Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 84 Maaf, Aku harus Jujur


__ADS_3

Rea masih memeluk cowok itu erat, ia melepaskan pelukannya ketika sadar Arkan berdiri didekat sana. Tanpa ia ketahui Farhan sudah berdiri didepan pintu rumah berniat mengejar anak perempuannya tadi, dia benar-benar ingin meminta maaf dan memeperbaiki hubungan dengan anak perempuannya itu, laki-laki itu menghela napasnya melihat pemandangan didepannya kemudian kembali masuk kedalam rumah.


"Kenapa? Ada apa?," tanya Elang sambil menatap dan mengusap air mata dipipi gadis itu.


Rea sedikit memundurkan badannya, mengusap air mata yang tersisa dipipinya saat Bi Ulfa berlari mendekat dan berkata Farhan menyuruh mereka masuk.


Rea menggelengkan kepala ke arah Bi Ulfa, menatap ke arah Elang, menanyakan dimana cowok itu memarkirkan motornya, Elang berkata kalau dia kesana membawa mobil dan ada diluar rumah, Rea menarik tangan cowoknya pergi dari sana, gadis itu memandang ke arah Arkan yang berdiri membatu melihat gadis itu memeluk cowok lain didepannya, matanya seolah memberi isyarat.


"Aku akan jujur padanya."


Arkan menahan pergelangan tangan Elang, sontak cowok itu berbalik kaget begitupun Rea yang sedang menarik tangan pacarnya menjadi ikut menghentikan langkah kakinya.


"Apa?" tanya Elang


Arkan sejenak berpikir kemudian melepaskan tangan saingannya itu.


"Tidak jangan sekarang, akan aku gunakan permintaanku disaat yang tepat," bisiknya dalam hati.


"Jangan lupa kamu hutang satu permintaan dariku," ucapnya.


"Hem.. Aku tidak akan lupa, jadi pikirkanlah baik-baik dulu apa yang kamu inginkan, kamu boleh minta apapun asal bukan pengecualian yang aku sebutkan tadi," jawab Elang.


Rea menatap kedua cowok itu bergantian, ada rasa penasaran dihatinya.


"Permintaan Apa?"


"Bukan apa-apa," jawab Elang kemudian berganti dia yang menarik tangan pacarnya pergi dari sana.


Gadis itu mengajak Elang untuk pergi ke kafe mamanya, tapi karena tanggal merah kafe itu tutup, cowok itu pergi mengajak Rea ke sebuah taman.


Taman terlihat masih sepi karena saat itu jam baru menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi, mereka duduk bersebelahan disebuah bangku. Rea manunduk menghela napasnya panjang, menggenggam tangannya sendiri yang ia letakkan diatas pahanya, kemudian ia menoleh ke arah cowok disampingnya yang sedang tersenyum kearahnya.


"Apa dia akan tetap tersenyum seperti ini setelah mendengar apa yang akan aku katakan."

__ADS_1


"Lang," gadis itu mulai membuka suaranya.


"Iya."


"Aku mohon dengarkan apa yang akan aku katakan sampai selesai, jangan nenyela ataupun bertanya sebelum aku selesai berbicara, apa kamu bisa?" pinta gadis itu.


"Hem..baik," jawab cowok berwajah cool itu sambil mengusap lembut rambut gadis disampingnya.


"Beberapa bulan sebelum aku pindah kesini dan sebelum kakek meninggal, ia bercerita bahwa ayahku pernah menikah dengan seorang wanita sebelum menikahi mamaku, dan saat itu ayahku sedang terbaring sakit dan membutuhkan donor ginjal."


Elang mendengarkan cerita Rea dengan serius, tangannya meraih tangan gadis itu untuk dia genggam.


"Aku diminta kakek untuk menemukan anak ayahku dari pernikahannya dengan wanita itu, karena kakek merasa sangat bersalah tidak merestui hubungan ayah dengan wanita yang saat itu sedang mengandung cucunya, untuk itulah aku pindah kesini, untuk mencari anak ayahku, mencari kakakku" lanjutnya.


Elang mulai mengernyitkan dahinya.


"Aku menemukan kakak yang aku cari, dan juga bertemu dengan wanita yang dicintai ayahku."


"Apa karena itu ayahmu tidak pernah menyayangimu? Karena dia masih memikirkan wanita itu dan anaknya?," tanya cowok itu yang lupa akan janjinya untuk tidak menyela omongan Rea.


"Kamu tau? wanita itu adalah tante Maya, kamu adalah anak ayahku, kakakku Langit yang harus aku temukan," tangis gadis itu pecah, dia menutup mukanya menggunakan kedua telapak tanggannya.


Elang terlonjak dari bangku yang ia duduki kemudian berdiri didepan Rea yang sedang menangis terisak, wajah cowok itu benar-benar menunjukkan keterkejutan dan mimik kebingungan.


"Aku ingin langsung jujur kepadamu saat tau kalau kamu adalah kakak yang aku cari, tapi aku tidak pernah berani, aku berusaha untuk tidak menyukaimu tapi aku malah sangat menyukaimu."


"Ayah bilang aku bukan anak kandungnya dan aku bahagia karena aku bisa bebas menyukaimu karena kita bukan saudara, tapi tadi baru saja ayah menyerahkan sebuah hasil test DNA dan disana tertulis aku adalah anak kandung Ayah, yang artinya kita saudara kandung," lagi-lagi tangis Rea pecah.


Elang hanya terdiam, membiarkan otaknya mencerna terlebih dahulu setiap untaian kalimat yang gadis itu ucapkan.


Maafkan aku, aku salah karena tidak jujur dari awal," ucap Rea sambil mendongak menatap wajah cowok yang berdiri didepannya.


"Jadi yang pernah kamu ceritakan bahwa ayahmu tidak pernah menyayangimu, apa alasannya karena dia masih mengharapkan aku dan mamaku?," tanya Elang.

__ADS_1


"Omong kosong macam apa ini Re? Aku sama sekali ga ngerti," lanjutnya.


"Aku juga berharap ini omong kosong Lang, bahkan aku berharap aku bukan anak kandung ayahku karena aku mencintamu," gadis itu masih menangis terisak sambil memukuli dadanya dengan tangan kanannya.


Mendengar kalimat terakhir diucapkan Rea, Elang baru sadar apa yang sebenarnya terjadi, bahwa dia dan gadis itu adalah saudara kandung, tapi mereka saling menyukai satu sama lain. Cowok itu kemudian memeluk Rea yang masih duduk didepannya.


"Semua akan baik-baik saja, tidak akan terjadi apa-apa, jangan memusingkan urusan orang dewasa," ucapnya sedikit ragu.


Setelah tenang Elang mengajak Rea untuk pergi kerumahnya, karena hari libur papanya juga tidak pergi bekerja. Mereka duduk diruang tamu, saat pacarnya masuk kedalam Rea menceritakan kembali apa yang sudah dia ceritakan ke Elang kepada Maya dan Banyu.


Maya terlihat menghela napasnya, sementara tidak nampak perubahan diraut wajah Banyu, mungkin profesinya sebagai jaksa membuatnya sudah terbiasa untuk tidak menunjukkan ekspresi berlebihan didepan orang.


"Karena Farhan sedang disini, sebaiknya kita selesaikan saja masalah ini dari pada berlarut-larut," ucap Banyu.


"Dia sudah melihat Elang, dan Elang juga sudah tau kalau dia bukan anak kandungku, sebaiknya dia bertemu dengan ayah kandungnya," Lanjut laki-laki berkacamata itu sambil menoleh ke arah istrinya.


Elang keluar dari dalam kemudian duduk disamping Rea.


"Telpon orang tuamu dan minta untuk bertemu satu jam lagi di kafe kami," perintah Banyu ke Rea.


Elang dan Rea terlihat bingung menerka-nerka apa yang akan orang tua mereka lakukan, kemudian Rea sadar dia tidak membawa HP, bahkan tas atau dompetpun tidak ia bawa karena tadi pergi begitu saja. Ia kemudian meminta Elang untuk menghubungi Arkan dan menyampaikan pesan ke orang tuanya.


Cowok itu menuruti apa yang kekasihnya perintahkan.


"Baik akan aku sampaikan, dan Lang, aku ingin menagih janji."~Arkan


"Secepat ini? Apa tidak ingin kamu pikirkan dulu?" ~Elang


"Tidak," ~Arkan


"Katakan apa yang kamu inginkan dariku," ~Elang


"Aku minta peluklah Rea saat dia menangis sambil memukul dadanya, karena kalau sampai seperti itu dia benar-benar sedang sangat sedih." ~Arkan

__ADS_1


"Aku sudah melakukannya tadi," ~ Elang


Arkan memandangi layar ponsel yang dia pegang dengan tangan kirinya, kemudian merebahkan badannya dikasur Rea, membiarkan tangan kirinya yang sedang memegang ponsel terkulai dikasur, cowok itu meletakkan lengan tangan kanannya untuk menutupi kedua matanya yang tengah ia pejamkan.


__ADS_2