
Arkan mengejar Rea yang sudah berlari keluar rumah, tapi karena tidak makan apa-apa seharian membuat gadis tidak bisa berlari terlalu jauh. Arkan meraih tangan Rea kemudian memeluknya.
"Ayah bilang aku bukan anak kandungnya Ar, lalu aku anak siapa kalau bukan anaknya?" Rea menangis terisak.
"Apa ini yang membuat dia tidak pernah menyayangiku?"
Tubuh Rea tiba-tiba lemas kemudian terjatuh dipelukan Arkan, tidak tau lagi apa yang terjadi.
Rea membuka matanya dia sudah ada dikamarnya dengan selang infus ditangan kanannya,melihat jam yang menempel didinding kamarnya, kemudian melihat Arkan tertidur dengan posisi duduk disampingnya.
Rea berusaha membangunkan Arkan karena pasti pegal tidur dengan posisi seperti itu, tapi baru saja tangannya ingin menyentuh Arkan, cowok itu terbangun.
"Re.. gimana? Apa ada yang sakit, dimana? " Arkan menggenggam tangan Rea kawatir, gadis itu hanya menggeleng.
"Om Andi dimana?" tanya Rea pelan
"Ada diluar, mau aku panggilkan?"
__ADS_1
Gadis itu mengangguk. Arkan kemudian bergegas keluar dan kembali bersama orang tuanya dan mama Rea.
Lidia langsung duduk mendekati anaknya yang juga sudah duduk bersandar di ranjangnya, memeluk Rea, tapi gadis itu melepaskan pelukan mamanya, membuat Hati mamanya terluka.
Tanpa memandang mamanya Rea berbicara pada om Andi "aku ingin kembali ke Kota XX bersama Arkan besok om"
Sontak semua orang terkejut mendengar permintaan Rea, karena melihat kondisinya yang masih syok dan lemah.
"Tunggulah sampai kondisimu pulih, tinggalah dirumah tiga hari lagi weekend kamu bisa kembali ke Kota XX" om Andi menasehati
Gadis itu hanya menggelengkan kepala.
"Rea..." mamanya sudah menangis sedari anaknya tidak mau dipeluk tadi.
Tante laras memegang pundak suaminya kemudian mengangguk, mengisyaratkan kepada suaminya agar menuruti kemauan gadis yang pasti sedang sangat terluka itu.
"Baiklah besok kamu bisa kembali kesana bersama Arkan, sekarang istirahatlah, om akan urus tiket pesawatnya"
__ADS_1
Om Andi keluar diikuti tante Laras. Lidia masih berusaha membuat anaknya agar mau bicara kepadanya.
"Aku sedang tidak ingin bicara dan mendengar penjelasan apapun dari mama sekarang, sebaiknya mama pergi"
Kata-kata Rea terdengar sangat menyakitkan ditelinga Lidia, bahkan meskipun marah Rea tidak pernah sedingin itu.
"Re, tidak baik bicara seperti itu ke mamamu" Arkan berusaha menasehati
"Kau juga pulang saja Ar, bersiaplah untuk pergi besok" ucap Rea
Akhirnya Lidia dan Arkan pergi meninggalkan Rea dikamarnya sendirian. gadis itu menatap kosong ke arah Jendela kamarnya , kemudian menangis lagi.
Flash back
"Aku rasa kamu sudah dewasa, dan untuk membuat semua menjadi lebih mudah kedepan nya kamu harus tau kenyataannya bahwa kamu bukan anak kandungku" ucap laki-laki yang Rea anggap adalah Ayahnya selama ini.
Seperti mimpi buruk kedua setelah kakeknya meninggal, perkataan laki-laki yang ada dihadapannya itu seperti menjawab apa yang manjadi pertanyaan nya selama ini, kenapa ayahnya tidak pernah menyayanginya.
__ADS_1
Flash back off
Farhan sedikit terganggu dengan penjelasan Lidia tadi, bahkan dia sempat merasa menyesal sudah mengatakan bahwa Rea bukan anak kandungnya, laki-laki itu mendekap kepalanya sendiri, sementara gadis yang tidak dia anggap anak itu sekarang masih menangis sendirian dikamarnya.