Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 65 Bunga Patah Hati


__ADS_3

Kedua wanita itu duduk berhadapan, Laras memilih menyingkir duduk dikursi lain menelpon suaminya


Laras : Iya, aku cuma dinasehati sama guru BK Arkan, cuma dibilangin aja kalau skor nya sampai 100 langsung dikeluarkan dari sekolah, oh ya Aryan gimana?


Andi : baik, dia minta tidur sama aku, pulang sekolah juga minta aku yang jemput


Laras tertawa mendengar cerita suaminya


Laras : ga rewel kan? soalnya aku mau minta ijin pulang hari minggu


Andi : kenapa? Lama sekali


Laras : besok anak pak Rahmat mau lamaran, ga enak kalau aku pulang


Andi : kan bisa kamis kenapa harus sampai minggu?


Laras : ahhhhh sayang, aku kan juga mau me time, please, mumpung Aryan sama kamu


Wanita itu merajuk ke suaminya


Andi : oke oke tidak usah merajuk seperti itu, suaramu menyiksaku tau ga


Laras tertawa kemudian menutup telponnya, melihat ke arah Lidia dan Maya yang sedang bicara berdua


****


"Jadi kamu sudah tau kan, siapa Rea?" tanya Lidia


Maya mengangguk


"Aku tidak tau kita bisa bertemu dalam situasi rumit seperti ini" Lidia melihat kebelakang memastikan sudah tidak ada wartawan disana


"Pasti sulit ya dikejar-kejar setiap waktu, belum kalau digosipkan, tidak punya privasi"


Lidia tersenyum mendengar kalimat Maya


"Tapi duit nya banyak" canda wanita itu yang membuat Maya tersenyum


"Aku dengar kamu sudah menikah dengan seorang jaksa? Apakah hidupmu bahagia"


"Aku bahagia,suamiku namanya Mas Banyu, dia laki-laki yang baik, bahkan dia menerima Elang yang bukan anak kandungnya, memperlakukan dia seperti anak kandungnya"


Maya menatap ke arah Lidia, ragu untuk bertanya "gimana kabar Farhan, aku dengar dia sakit"


"Ginjalnya rusak, kamu tau setelah dia berpisah denganmu yang dia kerjakan hanya minum-minum, melihat dia pulang dalam keadaan mabuk adalah santapanku sehari-hari sebagai istrinya, dia baru berhenti minum-minum ya kira-kira saat Rea berumur 6 tahunan, aku juga tidak tau apa alasan yang membuat dia bisa berhenti "


Maya hanya diam wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.


"Apa kamu tidak ingin memberi tahu anakmu siapa ayah kandungnya?"


"Elang sudah tau kalau dia bukan anak kandung Mas Banyu, kami sudah memberi tahu, tapi kami tidak mengatakan siapa ayah kandung nya"


"Lihat dan anak perempuanku datang, ingin memberi tahu anakmu kalau dia anak ayah nya, kamu tau kan awalnya almarhum mertuaku meminta Rea mencari Elang untuk mendonorkan ginjalnya"


Maya mengangguk "Rea sudah cerita"


"Tidak masuk akal sama sekali, tapi tenang saja saat ini Farhan sedang pergi ke XX untuk melakukan operasi, dia mendapat donor ginjal dari papanya" cerita Lidia


"Bukan soal donor mendonor yang aku kawatirkan" ucap Maya

__ADS_1


"Lalu apa?" Lidia penasaran


"Elang sepertinya menyukai Rea, Bagaimana kalau dia tau Rea adalah adiknya?"


"Itu juga yang aku takutkan, karena Rea juga sepertinya menyukai Elang, melihatnya bukan sebagai kakak" imbuh Lidia


Kedua wanita itu terdiam, yang satu menyandarkan punggung dikursi dan yang lain memalingkan wajah memandang jauh keluar jendela


****


Pulang sekolah Rea mengajak Arkan mampir dulu ke taman dekat sekolah. Mereka duduk dikursi ditaman.


"Ar kamu tau kan kalau Elang bukan kakak kandung ku?"


"Hem.."


"Kalau aku bukan anak kandung ayah, berarti aku dan Elang tidak punya hubungan darah kan?"


"Iya" Jawab Arkan yang sudah memandang gadis disampingnya, bertanya-tanya apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan


"Ar apa kamu mengijinkan aku kalau aku mau pacaran sama Elang?" Rea menatap wajah Arkan tapi tidak berani menatap matanya


Sontak Arkan terkejut bagaimana bisa gadis itu dengan polosnya menanyakan hal yang benar-benar membuat dia sakit hati


"Meskipun kalian saudara kandung kalau kalian saling menyukai, aku bisa apa?"


"Bukan nya aku tidak menyukaimu, aku sangat menyukaimu, maka dari itu aku sama sekali tidak bisa menjadikan kamu pacar, karena aku yakin kalau kita putus hubungan kita pasti akan merenggang, aku ga mau kehilangan kamu"


"Kamu tidak ingin kehilangan aku jadi hanya ingin menjadikan aku teman seumur hidupmu begitu?" Arkan mulai marah


"Kalau kamu tidak mengijinkan aku tidak akan pacaran sama Elang"


"Kamu itu orang paling penting Ar buat aku"


"Sudahlah Re, aku sudah tau inti dari omonganmu, kamu menolakku dan lebih memilih Elang"


Arkan berdiri beranjak pergi meninggalkan Rea


"Mau kemana?"


"Bukan nya kamu mau helm baru"


Rea tersenyum, dia tau Arkan pasti tidak akan membencinya.


****


Lidia dan Laras melihat keanehan diantara anak-anak mereka, yang hanya terdiam tidak mengobrol atau saling bercanda seperti biasa. Selesai makan Arkan langsung naik ke atas, Rea memandang Arkan yang sama sekali tidak bicara, lalu meletakkan sendoknya.


Sementara Laras selesai makan mendapat panggilan video call dari suaminya karena Aryan bilang kangen mamanya, dia pergi keruang tengah mengobrol disana.


Lidia menatap ke arah Rea


"Apa kamu bertengkar sama Arkan?"


"Enggak ma"


Terus kenapa kalian diem-dieman dari tadi


"Aku cuma bilang sama Arkan mau pacaran sama Elang"

__ADS_1


Lidia melotot bukan hanya Arkan dia juga hampir marah.


"Re kamu tau kan Elang kakak kamu?"


"Tapi kan ayah bilang aku bukan anaknya ma, jadi aku ga punya hubungan darah sama Elang, lagian cuma pacaran ga sampai nikah"


"Jadi kamu mau pacaran sama Elang tapi ga berniat sampai nikah gitu?" tanya Lidia penasaran


"Mama, Rea baru 17tahun nikah mungkin bisa 9 sampai 10 tahun lagi, memang ada orang pacaran yang bisa selanggeng itu?"


"Ya bisa aja Re kalau rasa kasih sayang sama cinta nya kuat, lagian tega banget kamu sama Arkan, yang kakak kamu tu Elang masa kamu minta ijin malah sama Arkan seolah-olah dia yang kakak kamu malahan"


Rea terlihat memikirkan omongan mamanya, sebelum menjawab lagi "aku tu pengen jadi teman seumur hidup Arkan ma, aku ga mau pacaran sama dia"


Lidia hanya bisa menghela nafas.


*****


Arkan terlihat bermain basket di halaman rumah, Lidia mendekat ke arah anak sahabatnya itu


"Sini lempar tante"


Arkan kemudian melempar bola kearah Lidia, wanita itu mendrible bola memasukkan nya kedalam ring, bola masuk dia melonjak senang.


"Tante jago juga?" puji Arkan


"Apa coba yang ga tante bisa" ucap Lidia jumawa


Mendekat ke arah Arkan menepuk bahu anak itu "kamu tau, Rea tidak mungkin bisa lama pacaran sama Elang"


Deg..,dada Arkan seperti hampir berhenti berdetak


"Apa tante Lidia tau aku sedang patah hati" bisiknya dalam hati


"Kenapa tante?" tanya Arkan penasaran


"Karena dia kakak kandung Rea"


Arkan sontak kaget mendengar kalimat Lidia


"Tante bisa memberi garansi 100% dan juga tante yakin Rea sebenarnya menyukaimu"


"Darimana tante bisa..." Arkan belum menyelesaikan kalimatnya


"Dia bilang ingin jadi teman mu seumur hidup, kamu tau? teman seumur hidup itu artinya dia ingin kamu menjadi pasangan nya"


"Pasangannya ?" Arkan masih belum mengerti


"Dia tidak ingin pacaran sama kamu, dia ingin kamu jadi suaminya"


"Apa??" Arkan kaget tapi sekaligus senang


"Berjanjilah pada tante, sekolah yang bener jadilah orang sukses, 9 atau 10 tahun lagi nikahi dia"


"Tante serius?"


"Bukankah kamu juga pernah bilang begitu ke mama mu?"


Wajah Arkan seketika berubah, entah kenapa dia merasa senang, dan memutuskan akan membiarkan Rea melakukan apa yang dia ucapkan tadi siang.

__ADS_1


"Terkadang kita harus mengalah untuk jadi pemenang" bisik Lidia sambil berjalan masuk kedalam rumah. Meninggalkan Arkan yang berbunga-bunga ditengah kepatah hatiannya.


__ADS_2