Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 9 Menyebalkan


__ADS_3


Pelajaran pertama segera dimulai, seorang anak laki laki berdiri membawa sebuah keranjang plastik berbentuk persegi panjang berwarna hijau. Rea terlihat heran lalu memandang ke Sevia teman sebelahnya, mereka tadi sudah sempat berkenalan, ia melihat Sevia membuka tasnya, anak-anak yang lain juga melakukan hal yang sama.


"Ada apa sih Sev?" tanya Rea penasaran.


"Oh ya kamu pasti belum tau, sebelum pelajaran dimulai HP kita harus dimatikan dan dikumpulkan ke keranjang itu," ucap Sevia sambil menujuk keranjang yang dibawa anak temannya tadi.


"Nanti pas jam istirahat kita bisa mengambilnya lagi, tapi setelah istirahat harus dikumpulkan lagi, intinya ga ada HP aktif selama pelajaran," lanjut Sevia.


Rea menganggukkan kepalanya tanda mengerti, kemudian mengeluarkan HP dari tasnya, memasukkan ke dalam keranjang itu, semua anak melihat dengan pandangan heran dan penasaran.


"Kenapa?" tanya Rea heran.


Sevia hanya ikut bengong juga, HP milik Rea adalah HP serian terbaru dari brand ternama, yang harganya mungkin lebih mahal dari motor yang mereka bawa ke sekolah. Sevia masih bengong memikirkan setajir apa teman sebelahnya. Cowok tadi terlihat masuk kedalam kelas, rambutnya agak sedikit basah terkena air.


"Elang cakep ya?" Puji Sevia.


Rea hanya diam dan tersenyum setelah sadar dia mencubit tangannya sendiri.


"Ngapain aku senyum sih"


"Cakep apa'an, yang ada sok kecakepan," ucapnya pelan sambil melirik cowok itu yang juga memasukkan HP nya ke keranjang.


"Ini HP siapa?" Elang memegang HP milik Rea.


"HP Rea," jawab Sevia.


Elang menuju ke tempat duduk Rea kemudian meletakkan HP Rea dimeja tepat didepannya


"Hei anak baru, mau pamer? HPmu belum kamu mati'in, sengaja ya biar bunyi dan didengar satu kelas? kamu mau nunjukin ke kita beda suara HP seharga motor dengan HP biasa?"ucap Elang ketus.


"Hah.. bener juga aku lupa"

__ADS_1


Gadis itu tersadar belum mematikan HP nya. Dia tau dia salah, tapi kalimat tuduhan dari Elang benar-benar membuat dia memerah menahan marah, menatap anak laki-laki itu dengan pandangan sinis.


"Sudah, sekarang duduk dan buka buku Kalian," ucap Bu Anisa yang dari sibuk membuka buka didepannya, wanita itu melihat wajah Rea yang kelihatan memendam marah.


Elang kembali kebangkunya, dan anak-anak mengikuti pelajaran dengan serius sampai jam pelajaran berganti.


Saat jam istirahat, anak-anak menyerbu kantin sekolah, Rea sudah punya teman baru yaitu Sevia dan Cindy, mereka bertiga sedang mengantri untuk membeli salah satu makanan di kantin.


Rea terlihat mengambil sebuah roti pabrikan dan minuman botol yang iklannya banyak wara-wiri di televisi sementara Sevia dan Cindy memesan nasi sop beserta gorengan.


"Re, sop bu Cik enak banget lho, ga mau nyoba?" ucap Cindy sambil meletakkan semangkok sop panas dan es teh ke nampan yang dia ambil.


"Eh.. enggak sin, aku makan roti aja."


Mereka kemudian duduk dikursi yang terlihat masih kosong.


"Apa ga sakit perut tuh ntar?," tanya Rea yang melihat Cindy memasukkan dua sendok penuh sambal kenasi sopnya, tangannya terlihat kesusahan menjangkau kecap diatas meja, kemudian Rea mengambil benda hitam didalam botol itu untuk ia berikan ke Cindy.


Rea cuma tersenyum sambil membuka benda pipih yang dia pegang, ada beberapa chat disana dari kontak yang berbeda.


"Mama, belum bisa pulang, masih banyak urusan, nanti kalau urusan mama udah selesai, mama Akan temui kamu, I love you."


Pesan itu hanya dibaca oleh Rea, gadis itu tidak punya hasrat ingin membalas pesan dari perempuan yang melahirkannya.


"Rea, kakek Akan ke Singapore untuk berobat, jika ada yang kamu butuhkan, minta saja sama om Andi, oh ya ayahmu kondisinya membaik, tapi jangan sampe lupa tujuanmu, jika butuh info tentang kesehatan ayahmu kamu bisa kontak dokter Hendi, jangan lupa jika butuh sesuatu mintalah kepada Om Andi"


Ia juga hanya membaca pesan dari kakeknya, dan beralih kepesan ketiga di ponselnya.


"Rea, gimana sekolah barumu? disini sepi ga ada kamu."


Rea kemudian menulis pesan balasan untuk sahabatnya Lisa.


"Sekolahku baik-baik saja, aku yang tidak baik"

__ADS_1


"Hah.. Kenapa?"


Pesan balasan itu belum sempat Rea balas, ia menuju chat keempat, dia berharap chat keempat dari Arkan, tapi ternyata dari om Andi.


"Rea, om dapat informasi tambahan untuk menemukan kakakmu, dia tidak naik kelas satu kali, jadi kemungkinan dia sekarang duduk dikelas XI Sama seperti kamu."


"Kakak ku bodoh Berarti," gumam Rea dalam hati. Bibir gadis itu tersenyum.


Sevia dan cindy melihat Rea melengkungkan bibirnya. Mereka saling pandang, berfikir kalau temannya itu lucu dan menarik.


Rea meletakkan HP nya, lalu lanjut makan roti di tangannya.


"Si Arkan bodoh, tumben dia tidak menanyakan kabarku."


Selesai mengisi perut dikantin Cindy dan Sevia langsung masuk kedalam kelas, sementara Rea mencuci tangannya terlebih dahulu dikran air depan kelas, selesai membasuh tangannya ia mengibas-ngibaskan tangannya sampai mengenai muka cowok didepannya yang langsung melemparkan bawaan kearah Rea .


Gadis itu menangkap kaget bungkusan yang dilempar anak laki-laki itu "apa ini?" tanyanya.


"Seragammu dari TU, kamu kira apa?"


Elang mengelap dahinya yang basah terkena cipratan air dari tangan Rea.


"Kamu ga lihat ada lap disitu." tunjuk Elang dengan jarinya.


Rea melihat jijik kearah lap kumal yang sepertinya tidak pernah di cuci itu.


"Aku cuci tangan biar tanganku bersih terbebas dari kuman, kalau aku keringkan pake lap itu bukannya bersih malah tambah berkuman nanti tanganku," jawab Rea ketus.


"Ah alasan, dasar sok cantik."


Elang bicara sambil meninggalkan Rea untuk masuk kedalam kelas, mulut gadis itu terlihat menganga mendengar ucapan Elang, ntah kenapa ia tidak bisa membalas perkataan sok cantik yang keluar dari bibir cowok itu, mukanya memerah menahan marah lagi.


"Cowok ngeselin," Rea menggertakan giginya sambil meremas benda yang dilemparkan Elang kepadanya tadi.

__ADS_1


__ADS_2