
Arkan menatap Rea yang sudah duduk didalam pesawat disampingnya, gadis itu hanya terdiam memandang keluar pesawat yang sudah hampir take off, tanpa berbicara satu patah katapun semenjak bertemu Arkan dan duduk diruang tunggu Bandara.
Arkan mengingat pesan papanya untuk sementara dia diijinkan tinggal dirumah Rea, agar bisa menemani gadis itu, agar gadis itu tidak merasa kesepian. Pesawat sudah menembus awan tapi mata Rea sama sekali masih tidak berpaling dari jendela, entah apa yang sedang dia pikirkan.
Flash back
Farhan mengulurkan sebuah amplop "kakekmu ingin aku menyampikan surat ini"
Rea menerima surat itu, menggenggam erat surat dari kakek yang sangat dia kasihi, dengan gontai masuk kekamar, kemudian dia duduk dilantai kamarnya bersandar pada ranjangnya, tangannya gemetar membuka amplop itu, pelan-pelan dia membukanya
Rea, cucu cantik kakek
apa kamu masih bersedih? maaf kakek meninggalkanmu seperti ini, tapi kakek harap kamu segera melupakan kesedihanmu, karena kakek sudah bahagia, sebentar lagi kakek akan bertemu dengan nenekmu.
kakek tau kamu gadis yang kuat, meskipun ayahmu tidak pernah menyayangimu selama ini, kamu tetap tumbuh menjadi anak yang baik, ramah dan ceria. Kakek tau kamu sangat senang bisa tinggal di kota XX maka kakek
hadiahkan rumah yang kamu tempati untukmu, rawatlah baik-baik.
untuk cucu kakek Langit, tolong sampaikan ucapan maaf kakek kepada dia dan ibunya, Maya. kakek sangat menyesal dan merasa bersalah selama ini, kakek sangat ingin bertemu dengan kakakmu, tapi saat surat ini kamu
baca pasti kakek sudah tidak ada didunia ini.
Maafkan kakek tidak bisa menemanimu sampai kamu menikah, kakek sangat menyayangimu.
kakek
__ADS_1
Tangan Rea lemas surat itu terjatuh dari tangannya, kemudian di tertunduk menangis.
Flash back off
"Re..." Arkan menepuk punggung tangan Rea, baru gadis itu terjaga dari lamunannya, menoleh ke arah Arkan, ternyata seorang pramugari sedang menawarkan minuman
"Guava juice please" ucap Rea, kemudian menerima jus yang dituangkan pramugari tadi,meminumnya sekaligus sampai habis.
"Apa kamu kehausan?" tanya Arkan sambil masih memegang gelas jus miliknya sendiri, tiba-tiba gadis yang dia tanya sudah menyambar gelas miliknya, menengguknya sampai habis. Rea hanya tersenyum ke arah Arkan "Enak"
Arkan tak habis pikir dengan tingkah Rea, dia mengira gadis itu masih terlalu sedih sampai dia tidak berani mengajaknya bicara, ternyata Rea masih bisa bercanda. Tapi begitulah Rea, gadis itu punya bakat menutupi apa yang sebenarnya dia rasakan.
"Mau aku mintakan lagi?" tanya Arkan
"Re, lakukanlah apa yang kamu inginkan, yang bisa membuat kamu bahagia"
"Semuanya?"
"Iya"
"Kalau begitu aku akan menjadikan Elang pacarku"
Seketika Arkan meluruskan punggungnya yang dari tadi santai bersandar dikursi, melotot ke arah Rea
"Kalau Elang kamu jadikan pacar, kamu harus jadi pacarku juga"
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Bukankah kamu bilang mau bersikap adil pada kami kemarin"
"Kapan aku bilang gitu?" Rea mulai pura-pura amnesia
"Ntar kalau kamu amnesia beneran baru tau rasa " Arkan sudah mulai kesal
"Kamu tau dia cowok yang menarik, bahkan Ken menyatakan cintanya dua kali, dan dua kali juga ditolak, sepertinya tipikal cowok yang susah untuk didapatkan, jadi beruntung dia bilang menyukaiku" oceh Rea tanpa dia sadari sudah membuat Arkan patah hati
"Seenaknya ngomong gitu, lalu buat kamu aku ini apa? apa aku tidak menarik?" Arkan menatap Rea lekat, sorot matanya penuh pertanyaan
Rea menatap mata Arkan memandangi kedua bola mata sahabatnya itu "aku tidak ingin kehilangan kamu"
"Apa maksudmu?"
"Entahlah, aku juga bingung"
"Kalau kamu seperti ini terus aku akan berhenti menyukaimu" mulai mengancam
"Jangan" Rea sedikit berteriak "aku kan sudah bilang itu yang paling aku takutkan, menatap cowok disampingnya "kehilangan kamu"
"Tidak ada cowok yang mau diduakan Re" Arkan memiringkan badannya memunggungi gadis yang menurutnya sedang dalam mode aneh itu
"Tau begini tidak usah bertanya dan mencoba mengajaknya ngobrol" gerutu Arkan menyesali perbuatannya sendiri.
__ADS_1