Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 47 Kakek (2)


__ADS_3

Pagi itu Andi dikejutkan dengan kabar kalau om Heru kritis, Farhan dan dirinya kemudian pergi ke rumah sakit dinegara XX untuk segera melihat keadaannya.


Pesawat pribadi milik perusahaan sudah siap membawa mereka terbang. Andi melihat jelas kalau Farhan benar-benar kawatir, apapun yang terjadi diantara mereka, om heru tetaplah ayah kandungnya.


"Bukankah kemarin mereka bilang kalau papa baik-baik saja?, kenapa seperti ini" Farhan memukul kursinya


"Tenang lah Han, sebentar lagi kita sampai, semoga papamu baik-baik saja"


Setelah hampir 4 jam perjalanan mereka sampai dirumah sakit yang merawat kakek Rea itu, seorang dokter terlihat berbicara kepada mereka, terlihat Farhan mendekap kepalanya dengan kedua tangannya, kemudian memukul tembok berkali-kali setelah mendengar perkataan dari dokter. Andi hanya bisa menenangkan sahabatnya itu.


Dokter mengatakan bahwa hidup ayahnya sekarang sudah tergantung dengan alat penunjang yang menyambung nyawanya. Farhan diminta bersabar menunggu keajaiban Tuhan, atau secara sukarela menandatangani surat permintaan untuk mencabut semua alat yang dipasang ke tubuh papanya, membiarkan papanya pergi dengan tenang. Sungguh pilihan yang menyakitkan bagi seorang anak.


Farhan dan Andi Masih duduk didepan ruang ICU kemudian datang seoarang wanita tua dan seorang laki-laki yang Farhan kenal, Martha bibi Farhan dan Joe anaknya, bibinya memang sudah puluhan tahun menetap dan menjadi warga negara disini, itulah yang membuat Farhan tenang papanya tinggal lama disini, karena ada bibi dan keluarganya.


Bibinya mengajak Farhan kerumahnya karena ada yang ingin dia sampaikan kepada keponakannya itu. Farhan ikut kerumah bibinya di temani Andi, rumah bibinya terlihat sepi karena menantu dan ketiga cucunya sedang pergi keluar.


Bibi Martha meminta Joe mengambil sebuah amplop dimeja kamarnya, kemudian meminta untuk diserahkan kepada Farhan.


"Ini adalah surat wasiat yang dititipkan ayahmu, dia meminta bibi untuk memberikannya kepadamu kalau kamu datang kesini"


Farhan membuka amplop coklat didepan nya, mengeluarkan sebuah kertas di dalam nya, tangannya gemetar, melihat tulisan tangan ayahnya

__ADS_1


*Farhan,


Jika kamu membaca surat ini mungkin papa sudah tidak ada didunia ini, atau mungkin papa sedang di rumah sakit berbaring menunggu Malaikat menjemput papa.


Papa tau kamu sangat membenci papa karena kesalahan papa dimasa lalu, papa sangat menyesal, maafkan papa.


Papa berharap kamu bisa hidup bahagia setelah kepergian papa, papa sudah melakukan berbagai test dan treatment di sini, kata dokter ginjal papa sehat, dan hasilnya cocok denganmu, jadi setelah papa meninggal papa ingin kamu menerima ginjal papa dan hiduplah dengan suka cita, kartu nama dokter yang akan menangani hal ini sudah papa sertakan didalam amplop.


Untuk masalah istrimu, bagi papa dia menantu yang baik, hanya saja papa salah meminta kalian menikah, baik Lidia dan kamu sama-sama tidak bahagia, tapi papa mohon sayangilah Rea, dia selama ini sangat menantikan pelukan kasih sayang darimu.


Untuk perusahaan dan aset papa semua sudah diurus oleh pengacara papa, berjanjilah Farhan untuk selalu menjadi orang yang berguna bagi orang lain.


Papa menyayangimu*


Farhan meremas surat itu kemudian menangis sejadi-jadinya, menyesali segala sikap ke papanya selama ini.


Orang yang ada disana juga menangis, seperti ikut merasakan penyesalan dihati Farhan, Andi hanya bisa menepuk punggung Farhan.


Setelah tenang Farhan berdiri didepan kaca jendela rumah bibinya menatap kosong rumput hijau dihalaman, kemudian membuka amplop coklat tempat surat dari papanya tadi terdapat sebuah kartu nama dokter disana dan sebuah amplop kecil di dalam nya bertuliskan "untuk cucuku Rea"


Andi mendekat, kemudian menepuk Farhan pelan

__ADS_1


"Om Heru sudah pergi"


Farhan terdiam untuk beberapa saat, kemudian menangis menepuk-nepuk dadanya sendiri. Andi hanya bisa berdiri di samping sahabatnya itu tanpa berkata apapun karena sama terpukulnya seperti Farhan.


Andi kemudian memberi kabar kepada istrinya dan meminta agar memberi tau sekretarisnya, juga meminta untuk menghubungi Rea agar segera pulang.


------


Masih didanau lokasi terakhir study wisata kelas XI tahun ini, tiba-tiba pak Alif meminta seorang anak memanggil Rea, Rea mendekat kemudian orang yang berdiri di samping pak Alif memintanya untuk ikut pulang bersamanya karena ada hal mendesak, orang itu tidak cerita apa yang sebenarnya terjadi. Arkan yang melihat kemudian mendekat mengenali orang itu adalah anak buah papanya.


"Mas Arkan juga harus ikut pulang" kata Pria itu


"Memang ada apa?" tanya Arkan


Rea masih terdiam karena bingung kenapa tiba-tiba ada orang yang menjemputnya menyusul sampai sejauh ini.


"Saya hanya diminta pak Andi menjemput mba Rea dan Mas Arkan dan tidak tau alsannya" jawab Pria itu


Arkan dan Rea saling pandang kemudian mengambil koper dan tas dari bus mereka masing-masing, mengikuti pria itu ke mobil pergi dengan seijin pak Alif kepala sekolah,


Tanpa sempat berpamitan kepada guru dan teman mereka.

__ADS_1


__ADS_2