
Arkan berakhir tidur dikamar Rea, gadis itu tidak mau mengganggu mamanya yang pasti juga masih terkejut mendapati suaminya datang secara tiba-tiba, ia meminta sahabatnya tidur dibawah dengan kasur tambahan yang dinaikkan lagi oleh pak Rahmat kekamarnya, kasur yang sama saat teman-temannya menginap disana minggu lalu.
Mereka belum tidur, Rea terlihat hanya memandang langit-langit kamarnya, sesekali terdengar hembusan napas dari mulut gadis itu, ia seperti merasa sedang cemas dan berusaha membuat dirinya tenang.
Arkan tau kalau gadis itu belum makan apapun sejak pulang dari panti asuhan tadi sore, karena dia tadi hanya menyantap makan malam bersama dengan Farhan, begitu juga Lidia, wanita itu juga tidak terlihat keluar dari kamar sejak suaminya datang.
"Re,apa kamu ga lapar? aku tau kamu belum makan sejak pulang tadi," suara Arkan memecah keheningan diantara mereka.
Gadis itu mengambil HP disampingnya melihat jam disudut kanan benda pipih itu, ternyata sudah hampir jam sepuluh malam.
"Kenapa besok musti tanggal merah sih," ucap gadis itu menyesali kenyataan bahwa besok ternyata hari libur, semua temannya sudah saling berbalas chat digroup kelas, meresa gembira dan bersyukur karena besok tidak masuk, jadi mereka terhindar dari ulangan matematika.
Arkan sedikit menegakkan badannya untuk melihat apa yang sedang dilakukan gadis itu diatas kasurnya, kemudian menyingkirkan selimut dan duduk menghadap Rea, gadis itu memiringkan badannya kemudian bergeser kebibir ranjang sambil menatap Arkan yang sedang duduk di kasur bawah.
"Aku bingung apa yang harus aku katakan ke ayah besok," ucapnya.
"Bukankah seharusnya kamu sudah bersiap, cepat atau lambat hari seperti ini pasti akan datang, dan pasti ada waktu dimana kamu harus jujur ke Elang," jawab Arkan.
"Aku belum berani memberi tahu Elang, saat ayah bilang aku bukan anaknya, jujur aku sangat sedih rasanya ingin menyusul kakek saja."
Arkan mengernyitkan dahinya, dia tau gadis itu pasti sangat sedih saat Farhan bilang dia bukan anak kandungnya, tapi ia tidak menduga kalau Rea benar-benar sangat terpuruk sampai berpikir seperti itu, benar-benar gadis itu terlalu pintar menyembunyikan perasaannya.
"Tapi setelah dekat dengan Elang, aku merasa bersyukur kalau ternyata benar aku bukan anak ayah, aku menyukai dia, aku menyukai Langit," ucap Rea sambil beruraian air mata.
Hati Arkan serasa ditusuk-tusuk melihat gadis yang dicintainya itu berkata menyukai cowok lain didepannya, tapi dia tidak bisa marah sama sekali ke Rea, ia malah menggeser duduknya mendekati bibir ranjang dimana sahabatnya itu sedang berbaring menghadap ke arahnya, tangannya terlihat menyentuh pipi gadis itu, mengusap lembut buliran air mata yang jatuh dari mata sahabatnya, Bumi.
"Semua akan baik-baik saja, tidak perlu takut ada aku," bisik Arkan.
Cowok itu melepaskan tangannya dari pipi Rea, tapi secepat kilat tangan gadis itu menyentuh punggung tangannya dan meletakkan kembali tangan itu kepipinya.
__ADS_1
Masih dengan posisi tangannya yang memegang tangan Arkan yang ia letakkan dipipinya sendiri, Rea berbisik ke arah sahabatnya itu "terima kasih Ar, terima kasih untuk semuanya, terima kasih untuk selalu berada disisiku."
Arkan hanya terdiam terpaku, ingin rasanya memeluk gadis didepannya sekarang juga, tapi dia takut kalau Rea tidak menginginkan pelukan darinya.
Gadis itu memejamkan matanya, tertidur dengan posisi masih memegang tangan Arkan dipipinya.
Pagi harinya mereka sarapan bersama, tentu ini hal yang terpaksa di lakukan oleh seorang Lidia, tapi bagi Rea makan bersama dengan ayah dan mamanya seperti sekarang adalah salah satu momen langka yang patut dia syukuri didalam hidupnya.
Mereka makan tanpa berbicara satu sama lain, Arkan yang canggung benar-benar ingin segara pergi dari sana, bahkan dia ingin kembali ke kosnya tapi permintaan dari gadis yang dia sukai sangat susah untuk ditolak. Selesai makan Farhan berkata ingin berbicara bertiga dengan Rea dan Lidia.
Arkan memilih keluar rumah untuk bermain basket di halaman. Ia beberapa kali mendribel bola kemudian melemparkannya masuk kedalam ring, sebuah mobil terlihat berhenti didepan pagar rumah Rea, Arkan tau betul siapa pemilik mobil itu, ia menghentikan sejenak apa yang dia lakukan, melihat sosok Elang masuk kedalam pagar berjalan mendekat ke arahnya.
"Apa Rea dirumah?" tanya Elang ke Arkan yang terlihat sedang memegang bola dengan kedua tangannya.
"Ada, tapi dia sedang rapat keluarga," jawab Arkan.
"Apa dia kena marah ayahnya karena berpacaran?" tanya Elang penasaran, dari kemarin hanya itu alasan yang bisa dia pikirkan saat melihat tindakan aneh Rea didepan ayahnya.
Elang berpikir sejenak, dia tidak mungkin pulang tanpa bertemu Rea, apalagi hanya berdiri disana menunggu gadis itu selesai rapat keluarga, akhirnya ia menerima tantangan dari cowok yang dia tau juga sangat menyukai pacarnya.
Arkan melempar bola keatas, mereka berusaha menutup pergerakan satu sama lain, saling merebut dan melakukan tembakan ke arah ring secara bergantian, Arkan memasang alarm diHPnya untuk menandai lama waktu mereka bermain, dia berhasil melakukan tembakan tiga angka nyaris bertepatan dengan bunyi alarm, membuat dirinya menang tipis dari Elang.
Kedua cowok itu terlihat mengatur napasnya kemudian duduk meluruskan kaki mereka.
"Aku menang, jangan lupa kamu harus Mengabulkan permintaanku," ucap Arkan sambil berusaha mengatur napasnya.
"Apapun itu asal jangan memintaku untuk putus dengan Rea," jawab Elang dengan suara napas yang tak kalah memburu.
Sementara didalam rumah, satu keluarga itu masih saling duduk terdiam dimeja makan, Rea berniat tidak akan berbicara sepatah katapun sebelum ayahnya membuka mulut atau mulai bertanya, sementara Lidia hanya berharap Farhan segera pergi dari hadapannya.
__ADS_1
"Jadi apa anak laki-laki yang pulang bersamamu kemarin itu Langit? Kakakmu?" suara Farhan memecah keheningan yang tercipta diantara mereka sesaat setelah Bi Ulfa mengambil gelas terakhir yang ada dimeja itu.
"Bagaimana mungkin dia kakakku kalau aku bukan anak ayah?" jawab Rea sedikit ketus.
Lidia hanya bisa memandang dua orang itu bergantian, tanpa ikut mengeluarkan suara sedikit pun.
"Ayah mau minta maaf," ucap Farhan yang membuat mata ibu dan anak itu melebar.
"Maaf untuk ucapan ayah yang berkata kamu bukan anak ayah," lanjutnya.
"Apa maksud ayah? aku benar-benar ga ngerti," wajah Rea benar-benar terlihat bingung.
Farhan menyodorkan amplop yang sudah dia perlihatkan kemarin ke Lidia tapi tidak disentuh wanita itu sama sekali. Rea mengambil amplop yang diberikan ayahnya, melihat sebuah nama rumah sakit ternama di Singapore, berlahan tangannya menarik dan membuka kertas putih berisi tulisan didalamnya, matanya mulai menyapu setiap kata yang terketik rapi disana.
Rea melihat bagian atas kertas itu yang bertulisakan DNA test report, tertulis jelas nama Farhan Pradipta, dirinya dan Lidia Haninditya, ia tidak paham dengan angka-angka didalam tabel yang tertulis disana, matanya langsung tertuju dibagian akhir dari laporan itu, yang dia yakini pasti kesimpulan dari angka-angka ditabel yang sama sekali tidak dia mengerti tadi, probability of parentage 99,9%, Rea menatap ke arah ayahnya setalah membaca kesimpulan akhir dari hasil test DNA ditangannya.
"Kamu anak kandung ayah," ucap Farhan.
Rea meletakkan kertas itu dimeja, kemudian memandang penuh tanya ke arah mamanya.
Lidia terlihat menghapus air mata dipipinya
"Mama juga ingin minta maaf, mama menukar hasil test DNA pertama kamu, karena mama takut kalau sampai Andi atau Ayahmu tau kamu anak kandungnya, mereka akan memaksamu untuk mendonorkan ginjalmu ke Farhan," ucap Lidia pilu.
Rea benar-benar terkejut, tubuhnya terasa lemas, dia menyandarkan punggungnya dikursi lalu menangis terisak, tak berapa lama ia memilih berlari keluar rumah meninggalkan kedua orang tuanya, gadis itu berjalan cepat sambil mengusap buliran air mata yang jatuh dipipinya, langkahnya terhenti saat melihat Elang dan Arkan sedang duduk berdua dihalaman, Elang langsung berdiri mendapati Rea keluar rumah.
Gadis itu menatap ke arah Elang, kemudian berlari menghambur ke arah pacarnya, dengan cepat memeluk pinggang cowok itu dengan kedua tangannya, menangis terisak didada Elang.
"Ada apa?" tanya Elang.
__ADS_1
Gadis itu tidak menjawab, tangannya makin mempererat pelukannya dipinggang cowok itu.
Aku datang untuk mencari kakakku Langit, tapi saat aku menemukannya aku malah jatuh hati kepadanya, sejenak aku lupa bahwa aku ini adalah bumi, kami tercipta dalam satu semesta tapi Tuhan tidak menakdirkan kami untuk bersama ~ Rea