Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 68 Jika Adikmu


__ADS_3

Semua tamu dan keluarga sudah duduk, benar saja laki-laki yang akan melamar mba Anisa adalah pak Lucky, laki-laki itu terkejut melihat muridnya ada disana.


"Kamu tau mba Anisa pacaran sama pak Lucky Re?" tanya arkan sambil menyenggol lengan Rea


Gadis itu mengusap-usap lengannya tanpa menjawab pertanyaan Arkan


"Kamu marah karena Ken mengirim pesan ke aku? bukannya aku yang sebenarnya harus marah karena kamu jadian sama Elang"


Rea benar-benar tidak mau berbicara atau pun menjawab Arkan, dia lebih memilih memperhatikan prosesi lamaran yang sedang berlangsung didepan nya.


Setelah prosesi puncak saling mneyematkan cincin semua orang dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan.


Anisa dan pak Lucky mendekati Lidia dan Laras yang sedang asyik mengobrol dengan tamu yang datang. Sesekali para tamu terlihat meminta foto karena tau Lidia adalah seorang artis.


Mereka tersenyum ke arah pasangan yang sedang berbahagia, pak Lucky menyalami kedua wanita didepannya


"Saya ponakannya Bi Ulfa" ucap Lidia


"Saya adik nya pak Rahmat" Laras tak mau kalah


Pak Lucky hanya tersenyum karena Anisa sudah menceritakan siapa mereka.


*****


Setelah tamu pulang mereka sedih melihat masih banyak makanan yang tersisa, padahal beberapa sudah dibawakan ketamu yang datang.


"Masa dibuang sih, mubadzir banget" ucap Lidia


"Kamu sih dibilangin pesen 100 pax aja, ngeyel pesen 200 pax" Laras menyalahkan


"Gue kan belum punya pengalaman anak gue dilamar ras" ucapnya


Melihat kedua wanita itu saling beradu argumen, Anisa memberikan ide


"Bagaimana kalau kita kotakin terus dibagiin ke orang-orang dijalan"


"Eh boleh juga, tapi ini sudah hampir jam 9 malam, kalau cuma kita kayaknya ga akan kelar sampai pagi"


"Kalau aku panggil temenku kesini buat bantuin gimana tante?" ucap Rea


"Bagus tuh Re, kamu juga Ar minta temenmu kesini kalau bisa" perintah Laras


Akhirnya Rea menghubungi beberapa temannya.


Meraka mulai membagi makanan sambil menunggu kotak yang sedang dibeli Arkan dan pak Rahmat.


Teman-teman Rea sudah datang Sevia bersama Cindy, Vira dan Randy, dan siapa lagi yang datang kalau bukan Elang. Mereka membantu merapikan kursi setelah ditawari untuk makan terlebih dulu.


Elang tersenyum melihat Rea yang cantik menggunakan gaun sebatas lutut berwarna rose pink, rambutnya hanya dijepit sebelah menggunakan jepit rambut berwarna silver. Lidia terlihat sedikit cemas melihat pandangan Elang ke anaknya.


Arkan yang sudah kembali kerumah membawa kotak yang baru dia beli mau tidak mau melihat Elang yang sedang berdiri memandangi Rea.


"Tentu saja dia akan meminta pacarnya datang" bisik Arkan


Tiba-tiba seorang gadis turun dari taxi sedikit berlari mendekat ke arah orang-orang yang sedang sibuk menata makanan kedalam kotak.


"Ken" Rea terlonjak kaget

__ADS_1


"Hai Re, Arkan memintaku kesini" ucap Ken yang masih terengah karena sedikit berlari tadi, Rea hanya membalas dengan tersenyum simpul.


Setelah semua selasai di pack mereka berencana membagikan makanan itu dari jalan raya sampai menuju ke alun-alun kota, lumayan ada 50 kotak lebih yang bisa di bagikan.


"Tapi mobil cuma satu, apa kita harus telpon taxi?" tanya Lidia


"Aku bawa mobil tante, aku parkir didepan" ucap Elang


Lidia mengangguk


"Kalau kalian aja yang bagi'in gimana? Tante capek"


"Iya gapapa, mama sama tante Laras istirahat aja" ucap Rea


Elang kemudian keluar untuk membawa mobilnya masuk. Lidia sempat terkejut dengan mobil yang dibawa anak suaminya itu


"Lihat deh ras, belum ketemu sama Farhan aja anak itu udah bawa range rover, gimana kalau udah ketemu" bisik Lidia ke Laras


"Suami Maya juga tajir kali" balas Laras


Sevia dan cindy memilih naik motor agar bisa langsung pulang begitu juga Randy dan Vira, karena mobil yang dibawa Elang cukup besar semua kotak itu muat di bagasi.


Dan disinilah mereka sekarang berempat didalam satu mobil, Arkan dan Ken hanya saling diam duduk dikursi belakang, sementara Elang yang membawa mobil saling melempar senyum dengan gadis disebelahnya.


Rea menyalakan radio dimobil Elang, sebuah lagu yang familiar ditelinganya, membuat cowok disebelahnya mulai ikut bernyanyi


You're insecure


Don't know what for


Don't need make-up to cover up


Being the way that you are is enough


Everyone else in the room can see it


Everyone else but you


Baby, you light up my world like nobody else


The way that you flip your hair gets me overwhelmed


But when you smile at the ground it ain't hard to tell


You don't know, oh oh


"You don't know you're beautiful" Elang menggenggam tangan Rea sontak dua orang dikursi belakang memalingkan muka mereka, berpura-pura melihat ke arah jendela mobil


"Bahasa inggrismu bagus, apa kamu tidak ingin kuliah keluar negeri?" tanya Rea


"Dulu iya, tapi sepertinya sekarang aku ingin kuliah disini saja" Elang menatap Rea, senyum mengembang lagi di bibirnya


"Sial, apa dia tidak sadar ada kami dibelakang, apa dia benar-benar sebahagia itu jadian sama Rea" gumam Arkan yang kemudian pura-pura batuk


"Ehemmmm..... Uhukkkk uhukkkk"


"Apa AC nya terlalu dingin?" tanya Rea karena mendengar Arkan terbatuk, tangannya sudah memutar tombol untuk merubah suhu AC

__ADS_1


****


Sampai di jalan raya mereka mulai membagikan nasi kotak yang mereka bawa, Ken melirik jam di ponselnya sudah hampir jam 12 malam.


"Ayo cepat kita selesaikan setelah ini kita antar kamu pulang dulu" ucap Elang


Mereka pun bergegas agar bisa cepat mengantar Ken pulang ke rumahnya.


Benar saja pak Alif marah mendapati anak perawannya pulang jam 12 malam, tapi setelah ketiga orang yang mengantarkan anaknya memberi penjelasan, pak Alif sedikit bisa memaklumi.


Rea menggosok-gosok lengannya kedinginan karena keluar rumah masih memakai gaun yang dia pakai saat acara lamaran Anisa tadi.


Elang melepas jaketnya, sebenarnya Arkan juga ingin melakukan hal yang sama, tapi apa daya dia hanya memakai kemeja yang dia pakai di acara tadi.


"Terima kasih" Rea tersenyum sambil membenarkan letak jaket yang dipakaikan Elang dipundaknya


Elang membuka pintu mobil dari jauh, tanpa aba-aba Arkan berjalan kemudian secepat kilat duduk didepan.


Elang sudah hampir meneriaki saingannya itu, tapi Rea terlebih dahulu mencegah dengan memegang lengan tangannya.


"Biarkan saja,ini sudah malam Arkan bisa jadi temanmu ngobrol supaya kamu ga ngantuk saat menyetir, aku capek mau tidur aja dikursi belakang"


Elang hanya diam mengiyakan, dan Rea benar-benar duduk dibelakang menyandarkan kepalanya kemudian memejamkan mata.


Elang beberapa kali melirik Rea yang sedang tidur dari kaca spion depan, sesekali tersenyum melihat Rea yang sepertinya tertidur lelap.


"Apa kamu begitu menyukai Rea?" suara Arkan memecah kesunyian


"Tidak hanya suka, aku mencintainya dan dia tau itu"


Arkan sedikit kaget mendengar jawaban Elang, selama ini dia tidak pernah berkata mencintai Rea, hanya sayang dan suka.


"Apa itu yang membuat Rea lebih memilih Elang" pikir Arkan


"Boleh aku bertanya"


"Hem.."


"Bagaimana kalau Rea ternyata adikmu, adik kandungmu"


"Apa ada kemungkinan seperti itu, apa ini film drama?" tanya Elang sambil tersenyum


"Jawab saja, aku hanya ingin tau"


Elang terdiam sesaat


"Jika dia mau menunggu sampai aku minimal memiliki pekerjaan, aku akan membawa dia pergi jauh kesuatu tempat yang tidak ada satupun orang yang mengenali kami, kami bisa hidup bahagia berdua"


"Jika dia tidak mau?" tanya Arkan


Mobil berhenti karena lampu merah, Elang menatap ke arah Arkan kemudian menengok Rea yang terlelap dikursi belakang.


"Aku akan berdoa setiap hari kepada Tuhan supaya di kehidupan yang akan datang dipertemukan dengan gadis itu dalam situasi yang berbeda"


"Apa kamu begitu mencintai Rea?" tanya Arkan penasaran


Elang hanya tersenyum dan kembali fokus membawa mobilnya untuk mengantar mereka pulang.

__ADS_1


__ADS_2