
Rea memandangi penampilannya didepan cermin, ia memakai kemeja polos berwarna biru tua dan rok selutut bermotif tartan dengan warna senada, sebuah tas kecil melingkar dibahunya, flat shoes berpita berwarna hitam menjadi pilihan alas kakinya, sementara rambutnya dia biarkan tergerai lurus dengan jepit rambut berbentuk mahkota yang tersemat disisi kanan kepalanya.
Bibirnya tersenyum tetapi sesekali juga menghela napasnya menunjukkan bahwa dia sedang dilanda rasa cemas, ketukan pintu dan suara bi Ulfa yang menyampaikan pesan bahwa pacarnya sudah menunggu dibawah membuatnya bergegas turun.
Ia menghampiri Elang yang duduk disofa ruang tamu, cowok itu berdiri sambil tersenyum saat melihat Rea yang begitu cantik malam itu, mereka kemudian berjalan keluar rumah menuju mobil Elang untuk pergi ke pasar malam sesuai janji mereka tiga hari yang lalu.
Sepanjang perjalanan mereka masih bisa bercanda pun saat dipasar malam, mereka menikmati suasana seperti pasangan remaja lain, beberapa kali mereka mencoba wahana dan permainan yang ada disana, tidak lupa membeli gula-gula sesuai keinginan Rea.
Setelah lelah memutari seluruh area pasar malam mereka duduk disebuah lapangan terbuka yang masih berada disatu area dengan pasar malam itu. Nampak sebuah panggung besar didepan, ternyata disana juga sedang digelar sebuah pertunjukan seni, orang-orang sudah mulai menempatkan diri bahkan jauh sebelum acara dimulai, tujuannya hanya satu agar mendapat tempat yang dekat dengan panggung.
"Selamat ulang tahun," ucap Elang yang duduk sambil menekuk dua lututnya, Rea tersenyum kemudian mengucapkan terima kasih.
"Aku benar-benar tidak membawa kado untukmu," Elang meraih telapak tangan gadis itu, mengaitkan jari jemari mereka untuk dia genggam.
"Apa kamu tau Lang? awalnya aku sama sekali tidak ingin pindah kekota ini, apalagi saat kakek bilang aku harus mencarimu, seperti memikul beban berat dipundakku, tapi setelah bertemu denganmu aku sangat bersyukur, terima kasih sudah hadir dihidupku, terima kasih sudah mengajari apa itu rasa sayang dan mencintai, bertemu denganmu sudah menjadi kado terindah untukku, aku tidak membutuhkan kado apapun darimu, aku selalu merasa bahagia setiap kali ada didekatmu, terima kasih untuk semuanya."
Elang tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan gadis disampingnya" tapi tetap saja kamu bilang akan meminta hadiahmu saat kita kesini, sekarang katakan apa yang kamu inginkan!"
Rea memiringkan badannya menatap wajah cowok itu, dengan yakin dan tanpa meneteskan air mata dia meminta kepada Elang untuk mau putus dengannya.
"Kita masih bisa saling menyayangi dan menjaga tapi hanya sebagai kakak dan adik, aku ingin itu sebagai hadiah ulang tahunku."
Sontak hati Elang terasa sakit, tapi dia tidak mungkin menangis ditengah keramaian, apalagi dia seorang laki-laki.
"Apa kamu benar-benar menginginkan hadiah seperti itu dariku?" tanyanya lirih.
"Hem... Iya," jawab Rea.
Namun tanpa sadar Ia malah mempererat genggaman tangannya ke Elang, menunjukkan ketidak sinkronan antara hati dan pikirannya.
"Apa kamu tidak bisa meminta hadiah itu nanti saja?" tanya Elang dengan suara serak menahan rasa pengap didadanya, matanya memandangi mata gadis dihadapannya.
"Setidaknya sampai kita lulus SMA, karena saat itu aku akan langsung pergi menghilang darimu, aku akan pergi kuliah ke New York sesuai janjiku kepada papa dan om Farhan"
Flash back on
Elang menghampiri Arkan yang sedang berada dikelasnya untuk meminta nomor HP Farhan, tapi cowok itu meminta Arkan untuk tidak bercerita kepada Rea perihal dirinya yang berniat menghubungi ayah kandungnya.
"Kenapa?" tanya Arkan.
"Karena ini urusan antar lelaki," jawab Elang.
Arkan terdiam tidak mau bertanya lebih jauh kepada pacar gadis yang sangat disukainya itu.
Sebelum Farhan kembali kekotanya Ia bertemu dengan anak laki-lakinya disebuah rumah makan, Farhan menyodorkan sebuah buku tabungan kepada Elang, dan berkata untuk selanjutnya dia akan mengirim uang secara rutin ke rekening itu.
Elang memandangi buku tabungan diatas meja yang disodorkan Farhan tadi, tangannya meraih buku itu kemudian membuka dua halaman paling atas, dia melihat sembilan digit angka pada bagian atas buku tabungan sebagai saldo awal, Ia menutupnya kemudian menggesernya kesamping.
"Aku ingin membuat kesepakatan dengan om," ucap Elang.
__ADS_1
"Apa kamu tidak bisa memanggilku dengan sebutan Ayah?" tanya Farhan penuh harap.
"Maaf saya belum terbiasa." jawab Elang.
Farhan menghela napasnya sambil menyandarkan punggungnya dikursi.
"Kesepakatan apa yang kamu inginkan?" tanya Farhan ke anak laki-laki dihadapannya.
"Biarkan saya dan Rea tetap seperti sekarang, setidaknya sampai kami lulus sekolah, karena setalah itu saya akan pergi belajar keluar negeri seperti keinginan papa."
Hati Farhan teriris, anak itu memanggil Banyu dengan sebutan papa sementara memanggil dirinya dengan sebutan om, tapi kemudian dia tersadar bahwa anak itu benar-benar belum terbiasa memanggilnya dengan sebutan yang ia harapkan tadi.
"Ini permintaan pertama saya sebagai anak anda, saya harap anda bisa mengabulkannya," lanjut Elang.
Farhan tidak tega mendengar ucapan Elang, kemudian mengiyakan permintaan anak laki-lakinya itu dengan sedikit terpaksa dan cemas.
Flash back off
"Kenapa?" tanya Rea mendengar jawaban dari Elang.
"Karena aku butuh waktu untuk mencerna semua yang terjadi diantara kita, bukankah kita sudah sama-sama tau kalau nantinya kita juga tetap tidak akan bisa bersama, jadi maukah kamu menikmati ini berdua denganku? setidaknya jangan langsung berpisah, mari kita akhiri pelan-pelan, tapi jika nanti membuat kita terjerumus makin dalam, bisakah kamu bersikap egois dan hanya memikirkan tentang kita saja," kalimat Elang benar-benar membuat hati Rea terasa sesak, bahkan air mata sudah jatuh dari sudut matanya.
Elang mengusap air mata dari pipi gadis cantik didepannya "Jangan menangis di hari ulang tahunmu," pintanya lembut.
Rea kemudian melepaskan tangannya dari Elang, menggunakannya untuk menghapus air matanya sendiri, lagi-lagi dia gagal untuk mengakhiri hubungannya dengan cowok itu.
"Ada yang bilang bahwa cinta pertama itu sulit dan tidak akan pernah berakhir bahagia, aku sama sekali tidak percaya dengan kalimat itu sampai aku merasakan sendiri sekarang, aku tau bahwa hubunganku dan Elang tidak akan memiliki Akhir yang bahagia, tapi aku akan mencoba membuat kenangan manis ditengah-tengahnya, karena aku juga layak mendapat kenangan dari cinta pertamaku," bisik Rea didalam hati.
Panggung seni didepan mereka dimulai, sang master ceremony menyebutkan sebuah mama band dari satu SMA untuk naik kepanggung, mereka membawakan sebuah lagu yang seolah menjadi backsound dimana sekarang Rea dan Elang sedang duduk saling pandang sambil meratapi perasaan mereka masing-masing.
Just give me a reason
Berikan aku alasan
Just a little bit's enough
Cukup sedikit saja
Just a second
Sedetik saja
We're not broken just bent
Kita tidak hancur hanya sedikit terluka
We can learn to love again
Kita bisa belajar mencintai lagi
__ADS_1
Oh, it's in the stars
Oh, tertulis di bintang
It's been written in the scars on our hearts
Sudah tertulis pada banyaknya luka di hati kita
We're not broken just bent
Kita tidak hancur hanya sedikit terluka
We can learn to love again
Kita bisa belajar mencintai lagi
-
-
-
-
-
-
Judul lagu : Just Give Me a Reason
Singer :Β Pink feat Nate Ruess
Album:Β Truth about love
Tahun rilis:Β 2012
Lirik by google
Translate by me
Curhat : Jangan bosen ya kalau aku masukin lirik lagu ke cerita yang aku tulis π soalnya aku seneng aja, itupun ga disetiap chapter ya kan?? cuma pas dicerita yang aku rasa pas aja dan tahun rilis lagunya juga pas sama setting ceritanya π
Kalau ditanya biar apa? Ya biar kayak ada manis-manisnya gitu, πππ
Jangan Lupa LIKE π VOTE πππππ and COMMENT π
Baca juga cerita mereka pas udah dewasa di novel aku satunya ya
Klik profilku β‘ klik Karya
__ADS_1
Terima kasih π