
Laras masuk kedalam sebuah bar mewah, tentu saja dia kesini sudah atas ijin suami tercintanya. Seorang pelayan membukakan pintu, kemudian menanyakan apa dia sudah memesan tempat.
Laras lalu mengeluarkan sebuah kartu member VVIP, pelayan tersebut membungkuk, kemudian mengantarkan Laras masuk kedalam ruangan VVIP.
Bar VVIP itu hanya untuk orang-orang yang sudah menjadi mamber platinum disana, hanya artis, pengusaha dan pejabat tinggi saja yang bisa masuk.
Mata Laras berkeliling mencari sosok Lidia, setelah ketemu dia menghampiri perempuan itu, meletakkan tasnya diatas meja kemudian duduk di samping temannya itu.
"Lihat lah gara-gara kamu aku melanggar larangan suamiku untuk tidak datang ke bar ini lagi."
Lidia hanya tersenyum mendengar omongan Laras.
"Mau menyombongkan diri kalau kamu punya suami yang benar-benar cinta sama kamu?" Jawab Lidia sambil menenggak minuman nya.
"Andi memang sangat mencintaiku, lihat sampai aku saja tidak diijinkan untuk bekerja lagi," jawab Laras, ada sedikit rasa kecewa didalam ucapannya
"Itu lebih baik dari pada punya suami yang sama sekali tidak mencintaimu."
__ADS_1
Mereka terdiam, Laras kemudian memesan minuman non alkohol, tidak lucu pikirnya kalau dia mabuk disiang bolong, apalagi sampai dilihat anak-anaknya nanti dirumah.
"Aku nyesel banget, kenapa dulu bukan Andi aja yang aku kejar," ucap Lidia sambil tersenyum menggoda Laras
Laras hanya tertawa sambil menyenggol lengan temannya itu dengan lengannya, ia tau pasti kalau Lidia hanya bercanda, karena Laras yakin seratus persen siapa laki-laki yang benar-benar dicintai Lidia.
"Terkadang aku berpikir, kalau aku bisa minta kepada Tuhan untuk kembali ke masa lalu, lebih baik aku tidak bertemu dan tidak mengenal Farhan," curhat Lidia sambil menenggak minuman nya lagi.
Laras hanya terdiam sejenak, menatap iba kearah sahabatnya itu.
"Kalau kamu tidak bertemu Farhan, mungkin Rea juga tidak akan lahir kedunia ini," bisik Laras.
Lidia tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Laras tentang ucapan anaknya.
"Kamu mau besanan sama aku besok?" tanya Lidia.
"Aku juga ingin tertawa sebenarnya saat Arkan ngomong kayak gitu, tapi momennya ga pas, anak itu sedang marah, karena mendengar apa yang aku bicarakan dengan papanya."
"Memang apa yang kalian bicarakan? ada apa sampai Arkan bisa bilang begitu?" tanya Lidia.
__ADS_1
Laras merasa blunder dengan ceritanya tapi mau tidak mau dia harus bercerita kepada Lidia.
"Kamu tau kan Rea dikirim mertuamu ke Kota XX untuk mencari anak Farhan dan Maya? kamu tau alasannya apa? alasannya adalah siapa tau anak Farhan dan Maya memiliki ginjal yang cocok untuk didonorkan ke Farhan," beber Laras.
"Maya pasti lebih memilih Farhan mati dari pada ginjal anak nya di ambil untuk orang itu," Lidia merespon cerita sahabatnya sambil kembali menenggak minumannya.
"Aku tau apa yang dipikirkan mertuaku, dia hanya ingin menemukan cucunya untuk menyelamatkan nyawa anaknya itu, tapi untuk Farhan setelah bertemu anak nya dengan Maya pasti dia mau membuang Rea,"lanjut Lidia
Laras hanya bisa menghela napasnya.
"Tapi aku benar benar senang setidaknya ada yang mencintai Rea, aku tidak ingin Rea bernasip sama seperti aku, mencintai laki laki yang bahkan tidak mencintaiku," Lidia tersenyum pahit, tangannya terlihat meminta bartender untuk mengisi gelasnya lagi.
Laras hanya bisa terdiam, membiarkan sahabatnya minum untuk melupakan rasa sesak didadanya.
"Apa kita perlu pergi ke salon untuk mendapatkan treatment setelah selesai dari sini?" Laras bertanya sambil menatap kearah Lidia bermaksud mencoba menghibur sahabatnya itu.
Namun, Perempuan itu terlihat membenamkan wajahnya dimeja bertumpu pada kedua tangannya, menangis sejadi-jadinya.
Laras kehabisan kata-kata, ia menghembuskan napasnya seolah lelah dan ikut merasakan sakit hati yang di alami Lidia, yang bisa Laras lakukan hanya menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu mencoba membuatnya tenang.
__ADS_1