


Sebuah mobil mewah berhenti didepan gerbang sekolah, sang sopir sudah ingin keluar untuk membukakan pintu untuk orang yang duduk disampingnya, tapi kalah cepat dengan gadis yang duduk dibelakang, dia membukakan pintu untuk Arkan, membantu memapahnya keluar mobil, cowok itu sudah bisa berjalan tapi masih sedikit terpincang.


Rea melingkarkan tanggannya dilengan Arkan, membantunya berjalan masuk ke gerbang sekolah, tiba-tiba dari belakang sebuah tangan melingkar dilengan Arkan, cowok itu menoleh melihat wajah yang sangat dia kenali.


"Lepasin aja!, biar aku yang bantu mapah dia," perintah Elang ke pacarnya.


Rea kemudian melepaskan tanggannya dari lengan Arkan, kemudian membantu cowok itu melepaskan tas dari punggungnya.


"Ah ga usah," ucap Arkan sambil melepaskan lengannya dari tangan Elang, merebut tas yang dipegang Rea, kemudian berjalan meninggalkan dua orang itu dengan kaki yang masih agak diseret.


"Udah lah Ar, jangan kayak gini, kalau kakimu tambah sakit nanti kamu sendiri yang rugi."


Elang berjalan cepat mendekat, meraih tas Arkan.


"Sini gue bawa'in! Gue gapapa kalau elo emang pengen digandeng sama cewek gue," ucapnya.


Kalimat Elang membuat Arkan menghentikan langkah kakinya, matanya memandang ke arah cowok itu.


"Gue tau Rea ga punya perasaan apa-apa sama loe," Elang memandang ke arah pacarnya yang hanya terdiam.


Mereka berdua akhirnya mengantar Arkan sampai ke kelasnya, cowok itu duduk dikelas sendirian sementara siswa yang lain mengikuti upacara bendera.


Saat jam istirahat Rea membawa sebuah kantong plastik berisi beberapa snack dan minuman untuk Arkan, saat berjalan mendekat ke kelas cowok itu Rea mendapati Arkan sedang duduk bersebelahan dengan Ken didepan kelas, sepertinya dia terlambat karena Arkan sudah terlihat memegang botol air mineral.


Namun Rea tetep mendekat, menyapa Ken kemudian menyerahkan kantong yang dia bawa ke Arkan.


"Elang bilang kamu besok mau ikut ke panti asuhan?" tanya Ken.


"Iya" jawab Rea singkat sambil memandangi Arkan yang terlihat menunduk melihat kakinya.

__ADS_1


"Baguslah, lebih banyak yang datang pasti adik-adik panti makin senang."


Ken berdiri kemudian pamit untuk kembali ke kelasnya. Arkan memandang punggung kakak kelasnya itu sampai menghilang dari koridor.


"Perhatian banget ya Ken sama kamu," ucap Rea dengan nada sedikit ketus.


Cowok itu menatap ke arah gadis yang di sukainya dengan pandangan bertanya-tanya.


"Apa tidak boleh kalau ada cewek yang perhatian sama aku?"


"Siapa yang bilang tidak boleh, aku kan cuma nanya," Rea menekuk bibirnya.


Gadis itu kemudian berbalik ingin pergi meninggalkan cowok itu, tapi Arkan lebih dulu menangkap pergelangan tangan Rea.


"Jam istirahat masih lama, diduklah! bukain ini untukku!"


Arkan memperlihatkan kantong plastik putih berisi snack yang diberikan Rea kepadanya tadi.


Gadis itu kemudian duduk disampingnya, mengambil satu buah keripik bermicin yang digemari anak-anak satu sekolah.


Rea memandangi bungkus keripik itu, kemudian menghela napasnya "Ar maaf yang ini rasa udang" menaruh keripik itu disampingnya.


"Kamu mau nyoba bikin aku alergi?" canda Arkan.


"Aku buru-buru tadi ngambilnya, karena pengen cepet-cepet nyamperin kamu ke kelas" tangan gadis itu sudah sibuk mencoba membuka satu buah snack lagi.


Terlihat Rea kesusahan membuka bungkus snack itu dari atas, Arkan merebut snack itu kemudian menyobekknya dari samping.


"Ribet banget deh kamu tu," menyodorkan snack yang sudah terbuka ke gadis disebelahnya.


Rea nyengir,kemudian menyuapkan snack itu kedalam mulutnya sendiri.


"Bilangnya buat aku, tapi malah dimakan sendiri," ucap Arkan.


"Lha salah siapa kamu kasih'in ke aku tadi," elaknya.


Arkan tertawa kemudian merebut snack itu dari tangan Rea. Mereka mengobrol berdua sampai bel tanda masuk berbunyi.


-


-


-


-


-

__ADS_1


-


Thanks you so much buat kalian reader yang sudah mau baca dan LIKE 😘 jangan lupa tinggalkan KOMEN dan pencet lambang LOVE ya, jika berkenan VOTE dan share cerita ini biar makin banyak yang baca 💕💕💕


__ADS_2