
"Aku akan berdoa setiap hari kepada Tuhan supaya di kehidupan yang akan datang dipertemukan dengan gadis itu dalam situasi yang berbeda"
Ucapan Elang terngiang diingatan Rea, bagaimana bisa kedua cowok itu benar-benar berfikir dia terlelap tidur.
Brukkkk
Tiba-tiba Rea yang berdiri mematung mendapat lemparan bola voli tepat mengenai ulu hatinya untung tidak terlalu keras. Cindy orang yang melempar bola berlari mendekat
"Kamu gapapa kan Re?" ucapnya kawatir melihat Rea memegangi bagian atas perut nya
Rea menggelengkan kepala, memang dia yang salah melamun ditengah lapangan saat jam olahraga.
"Gapapa kok Sin, cuma kaget aja" gadis itu kemudian memgambil bola Voli yang jatuh dibawah kakinya, mengajak temannya untuk melanjutkan bermain Voli lagi.
Elang hanya bisa memandangi kejadian itu karena posisinya berdiri sekarang agak jauh dari tempat Rea, dia sudah ingin berlari mendekat, tapi melihat Rea yang tersenyum meskipun sempat memegangi perutnya, cowok itu merasa lega.
Lima belas menit sebelum jam pelajaran selesai anak kelas XI-2 sudah membubarkan diri dari lapangan, mereka benar-benar tertib meskipun mereka tidak diawasi sang guru olahraga, yang hari ini ijin tidak masuk karena mungkin kelelahan setelah acara lamaran nya kemarin.
Anak-anak XI-2 menyerbu kantin yang serasa milik kelas mereka sendiri karena memang belum waktunya jam istirahat.
Elang menyodorkan sebotol susu vanilla yang dia ambil dari pendingin salah satu penjual di kantin kepada Rea, gadis itu tersenyum ke arah Elang yang kemudian berlalu meninggalkan Rea bersama ketiga orang temannya.
"Kalian udah jadian ya? " tanya Cindy
Rea hanya tersenyum
"Ih kok cuma senyum sih Re, jawab donk" rayu Vira
"Ya begitulah" ucap Rea santai
Sontak ketiga temannya terkejut
"Pajak jadian donk Re" Sevia menggoda
"Apa itu?" tanya Rea bingung
Cindy menertawai temannya "baru kali ini ya pacaran, masa ga ngerti sama yang namanya pajak jadian"
Rea sedikit mengerutkan dahinya
"Oh.. traktir?" Rea tertawa karena sudah mengerti apa yang teman-teman nya maksud
"Emang kemarin Vira sama Randy jadian kalian dikasih?" canda nya
"Iya lah, ga mungkin ga" ucap Vira sambil memimum es teh milik Sevia "maaf ya Re, pas kamu ga masuk"
Rea mengangguk paham
"Ya udah sabtu malam minggu ini aku kasih kalian pajak jadian" senyum Rea
Ketiga temannya pun ikut tersenyum, tanpa sadar beberapa pasang mata mengawasi mereka.
*****
__ADS_1
Keempat gadis itu kembali ke kelasnya untuk mengambil seragam dan berganti baju dikamar mandi sekolah.
Rea sudah hampir masuk kedalam bilik kamar mandi , tersadar masih membawa minuman ditangan nya.
"Eh demi apa gue bawa susu masuk WC"
Gadis itu meletakkan botol susu yang masih lumayan banyak di dekat wash taffel, kemudian masuk untuk berganti baju.
Seseorang masuk secepat kilat menuangkan sesuatu ke dalam botol minuman Rea, Sevia keluar dari kamar mandi melihat botol minuman Rea
"Re minta minumnya dikit ya" teriaknya
"Iya" sahut Rea dari dalam
Selesai ganti baju Rea keluar, melihat temannya yang juga sudah rapi mengenakan seragam putih abu-abu.
Rea mengambil lagi minuman susu miliknya itu.
"Eh tadi aku juga minta, maaf ga bilang" ucap Vira
Rea tersenyum ke Vira, kemudian menenggak sisa susu didalam botol, mengecap-ngecapkan lidahnya, ada rasa yang aneh menurutnya tapi tidak tau apa.
Gadis itu tidak curiga, berjalan keluar mengikuti temannya, membuang botol susu kosong ketempat sampah yang ada disana.
Saat berjalan menyusul Sevia, Cindy dan Vira, tiba-tiba dia merasa aneh, jantungnya terasa berdetak cepat, Rea mencoba menarik nafas agar irama jantungnya kembali normal.
Bel istirahat berbunyi seperti biasa, tapi terdengar lebih memekikan telinga Rea, gadis itu mulai merasa badannya melayang, sampai didepan pintu kelas tiba-tiba dia sesak nafas, baju olahraga yang dipegangnya jatuh, satu tangannya memegangi dadanya yang sesak satunya lagi memegangi pintu kelas.
"Sin, Vir, Rea kenapa?"
Belum sempat Cindy dan Vira berbalik, Sevia sudah berlari menahan tubuh Rea yang ambruk begitu saja, Sevia terduduk menahan kepala Rea, anak itu menangis melihat sahabatnya pingsan.
"Re kamu kenapa?, bangun Re" Sevia terisak, Vira dan Cindy mendekat
"Ya Ampun Re bangun kamu kenapa?" Vira menggoyang-goyangkan tubuh Rea
Mereka semua kawatir melihat wajah Rea yang pucat.
Melihat anak-anak berkerumun didepan pintu Elang berlari mendekat, melihat pacar nya pingsan dengan wajah pucat dia ikut kawatir.
Banyak siswa yang melihat karena bertepatan dengan jam istirahat, Arkan yang melihat kerumunan didepan pintu kelas Rea, ingin mendekat tapi ragu. Sampai seorang anak laki-laki setangah berlari menuju temannya yang berdiri tidak jauh dari Arkan
"Yang bawa kunci UKS siapa ya, Rea pingsan"
Arkan terlonjak kaget, kemudian secepat kilat berlari menyibak kerumunan anak-anak, melihat Elang yang sudah hampir menggendong tubuh Rea yang lemas tak sadarkan diri menuju UKS.
Sevia, Cindy dan Vira mengikuti Elang yang membopong tubuh Rea seorang diri ke UKS, Arkan juga mengikuti dari belakang.
"Kalian tau apa yang dia lakukan sebelum pingsan?" tanya Arkan
"Kita habis pelajaran olah raga, tadi perut Rea sempat terkena bola yang aku lempar, apa karena itu dia jadi gini? " Cindy menangis cemas
"Ga mungkin Sin, kalau karena itu udah dari tadi pasti pingsan nya, lagian lemparan bolamu aku lihat juga ga begitu keras" ucap Vira yang masih bisa tenang diantara kedua teman Rea yang lain
__ADS_1
"Kalian tau apa yang dia makan sebelum dia pingsan?" tanya Arkan lagi
"Dia tidak makan apa-apa, hanya minum susu yang diberikan Elang " Jawab Sevia
Elang membaringkan badan Rea ke kasur UKS, Cindy segera mengambil minyak kayu putih melepas sepatu yang dipakai Rea.
"Susu Apa?" tanya Arkan yang berdiri dibelakang Elang
Elang berbalik menatap Arkan yang tingginya hampir sama dengannya
"Susu vanilla seperti yang biasa dia minum" Jawab Elang
Sontak Sevia dan Vira kaget
"Bukan vanilla, rasanya strawberry ga sih Sev?" ucap Vira yang tadi juga meminum susu itu
"Iya memang rasanya ada sedikit strawberry nya, atau apa jangan-janagan susu itu sudah kadaluwarsa? " tanya Sevia
"Rea alergi strawberry"
Sontak mereka semua kaget.
"Bukan... " Arkan yang panik membenarkan ucapannya
"Bukan alergi, lebih parah dari itu, tubuhnya intoleransi sama strawberry"
"Aku sudah membaca kemasannya saat mengambil tertulis jelas vanilla" ucap Elang
Vira yang penasaran berlari ke kamar mandi, untuk memungut botol yang Rea buang, karena tempat sampah kamar mandi biasanya hanya berisi bekas tisu, jadi dia bisa dengan mudah menemukan nya disana.
"Bisa minta sekolah buat telpon ambulance ga?" Arkan berbicara kepada Sevia
Gadis itu mengangguk kemudian berlari keluar UKS, Vira yang datang membawa botol susu kosong yang dia temukan, memberikan nya kepada Arkan.
Cowok itu mencium nya kemudian memberikan kepada Elang.
"Apa mungkin ada yang sengaja ngelakuin ini ke Rea?" Elang mencium ada aroma strawberry dibibir botol.
"Yang pasti kita harus cepat bawa Rea ke rumah sakit" wajah Arkan berubah pucat melihat Rea yang sama sekali tidak bergerak meskipun Cindy sudah berusaha membangunkannya
Ambulance datang, kepala sekolah dan wali kelas XI-2 masuk ke UKS kaget melihat siswinya pingsan.
"Kamu bisa ga menghubungi orang tua Rea" ucap Bu Laily ke Elang
Cowok itu menatap ke arah Arkan.
"Saya bisa menghubungi orang tua Rea bu, tapi ijinkan saya ikut menemani Rea ke rumah sakit saya masih saudara dekatnya"
Bu Laily dan pak Alif mengangguk setuju
Rea sudah di masukan kedalam ambulance, Bu Laily dan Arkan ikut menemani, sementara pak Alif menyuruh anak-anak kembali ke kelasnya
Elang hanya bisa menatap ambulance yang membawa pacar nya pergi meninggalkan halaman sekolah, didalam hatinya disituasi seperti ini dia ingin berubah menjadi saudara Rea agar bisa ikut menemani gadis itu ke rumah sakit seperti Arkan.
__ADS_1