Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 14 Kantin


__ADS_3


Bel tanda istirahat berbunyi semua anak keluar kelas menyerbu kantin, tak terkecuali Cindy, Sevia dan Rea. Kantin disekolah itu cukup besar, kurang lebih modelnya seperti food court didalam mall.


Saat masuk ke kantin kursi yang tersedia disana sudah hampir penuh, kebanyakan siswa memilih makan disana meskipun ada juga yang membeli makanan kemudian pergi makan di tempat lain yang masih dilingkungan sekolah juga.


Mereka bertiga merasakan pandangan aneh dari anak-anak dikantin terlebih ke Cindy, gadis itu merasa ada yang salah dan memegang tangan Sevia erat.


"Aku ga lapar, aku ke kelas aja ya," ucap Cindy tiba-tiba.


Belum sempat Cindy berbalik, Rea sudah memegang lengan tangannya.


"Kamu ga salah, ga perlu takut," ucap Rea yang seperti tau perasaan temannya itu.


Cindy pun akhirnya mengikuti langkah Rea dan Sevia. Rea mengelurkan dompetnya, Sevia dan Cindy heran melihat lembaran uang berwarna merah dalam jumlah banyak dari dompet temannya itu, Rea mengambil sepuluh lembar kemudian menyerahkan diam-diam ketangan Cindy, sontak gadis itu terkejut dan melebarkan bola matanya.


"Teman-teman, hari ini Cindy mau traktir kita makan," teriak Rea.


Cindy terkejut, Sevia juga tak kalah terkejut tapi dia senang mendapat traktiran gratis kemudian dengan antusias memilih makanan.


Sementara disudut kantin, Elang dan pak Lucky guru olah raga yang duduk di satu meja ikut melihat dan mendengar apa yang sedang terjadi.


"Itu ya siswi baru di kelas mu?" tanya Pak Lucky.


"Iya pak," jawab Elang.


"Kamu ga pengen jadi pacarnya? bapak denger anak-anak cowok kelas bapak pada ngomongin dia," pertanyaan Pak lucky membuat Elang tersedak snack yang dimakannya.


Laki-laki itu dengan santai menyodorkan sedotan minumannya ke Elang, tapi cowok itu hanya menggelengkan kepala menolak sambil melihat ke arah Rea.


Ketiga gadis itu membawa makanan mereka kemeja yang sudah kosong. Cindy sudah bisa tersenyum apalagi Sevia yang terlihat senang dan memesan banyak sekali makanan. Saat mereka mulai mengobrol santai sambil menikmati makanan dengan sedikit ragu Rea memberanikan diri bertanya pada Cindy.


"Cindy maaf sebelumnya, tapi berapa sih hutang ayahmu ke ayah Karmila?"


Sevia yang juga penasaran menghentikan melahap nasi sotonya menatap ke arah temannya itu. Cindy meminum es teh miliknya sebelum menjawab pertanyaan Rea.

__ADS_1


"Tiga juta, tapi Karena ayah Karmila rentenir sekarang udah jadi empat setengah juta," jawab Cindy pilu.


Rea tertegun heran kemudian memakan rotinya sambil manggut-manggut.


"Cih.. suka banget sih dia makan roti," gumam Elang yang dari tadi masih menatap ke arah anak baru dikelasnya.


Rea berjalan kekelas seperti biasa sebelum masuk dia berhenti untuk cuci tangan, dan ternyata Elang sudah disana lebih dulu menggunakan kran air untuk cuci tangan.


Rea menunggu cowok itu selesai sambil berpikir "apa dia Langit yang aku cari?"


"Hoi.. Ngelamun," hardik cowok yang sedang ia pikirkan.


Dia pun kaget dan baru tersadar setelah mendapat hardikan dari Elang.


"Apa didekat Sini ada ATM?" tanya Rea sambil menutupi rasa kagetnya.


"Keluar gerbang sekolah belok kanan, tapi kalau mau keluar harus ijin satpam," jawab Elang.


Rea menganggukkan kepalanya dan tersenyum "Makasih," ucapnya.


Elang sedikit tersipu mendengar ucapan terima kasih dengan senyuman manis dari teman barunya itu.


"Masa aku bawa kayak gini" pikirnya


Gadis itu melihat sekeliling mencari apakah ada toko didekatnya untuk membeli kantong atau amplop, ia menemukan sebuah toko foto copy tak jauh dari sana, Rea membeli satu buah amplop dan memasukkan uang yang dia ambil dari ATM barusan. Saat keluar dari toko dia tak sengaja melihat motor sport berwarna merah di halaman samping toko foto copyan itu, ia heran ternyata ada beberapa motor lain juga disana.


"Mas ini pada nitip motor disini?" Tanya Rea penasaran.


"Iya dek, mereka kan pada males harus nuntun motor sampai ke parkiran, jadi milih dititip di sini, apalagi tu motornya Elang segede gitu," tunjuk Mas itu.


Rea tertawa mendengar ucapan Mas pekerja foto copyan.


"Bener kan motor Elang," gumamnya.


Rea masuk kedalam kelas duduk di sebelah Cindy, mengambil tas anak itu kemudian memasukkan amplop berisi uang kesana. Cindy terlihat kaget kemudian melihat amplop yang Rea masukkan kedalam tasnya.

__ADS_1


"Re, ini apa?" tanyanya.


"Berikan ke bapakmu Sin," jawab Rea.


"Ga mau Re," Cindy sudah hampir mengelurkan amplop itu dari tasnya tapi tangan Rea buru-buru menghalangi.


"Ini ga cuma-cuma anggap aja ini hutang, tapi bayarnya kapan-kapan aja terserah kamu ga usah dipikir," Rea tersenyum lalu kembali kebangkunya.


Gadis itu melihat buku dimeja Sevia yang bertuliskan uang kas kelas, ia iseng membukanya tanpa ijin dulu ke pemiliknya, melihat daftar nama siswa dikelasnya, matanya menyapu tulisan mencari satu nama yang sudah dia pikirkan dari kemarin.


"Banyu Langit" jelas tertera namanya disitu dan bukan "Langit Biru".


Wajah Rea berubah kecewa tapi segera dia tutupi karena Sevia sudah duduk tepat disebelahnya.


"Oh ya ini sisa uang dari Cindy tadi dia nitip ke aku," Sevia menyodorkan uang ke Rea.


"Masukin ke kas kelas aja," Jawab Rea


"Siap Bos!"


"Bos apa? Bosen?" seloroh Rea sambil tertawa.


Tanpa sadar cowok yang duduk disudut paling belakang juga ikut tersenyum memandangi Rea dari tadi.


Jam pelajaran terakhir di kelas XI-2 adalah seni musik, Pak Anton sang guru seni Musik masuk ke kelas.


"Untuk penilaian tengah semester kalian, bapak akan membagi kalian kedalam kelompok, yang masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang, dan kelompok nya kalian sendiri yang pilih."


Anak-anak terlihat girang, mereka mulai Mencari teman untuk berkelompok, tapi kemudian pak Anton mengelurkan gulungan-gulungan kertas kecil memasukkannya kedalam bekas gelas air mineral. Anak-anak heran pak Anton mulai membagi papan tulis dengan tulisan nomor urut kelompok.


"Seperti yang bapak bilang kalian boleh pilih sendiri kelompoknya," sambil menunjukkan gelas plastik berisi gulungan kertas tadi.


Semua anak kecewa, Rea hanya tertawa geli ternyata guru nya bisa jahil juga.


Hampir semua anak sudah memilih kelompoknya tinggal beberapa yang belum, sekarang giliran Rea, gadis itu berdoa semoga setidaknya bisa satu kelompok dengan Sevia atau Cindy.

__ADS_1


Saat gulungan dibuka dia tertawa senang karena bisa satu kelompok dengan Cindy, jackpot untuk Rea, Elang juga ada dikelompok yang sama dengannya.


Rea tertawa tanpa sengaja saling pandang dengan Elang, tapi ekspresi wajah cowok itu hanya datar.


__ADS_2