
Mata Bu Ambar melotot melihat dua orang siswa yang bolos dijam pelajaran, dua anak itu sekarang berdiri menunduk diruang BK sambil mendengarkan nasihat dari guru BK nya.
"Kamu ya Arkan baru aja tadi pagi, ga ada sehari udah melanggar aturan sekolah lagi, buat naik motor lagi di lingkungan sekolah skor 15, pergi dari sekolah tanpa ijin skor 20, jadi dalam sehari ini kamu udah dapat skor 50, nanti ibu buatin surat peringatan, besok orang tua kamu harus kesini" ucap Bu Ambar tegas namun terkesan galak sambil menulis sesuatu di bukunya
"Tapi Bu, orang tua saya ga disini, mereka diluar Kota"
"Ya udah, pokoknya Minggu depan orang tua kamu harus kesini"
"Dan kamu ya Elang" Bu Ambar melotot ke arah Elang, sambil membenarkan kacamatanya yang sedikit melorot
"Kamu itu sadar ga kalau lebih senior, malah memberi contoh ke junior buat melanggar aturan sekolah"
"Maaf seperti nya ibu salah paham, kami pergi keluar sekolah nya ga sama-sama kok Bu" jawab Elang yang tidak ingin dianggap Bu Ambar akrab dengan saingan yang berdiri disebelahnya
"Ya pokoknya kalian balik ke sekolah berdua jadi ibu anggap kalian pergi sama-sama "
Elang hanya menganggukkan kepala, berdebatpun tidak ada gunanya sekarang, toh dia juga tetap akan mendapat sanksi skor.
"Ibu kasih kamu skor 20, ini skor pertama kamu, dan ibu harap ini juga menjadi skor terakhir, jangan ada lagi perbuatan melanggar aturan sekolah"
"Sekarang kalian berdua bisa kembali kekelas"
Kedua anak laki-laki itu berjalan menuju kelas, Arkan terlihat sedikit kawatir karena dia sadar belum ada satu bulan bersekolah disini tapi orang tuanya sudah harus dipanggil karena ulahnya.
Arkan terlihat mengacak-acak rambutnya.
__ADS_1
"Semangat ya, semoga nama loe ga dicoret dari kartu keluarga" Elang menepuk pundak Arkan kemudian berjalan cepat sambil tertawa
"Aanjirrrr lah" umpat Arkan
***
Usai jam sekolah Arkan pulang ke kosnya,sampai kamar dia langsung merebahkan diri diatas kasur,memandang langit-langit kamarnya seperti biasa, tersadar ada surat yang harus dia sampaikan ke orang tuanya, dibukanya amplop berlogo sekolahnya itu mengambil surat didalamnya, meletakkan diatas kasur kemudian mengambil gambar dengan HPnya, ragu-ragu dia kirim ke mamanya, tidak langsung ada balasan, Arkan membuang HPnya diatas kasur, memiringkan badannya, dan tidur.
Laras sedang menemani Aryan yang sedang Les privat iseng membuka ponselnya, siapa tau sahabatnya mengirim pesan karena dia tau Lidia pergi ke kota XX, tidak menemukan pesan dari orang yang dia cari, Laras malah terkejut mendapati pesan dari anak bujangnya.
Mama atau papa bisa ga kesekolah? Aku kena SP
Mata Laras membelalak melihat foto surat peringatan yang dikirim anaknya
"Ya ampun Arkaannnnn" pekiknya membuat guru Les dan Aryan yang sedang belajar menoleh kaget kearahnya
"Dia takutnya cuma sama kamu" ucap Laras kesal
"Terus gimana ini?" lanjutnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh suaminya yang sedang menonton TV
"Kenapa sih sampai di SP tu anak" tanya Andi
"Mama belum tau, apa kita telpon aja dia"
Laras tidak mendengar kalimat persetujuan dari suaminya langsung menelpon Arkan, suaminya hanya bisa menggerutu "ngapain juga tanya"
__ADS_1
Arkan tidak langsung mengangkat telpon karena dia masih tertidur, saat panggilan ke tiga dari mamanya masuk baru dia terbangun meloncat kaget mengangkat telpon.
Sudah pasti dia kena omel dari mamanya dengan kecepatan melebihi kecepatan jet tempur, sebelum mamanya mengambil kesimpulan sendiri
"Kamu ya, baru aja motor dikirim udah bikin masalah"
"Ini nih juga ngapain motor dikirim" Laras mencubit paha suaminya yang hanya bisa mengaduh.
"Udahlah mama pening, Aryan nilainya bikin mama pusing sekarang kamu juga bikin ulah"
Laras mematikan HPnya, Arkan hanya terdiam
"Dicoret bener dari KK nih gue" gumamnya
Laras kemudian menelpon Lidia ingin meminta bantuan agar bisa datang kesekolah Arkan mewakili dirinya, tapi wanita itu menolak mentah-mentah permintaan Laras
Lidia : "anak gue aja ga pernah ngelanggar aturan sekolah, males banget ganti'in dateng buat anak orang"
Laras : "Ayolah Lid masa gue harus ninggalin Aryan disini sama bibi buat datang kesana"
Lidia : "ya Iyalah harus, Arkan juga anak loe kan"
Laras : "ya juga sih, tapi masa gue jauh-jauh kesana cuma mau kena omelan guru BK nya anak gue"
Lidia : "gue juga ogah lah kena omel, udah kesini aja masih banyak kamar, gue tunggu itung-itung biar ada teman curhat, Rea masih marah soalnya"
__ADS_1
Ucap Lidia kemudian mematikan telpon dari sahabatnya itu.
"Ah Lidia ga kompak" Laras sebal memukul paha Andi yang sedang duduk disebelahnya.