Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 36 Tentu Harus Suka


__ADS_3


Hari ini anak kelas X dan kelas XII diliburkan, karena kelas XI-4 akan berangkat study wisata ke XX sebuah Kota yang juga salah satu tempat wisata yang terkenal akan keindahan alamnya di negara ini. Rea sudah menyiapkan koper kecilnya semalam, berisi beberapa baju dan peralatan pribadinya, sengaja ke sekolah agak siang karena jadwal keberangkatan mereka masih pukul 10 Pagi. Berbeda dengan Ken yang sudah disekolah sejak pagi karena harus berangkat bersama ayahnya.


"Kenapa aku ga bisa satu bus dengan anak kelas XI-2 pa?" rengek Ken pada pak Alif


"Kamu itu ga masuk hitungan prioritas jadi sudahlah yang penting kamu ikut" sambil berlalu meninggalkan anaknya, beliau sibuk berkoordinasi dengan guru yang lain.


Bus dari agen tour sudah datang, terlihat 8 bus berjejer rapi didepan sekolah, anak kelas XI sudah mulai berdatangan. Arkan clingak-clinguk Mencari Rea. Kemudian dikagetkan dengan rangkulan seorang pria dari belakang.


"Bisa bisanya kamu duduk disebelah ku" kata pak Lucky


"Maaf ya pak jujur saya juga ga mau, ini karena anak satu kelas ga ada yang mau duduk disebelah bapak"


"Kenapa bapak ga duduk disebelah kepala sekolah saja? , nanti saya yang duduk disebelah anaknya" jawab Arkan enteng


"Pak Alif ga ngebolehin anak nya duduk disebelah cowok"


"Bayangkan kasihan sekali kan anak itu, pasti sampe sekarang masih jomblo"


Arkan tidak terlalu minat mendengarkan penjelasan gurunya itu, usia pak Lucky mungkin hanya terpaut 10 tahun dari murid-muridnya, makanya beliau lebih santai dan lebih mudah akrab dengan muridnya.


Pak Lucky melihat Elang yang sedang berjalan dari jarak beberapa meter dari tempatnya berdiri dengan Arkan sekarang.


"Lang sini" perintah pak Lucky

__ADS_1


Elang mendekat


"Bagaimana? kapan kamu mau mulai latihan basket lagi?"


Elang hanya menatap pak Lucky kemudian melihat Arkan yang ada di sampingnya, Elang tau benar siapa yang sedang berdiri di samping pak Lucky sekarang.


"Oh ya ini Arkan, murid baru, dia juga cukup jago main basket, bapak pikir kalau kalian berdua bisa bermain bersama pasti tim basket sekolah kita akan lebih hebat"


Elang dan Arkan hanya terdiam.


"Arkan ini Langit, panggilannya Elang, dia jagoan tim basket sekolah kita" lanjut pak Lucky


Seketika Arkan membelalakkan matanya


"Langit? Apa ini kakak yang di maksud Rea"


Elang menyambut uluran tangan Arkan, kemudian berlalu tanpa berkata ataupun menjawab perkataan pak Lucky tadi.


------


Rea sudah sampai, gadis itu menyeret kopernya menyebrang jalan, terihat Arkan mendekat membantu Rea membawakan kopernya


"Bus kelasmu ada disebelah sana" tunjuk Arkan


Rea melihat kedua sahabatnya sudah berdiri diantara teman-temannya yang lain.

__ADS_1


"Apa kamu tidak merindukan Lisa dan Ivy?" tanya Arkan sambil berjalan disebelah Rea, masih membawakan koper gadis itu.


"Tentu saja aku kangen banget sama mereka, setiap hari kami masih berbalas chat atau video call" jawab Rea


"Aku tadi bertemu Elang, aku tidak tau kalau seragam olah raga yang aku pinjam milik kakakmu"


"Tapi apa kamu sudah yakin dia kakakmu?"


Arkan berhenti, Rea pun ikut menghentikan langkahnya menatap ke arah Arkan


"Kalau kemarin aku bilang 90% sekarang aku sudah 95% yakin kalau dia kakakku"


Mereka kemudian berjalan lagi


"Kalau ternyata dia menyukaimu bagaimana?" tanya Arkan


"Tentu dia harus menyukai ku, aku kan adiknya meskipun beda ibu"


"Kalau ternyata dia bukan kakak kandungmu?" Arkan menghentikan langkahnya lagi, menunggu jawaban Rea yang masih berjalan santai.


"Aku akan menyukainya atau mengejarnya seperti cewek-cewek yang lain" jawab Rea sambil berbalik menatap Arkan


Rea kemudian tersenyum jahil, Arkan sedikit berlari menyeret koper Rea yang dia bawa.


"Awas ya kalau kau berani!"

__ADS_1


"Lho memang kenapa? Aku kan bukan milik siapa-siapa" jawab Rea enteng tanpa dia sadari sudah membuat Arkan gemas. Arkan mengacak-acak rambut Rea.


Mereka berdua tertawa.


__ADS_2