
Pagi itu seperti biasa Rea berangkat sekolah diantar oleh pak Rahmat, mereka keluar dari rumah lebih pagi dari biasanya karena hari itu ada apel disekolah Rea, gadis itu semalaman sudah menyusun beberapa rencana untuk bisa tahu identitas Elang yang sebenarnya.
Pertama-tama ia berencana mendekati ketua kelasnya itu terlebih dulu, ditengah pikirannya yang masih kemana-mana tiba-tiba mobil yang membawanya ke sekolah berhenti, pak Rahmat terlihat buru-buru keluar dari mobil.
"Kenapa pak?" tanya Rea heran sambil melongok keluar jendela.
"Sepertinya ban mobilnya bocor non," jawab pak Rahmat panik.
Rea memilih menyusul pak Rahmat turun dari mobil, wajahnya terlihat cemas karena takut terlambat sampai kesekolah. Gadis itu berpikir ingin memesan taxi atau ojek online tapi sayang dia tidak punya aplikasi di ponselnya, ia tidak pernah berpikir akan membutuhkan aplikasi seperti itu karena setiap hari diantar jemput oleh pak Rahmat, tapi sekarang dia sedikit menyesal.
"Mba Anisa udah berangkat belum ya pak?" tanya Rea sambil berusaha menelpon untuk meminta bantuan Anisa.
"Anisa udah berangkat pagi banget non tadi malahan, katanya pagi ini ada acara gitu disekolah."
"Iya pak, hari ini ada apel di sekolah," jawab Rea sambil memutus panggilannya ke Anisa.
Rea Masih tertunduk melihat Layar HP nya, sebuah motor melaju melewatinya tanpa ia sadari. Pengendara motor itu menatap ke arah Rea berpikir sejenak kemudian memutar balik arah motornya, si pengendara memarkirkan motornya tepat didepan mobil Rea yang berhenti karena bannya bocor itu.
"Kenapa pak?" tanya si pengendara motor sambil membuka helm yang dia kenakan.
Rea terkejut mendengar suara yang sepertinya dia kenal saat menatap kearah sumber suara, benar saja pengendara motor itu adalah Elang.
Pak Rahmat ingat dengan wajah anak laki laki yang mengajaknya bicara barusan.
__ADS_1
"Mas yang di tempat cucian? " seru pak Rahmat.
Elang hanya menggangguk.
"Ini ban mobilnya bocor, nona saya bisa telat sampai kesekolah kalau kayak gini," ucap pria paruh baya itu cemas.
Rea hanya memandang kearah pak Rahmat, tidak mendengar jelas pembicaraan antara dua laki-laki itu.
"Kalau misalnya mas mau bantu, bisa ga tolongin saya nganterin nona saya ke sekolahnya," ucap pak Rahmat penuh harap.
"Nona?"batin Elang heran sambil menatap ke arah Rea.
"Tapi saya ga bawa helm lain pak," jawab Elang sambil berjongkok memeriksa ban mobil itu.
Elang menatap wajah pak Rahmat merasa sedikit kasihan.
"Melanggar aturan papa sekali lagi kayaknya gapapa,"batinnya dalam hati.
Cowok itu terlihat mengambil ponselnya kemudian menelpon, selesai menelpon Elang berjalan sambil memasukkan ponselnya ke kantong jaketnya, menghampiri Rea yang masih berdiri cemas takut terlambat sampai kesekolah.
"Ayo nanti telat, kalau ada upacara atau apel gerbang ditutup lima belas menit lebih cepat," ucap Elang ke Rea.
Gadis itu kaget karena tidak menyangka Elang akan berbicara dengan cara mendatanginya bukan meneriakinya, ia kemudian tersadar kelamaan berpikir bisa membuatnya terlambat, Rea memilih berjalan mengekor dibelakang Elang yang sudah berjalan ke arah motornya lebih dulu.
"Terus pak Rahmat gimana?"
__ADS_1
Seperti tau apa yang Rea bicarakan didalam hatinya cowok itu berkata bahwa dia sudah menelpon mobil derek dan sebentar lagi akan sampai.
Rea melihat pak Rahmat yang mengganggukkan kepala kearahnya menandakan bahwa dia baik-baik saja, dengan sedikit canggung gadis itu naik ke motor Elang, ia merasa aneh karena ini pertama kalinya dia dibonceng menggunakan motor.
Motor sport berwarna merah itu melaju, Rea takut tapi tidak berani berpegangan pada Elang, ia hanya memegang erat ujung jacket cowok itu, tanpa Rea sadari Elang membuat senyuman tipis dibibirnya.
❤❤❤❤❤
Setelah sampai seperti biasa Elang memarkirkan motornya di penitipan samping foto copyan dekat sekolah, mereka turun kemudian berjalan beriringan menuju gerbang sekolah.
"Makasih tumpangannya," Rea tersenyum menatap Elang sambil merapikan rambutnya yang berantakan karena tertiup angin saat naik motor tadi.
Elang hanya tersenyum sambil membetulkan letak tasnya, kemudian bertanya.
"Kalau boleh tau, bapak tadi siapa kamu?"
Rea sedikit kaget mendapat pertanyaan seperti itu dari Elang, tapi secepat kilat otaknya dia pakai untuk berpikir sebelum menjawab pertanyaan dari cowok itu.
"Oh itu pak Rahmat paman aku," jawab Rea.
Gadis itu terlihat ragu dan memegangi hidungnya dangan tangan, dalam ilmu psikologi apa yang dilakukan gadis itu menunjukkan bahwa dia sedang berbohong.
Elang yang melihat Rea hanya tesenyum, kemudian berbicara dalam hatinya.
"Bohong, jelas-jelas bapak tadi manggil kamu non."
__ADS_1