
Sebuah mobil mewah berhenti didepan rumah bernomor B10, seorang laki-laki turun kemudian bi Ulfa dan pak Rahmat menyambutnya, mereka sudah mendapat informasi kalau tuan mereka akan datang kesana. Pak Rahmat membantu membawakan koper tuannya, sementara bi Ulfa segera mengambil teh yang sudah dia siapkan tadi.
Lidia terlihat menyilangkan tangannya didepan dada melihat laki-laki yang masih sah secara hukum menjadi suaminya itu tiba-tiba datang kesana, sudah duduk dengan santai di sofa ruang tamu.
"Mau apa kemari?" tanya Lidia tanpa menanyakan kabar atau keadaan Farhan yang baru saja selesai menjalani operasi transplantasi ginjal.
"Aku hanya ingin bertemu anakku," jawab Farhan
"Anakmu? anak yang mana yang kamu maksud?"
Farhan melemparkan sebuah amplop putih yang dia letakkan disampingnya keatas meja ruang tamu, Lidia melihat ada logo sebuah rumah sakit ternama disana.
"Anak perempuanku, siapa lagi?" jawab Farhan.
Wanita itu terlihat menghela napas kesal, bahkan mulutnya hanya bisa menganga tanpa bisa mengeluarkan kalimat yang ingin dia ucapkan melihat sikap laki-laki didepannya.
"Hubungi pengacaramu, aku akan menandatangani surat cerai seperti yang kamu inginkan, tapi jangan ganggu atau menyentuh Rea, jangan coba-coba merebut anak itu dariku," mata Lidia sudah menggenang.
"Kalau kamu ingin anak, ambil saja anak Maya, jangan pernah kamu coba untuk mengambil Rea ku," lanjutnya.
"Apa yang kamu bicarakan? kamu pikir anak sebuah barang?" suara Farhan agak meninggi menjawab setiap kalimat yang keluar dari mulut istrinya itu, yang sama sekali tidak terlihat ramah menyambut kedatangannya.
"Kalimat yang baru kamu ucapkan itu sangat lucu, apa kamu tidak sadar bagaimana sikapmu ke anakmu sendiri selama ini, apa kamu pernah memberi perhatian ke Rea? apa pernah kamu menyayanginya?, bahkan mungkin sebenarnya kamu tidak menginginkan Rea lahir."
"Kalau aku bilang aku kesini untuk memperbaiki hubungan kita, apa kamu akan percaya?" tanya Farhan ragu.
"Tidak segampang itu Farhan, tidak segampang itu," ucap Lidia sambil berlalu meninggalkan suaminya, tangannya terlihat menghapus buliran air mata yang menetes di pipinya.
Farhan menghela napasnya, menyandarkan punggungnya ke sofa, bi Ulfa yang datang meletakkan secangkir teh didepan tuannya tidak berkata apa-apa, sampai laki-laki itu memintanya memanggilkan anak Andi.
Arkan mendekat kemudian mencium punggung tangan Farhan, ia juga terkejut kenapa laki-laki itu tiba-tiba sudah ada dirumah gadis yang dia sukai.
"Papamu cerita kalau Rea sudah menemukan kakaknya, apa benar?" tanya Farhan to the point.
Arkan sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan laki-laki itu, tapi bukankah kurang ajar jika dia hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaan orang yang dia harap dimasa depan bisa menjadi ayahnya juga.
__ADS_1
"Iya, Rea sudah menemukan Langit kakaknya, anak laki-laki om."
Cowok itu melihat ekspresi wajah Farhan yang benar-benar masih sama seperti sebelum dia menjawab pertanyaannya tadi, wajah laki-laki itu tidak terlihat kaget ataupun menunjukkan rasa senang.
"Apa yang akan om lakukan? aku mohon jangan sampai menyakiti Rea lagi, dia sudah cukup menderita selama ini om."
Laki-laki mengehela napasnya, merasa benar-benar seperti orang jahat.
"Rea dan Elang saling menyukai," ucap Arkan.
"Elang?" tanya Farhan karena tidak mengerti.
"Anak om yang bernama Langit itu memiliki nama panggilan Elang. Dia dan Rea sekarang sedang pacaran," ungkap Arkan.
"Apa?" laki-laki itu membelalakkan matanya.
"Mereka tidak boleh pacaran," Farhan mengambil teh didepannya kemudian meminumnya.
"Karena mereka adalah saudara sedarah, mereka sama-sama anak om."
Arkan terkejut mendengar pernyataan yang keluar dari mulut laki-laki itu, ia bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Kapan ayah datang?" tanya Rea sedikit gemetaran.
"Apa kamu tidak ingin mengenalkan temanmu ke ayah?" laki-laki itu tidak menjawab pertanyaan anaknya tapi malah balik bertanya.
Elang kemudian melangkah kedepan Rea menyapa laki-laki yang dia tau adalah ayah pacarnya.
"Perkenalkan om saya Elang," ucapnya sambil ingin mengulurkan tangan ke Farhan, tapi Rea memegang pergelangan tangan pacarnya itu dan menurunkannya kebawah, sontak Elang kaget dengan sikap gadis itu.
Rea menatap cowok disampingnya yang masih tidak tau tentang hubungan rumit diantara mereka.
"Lang sebaiknya kamu pulang, kabari aku setelah sampai rumah oke," gadis itu menarik tangan Elang keluar rumah, cowok itu terlihat bingung menundukkan kepalanya ke arah Farhan untuk pamit, mengikuti tarikan tangan kekasihnya.
"Kenapa? apa ada masalah? apa ayahmu tidak memperbolehkan kamu punya pacar, ada apa Re? apa semua baik-baik saja," tanya Elang penasaran sambil mengikuti langkah kaki gadis itu yang masih menariknya sampai kedekat motornya yang terparkir di halaman rumah.
__ADS_1
"Bukan soal itu, nanti kalau waktunya tepat aku akan cerita semua ke kamu, ini sudah sore sebaiknya kamu pulang," pandangan mata Rea seolah memohon membuat Elang tak kuasa untuk menolak permintaan pacarnya itu.
"Tapi janji kamu akan benar-benar cerita,"
Rea menganggukkan kepalanya, masih berdiri menunggu Elang memakai helm nya dan memastikan cowok itu benar-benar pergi meninggalkan rumahnya, baru ia masuk lagi kedalam rumah.
"Maaf yah, aku merasa sangat lelah, tidak ingin bicara apa-apa dulu, apa yang ingin aku sampaikan ke ayah dan apa yang ingin ayah tanyakan ke aku mari kita bicarakan besok, aku tau ayah juga pasti lelah karena sudah jauh-jauh datang kesini, lebih baik ayah istirahat, disini hanya ada tiga kamar aku tau ayah tidak mungkin tidur sekamar dengan mama, pakailah kamar Arkan, biar Arkan tidur dikamarku dan aku bisa tidur dengan mama," gadis itu mengucapkan kalimat panjang sebelum pergi dari ruang tamu menuju ke kamarnya, meninggalkan Farhan yang benar-benar diacuhkan oleh dirinya dan Lidia.
Arkan kemudian menyusul Rea yang sudah menaiki anak tangga menuju kamarnya, saat sudah didepan pintu kamar gadis itu, Arkan berbicara dengan agak sedikit berbisik.
"Kenapa kamu harus tidur dikamar tante Lidia? Aku bisa balik ke kos" ucapnya.
Rea menatap ke arah Arkan, tidak ada suara tangis tapi air matanya sudah membanjiri kedua pipinya, sontak cowok itu kaget.
"Ar, jangan pergi dari sini, aku ga mau sendirian" tangis Rea pecah, gadis itu berjongkok memakai lututnya sebagai tumpuan kedua tangannya, kemudian menunduk membenamkan kepalanya menangis terisak didepan pintu kamarnya.
Arkan hanya bisa berdiri menunggu gadis itu sampai selesai menangis, karena dia merasa bingung harus berbuat apa.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
__ADS_1
Thanks for your kindly support
Don't forget LIKE, VOTE an KOMEN đź’•đź’•