
Di dalam bus lain, Arkan membuka HPnya mengirim pesan kepada Rea.
Aku lupa bertanya tadi, kamu duduk disebelah siapa?
Rea tidak menjawab pertanyaan Arkan, dia malah mengirim foto candid Elang yang sedang membelakanginya sedang berbicara dengan teman diseberang tempat duduknya.
Hah kami sekursi sama Elang??
Darimana dia tau itu Elang? Pikir Rea
Dari mana kamu tau itu Elang?
Aku bahkan tau namanya, dia Langit kan? dia kakakmu itu? Bintang basket sekolah, dua kali ditembak anak kepala sekolah tapi dia tolak
Apa kamu sudah bertemu dengannya? dari mana tau info tentang Elang sedetail itu?
Tanya Rea penasaran
Bagaimana aku tidak tau, hampir semua teman sekelasku membicarakannya, pak Lucky tadi pagi juga membicarakannya.
Belum sempat Rea membalas pesan nya, Arkan sudah kembali mengirimkan pesan
__ADS_1
Jangan dekat-dekat dia, aku mulai kuatir, meskipun dia kakakmu, kamu bisa saja tertarik padanya
Arkan menghela nafas, meskipun dia tau kebenaran yang tak sengaja dia dengar tentang hubungan Rea dan om Farhan tetap saja dia harus berpura-pura didepan gadis yang disukai nya itu, karena Arkan tau benar kenyataan yang tidak sengaja dia ketahui bisa membuat hati gadis itu terluka.
Tidak ada balasan lagi dari Rea, Arkan semakin mengehela nafas. Membenturkan kepalanya ke sandaran kursi hampir bersamaan dengan pak Lucky yang ada disebelah nya. Mereka saling memandang.
Dibarisan kursi paling depan, Ken terlihat gelisah, beberapa kali mengirim pesan ke Elang tapi tidak ada balasan sama sekali.
Hari mulai petang bus berhenti disebuah tempat makan, Rea tertidur lelap. Elang menggoyang-goyangkan lengan gadis itu berniat membangunkannya , tapi gadis itu tidak bangun juga.
Arkan sudah berlari turun dari bus kelasnya, menerobos ke bus kelas XI-2 yang hampir kosong karena anak-anak sudah turun untuk mengisi perut mereka. Ken melihat anak itu kemudian menyusul, iseng juga ingin bertemu Elang.
Arkan melihat Elang yang sedang berusaha membangunkan Rea.
"Biarkan saja dia tidur, kamu turun aja, aku akan menunggunya sampai bangun"
"Apa hubunganmu dengan Rea? apa kamu pacarnya?"
Arkan agak kaget mendengar pertanyaan dari mulut Elang yang tanpa basa basi itu
"Hampir, aku hampir jadi pacarnya " jawab Arkan
"Jadi dia belum menerima perasaanmu kan?"
__ADS_1
Elang tersenyum sedikit mengejak Arkan kemudian pergi meninggalkan Arkan.
"Hah...apa dia menyukai Rea juga?" batin Arkan
Ken yang melihat dari kejauhan dan mendengar percakapan singkat mereka bergumam dalam hati.
"Apa kalian sedang memperebutkan gadis itu?"
Elang berpapasan dengan Ken, gadis itu tersenyum, Elang hanya berjalan melewatinya.
"Aku kirim pesan tau, kenapa ga dibalas?"
"Ayo kita makan bersama"
"Teman sekursimu ternyata Rea ya?"
Elang terus berjalan tanpa menjawab pertanyaan Ken.
Tak lama setelah Elang turun dari Bus, Rea bangun, melihat orang disampingnya bukan Elang melainkan Arkan, cowok itu sedang sibuk membalas pesan di HPnya, tak sadar kalau Rea sudah bangun, gadis itu mendekat melongok ke Arah HP Arkan, ternyata cowok itu sedang membalas pesan dari tante Laras. Rea tak sengaja melihat kata menantu pada pesan yang dikirim Arkan ke mamanya. Gadis itu memandang ke arah Arkan ingin menanyakan maksud dari pesan yang Arkan kirimkan itu, wajah mereka begitu dekat dan tiba-tiba Arkan menempelkan bibirnya ke bibir gadis didepannya, kaget sendiri dengan perbuatannya kemudian memundurkan kepalanya.
Rea hanya bengong kemudian refleks memegang bibirnya dengan tangan kanannya. Suasana menjadi canggung, Rea berdiri, Arkan juga ikut berdiri, Rea salah tingkah , berjalan kearah belakang lebih dekat dengan pintu bus, tapi dia malah berjalan kearah depan.
Arkan terdiam, merasa bersalah, gadis yang baru saja di ciumnya itu sudah tidak kelihatan, tapi tiba-tiba gadis itu naik ke bus lagi, berdiri didekat pintu menatap Arkan yang masih berdiri diam.
__ADS_1
"Kamu sudah makan belum?, ayo cepat turun" gadis itu tersenyum
Arkan tersenyum lega, kemudian berlari mengejar gadis itu.