Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 48 Anak Ayah


__ADS_3

Sudah 3 hari Rea dan Arkan tidak masuk sekolah alasannya sama karena ada kepentingan keluarga, Elang sudah berkali kali mengirimkan pesan ke aplikasi chat yang biasa dia gunakan untuk berkomunikasi dengan Rea, hasilnya tidak ada balasan, telpon pun tidak diangkat.


Gadis itu terduduk di samping ranjang tempat tidur dikamarnya, menekuk lutut mendekap dengan kedua tangannya, membuatnya menjadi tumpuan kepalanya matanya sembab. Sudah tiga hari selepas kepergian kakek yang sangat dia sayangi.


Gadis itu memandang sebuah surat dari kakek nya yang diberikan ayahnya kemarin, terbuka tergeletak dilantai didekat kakinya.


Arkan masuk kedalam kamar gadis itu kemudian duduk dibawah bersandar pada pinggiran tempat tidur Rea, memegang kepala Rea dan menyandarkan dipundaknya, mereka terdiam cukup lama.


"Besok papa memintaku kembali ke kota XX, kamu akan baik-baik aja kan sendirian disini?"


Rea hanya terdiam


"Jangan terus-terusan bersedih ingat pesan kakekmu, kamu sudah makan belum? mau aku ambilkan makanan, atau susu vanilla kesukaanmu?"


Gadis itu tetap terdiam


"Kakek adalah satu-satunya orang yang sangat menyayangiku dirumah ini, kakek sudah pergi, aku seperti tidak punya siapa-siapa lagi Ar" ucap Rea dengan suara serak


"Masih ada aku, aku akan selalu ada buat kamu" jawab Arkan


"Kamu ingat kamu harus mengabulkan 2 permintaanku, aku tau mungkin ini saat yang tidak tepat, tapi aku akan meminta kamu mengabulkan permintaanku sekarang"


Arkan melirik ke arah Rea, gadis itu tidak memejamkan matanya berarti mendengar apa yang akan dia katakan


"Permintaanku yang pertama aku minta kamu jangan bersedih lagi, dan yang kedua aku minta kamu bisa segera bangkit dari perasaan sedihmu"


"Kenapa semua permintaanmu untuk diriku? apa kamu tidak ingin menyimpan satu untuk dirimu sendiri nanti" tanya Rea sambil mengangkat kepalanya dari pundak Arkan


"Aku menyayangimu Re, sampai kapanpun, bahkan meskipun kamu memilih orang lain, aku akan menunggumu"

__ADS_1


Rea memandang wajah Arkan lekat, tau maksud dari perkataan sahabatnya itu, ada perasaan bersalah didalam hatinya karena dia sadar sudah menggantung perasaan Arkan terlalu lama.


Tiba-tiba pelayan dirumah mengetuk pintu, kemudian masuk kedalam kamar Rea, menghampiri Rea yang sedang duduk dibawah bersama Arkan.


"Non Rea, tuan Farhan meminta nona untuk keruang kerjanya sekarang"


Rea kemudian bangun.


"Jangan pulang dulu ya" ucap Rea ke Arkan yang masih duduk dilantai


Arkan menganggukan kepala.


Rea berjalan keruang kerja ayahnya terdengar suara om Andi yang sedang berbicara


"Kamu gila, mau mengatakan hal seperti ini ke anak itu dalam keadaan masih seperti ini"


"Jika Lidia tidak memberitahunya maka aku yang akan memberitahunya"


"Mau sampai kapan An? anak itu sudah cukup dewasa untuk tau kebenaran statusnya"


"Kebenaran apa yang ayah akan katakan ke aku?"


Rea sudah masuk kedalam ruangan tanpa mengetuk pintu sontak om Andi kaget menatap kearah Farhan.


"Duduklah"


"Farhan" teriak om Andi


"Keluarlah An"

__ADS_1


Laki-laki itu kemudian keluar dari ruang kerja sahabatnya dengan kesal, menuruni anak tangga, bertemu dengan Lidia yang datang bersama istrinya. Andi menceritakan apa yang ingin Farhan katakan kepada Rea yang sekarang sudah ada diruang kerjanya.


Lidia kaget bergegas naik ke atas tapi sayang anak gadisnya sudah berdiri diujung tangga atas menatap ke arah nya, kemudian berlari turun sambil menangis melewati dirinya, Arkan melihat Rea berlari keluar dari ruangan kerja om Farhan sambil menangis, dia juga melihat tante Lidia memanggil nama anaknya.


"Re dengarkan mama dulu, Rea... ."


Tapi gadis itu sudah berlari jauh keluar dari pintu rumah, Arkan berlari menuruni anak tangga cepat-cepat mengejar Rea.


"Biar aku aja tante" ucap Arkan


Lidia hanya bisa menangis, kemudian Laras mendekat memeluk temannya itu. Lidia melepaskan pelukan Laras, bergegas naik keatas, keruang kerja suaminya. Andi dan Laras menyusul keatas takut terjadi perang dunia ke tiga antara Farhan dan Lidia.


"Kau sudah gila, bisa-bisanya mengatakan Rea bukan anak kandungmu" bentak Lidia, Farhan hanya terdiam, langkah Andi dan Laras terhenti didepan pintu.


"Apa yang kamu pikirkan? aku berselingkuh dibelakang mu kemudian melahirkan Rea begitu? bahkan Jika hatimu sudah tertutup untuk bisa menerima aku, setidaknya otakmu itu kau pake Farhan"


"Kamu bahkan di awal pernikahan kita selalu pulang malam dan pulang dalam keadaan masuk berat, sampai tidak ingat kan berapa kali menyentuhku?" Lidia sudah terisak


"Aku menukar hasil test DNA Rea, kamu pikir hanya uangmu saja yang bisa membeli yang kamu inginkan"


Farhan terkejut, Andi dan Laras juga sangat terkejut.


"Kamu tau kenapa? Karena aku tidak ingin anakku memberikan ginjalnya untuk ayah jahat seperti kamu"


Perkataan Lidia membuat semua orang semakin terkejut.


"Anak itu sudah berharap bisa mendonorkan ginjalnya ke kamu, ayah yang sama sekali tidak pernah menyayanginya, bahkan memeluknya pun kamu tidak pernah kan? Jadi aku tidak rela kalau sampai kamu menerima hal yang berharga dari anakku"


"Jika kau menganggap aku berbohong mintalah test DNA ulang, dan bacalah hasilnya dengan kedua matamu yang selama ini buta sampai tidak pernah melihat anak yang begitu sayang kepadamu"

__ADS_1


Lidia meninggalkan ruang kerja Farhan setelah puas mengungkapkan isi hatinya.


Andi dan Laras bahkan sangat terkejut dengan kebenaran yang baru saja Lidia ungkapkan, apalagi Farhan wajahnya berubah pucat, ada rasa sesal mendalam disorot matanya.


__ADS_2