Mencari Langit Biru

Mencari Langit Biru
Chapter 72 Menantu Idaman Cek


__ADS_3

Arkan menarik tangan Elang menjauh dari pintu


"Udahlah ayo boncengan juga gapapa"


"Katanya tadi loe ga mau?" ucap Elang bingung


"Mau lah mau udah ayo" Arkan masih menarik tangan Elang


Akhirnya mereka berdua pergi mencari makanan yang Rea mau menggunakan motor Elang.


Mereka sampai disebuah warung sate dipinggir jalan, Elang memgambil kursi plastik yang ada disana kemudian duduk menghadap ke jalan, setelah memesan Arkan pun ikut mengambil kursi dan duduk disamping Elang.


"Ar, loe tau kan gue jadian sama Rea" Elang menatap ke arah Arkan "loe ga cemburu, loe baik-baik aja bro?" tanya Elang penasaran


Arkan tersenyum " loe mau gue jawab jujur apa bohong?"


Elang mengernyitkan dahi


"Gue ga cemburu, gue tau loe jadian sama Rea" ucap Arkan


Elang tertawa "gue tau mana yang jujur mana yang bohong"


Arkan hanya tersenyum simpul "buat gue asal Rea bahagia gue juga pasti bahagia"


"Meskipun hati gue sakit" Arkan tidak mengucapkan kalimatnya yang ini


"Segitu deket nya ya loe sama Rea" Elang bertanya lagi


"Iya, aku sama Rea sahabatan sejak kecil"


"Jadi kapan loe tau Rea punya alergi, Em... maksud gue intoleran makanan?" tanya Elang


"Sejak umur 5 tahun dan loe tau itu baru ketauan karena gue ngasih bagi strawberry yang gue makan ke dia" cerita Arkan


Elang kaget "gila, loe takut banget lah pasti"


"Iya, gue inget banget habis dia makan strawberry yang gue kasih dia tiba-tiba lemas ga bisa nafas" ucap Arkan


Elang sedikit terkejut mendengar cerita Arkan


"Tapi kayaknya gue harus hati-hati sama loe" Elang menepuk pundak Arkan


"Kenapa?" wajah Arkan berubah menjadi penuh tanya


"Cewek biasanya lebih suka sama cowok yang ngerti'in dia, yang bisa bikin dia ngerasa nyaman, dan gue rasa Rea nyaman banget sama loe karena kalian udah sahabatan dari kecil" Elang melepaskan tangannya dari pundak Arkan


Arkan hanya bisa diam mencerna kalimat yang baru saja keluar dari mulut Elang


"Apalagi dia pernah bilang, dia juga suka sama loe" lanjut Elang


"Kayak yang loe bilang suka sebagai sahabat, nyatanya dia lebih milih loe" wajah Arkan berubah kecewa


Elang menatap ke arah Arkan dengan pikiran yang tidak bisa terbaca. Mereka hanya diam sampai pesanan mereka jadi kemudian kembali ke rumah sakit.


Rea terlihat lebih segar, setelah mendapat apa yang dia mau, apalagi melihat Elang dan Arkan yang sudah mulai berbicara satu sama lain seperti biasa.


Laras dan Lidia saling pandang menatap ke arah Rea kemudian melihat ke arah dua anak laki-laki yang sedang asik mengobrol sambil makan sate yang mereka beli tadi.

__ADS_1


"Liat deh mereka akrab gitu, kenapa tadi musti kayak anjing sama kucing sih" bisik Lidia ke Laras


"Biar'in aja namanya juga bocah" jawab Laras pelan


Terdengar suara pintu kamar di ketuk, seorang perawat datang membawa obat, thermometer dan sebuah alat tensimeter.


"Cek suhu dulu ya mba" ucap perawat itu yang kemudian meminta Rea menyematkan thermometer di ketiak nya kemudian memeriksa tekanan darah.


"Darah nya masih rendah, suhu badannya normal, ada yang sakit ga mba? merasa mual atau pusing?" tanya perawat itu


"Masih sedikit pusing aja Sus" jawab Rea


"Ini dokter udah mulai meriksa ke ruangan pasien nanti kalau dokter kesini bilang aja yang mba rasain kayak apa" ucap perawat yang kemudian pergi meninggalkan ruangan setelah memberikan obat yang harus diminum Rea.


"Ar kalau udah selesai makan ayo kita pulang, besok kita kesini lagi" ucap Laras sambil membersihkan bungkus makanan yang ada dimeja


"Gue juga mau pulang dulu" ucap Elang


"Dulu? maksudnya Loe mau balik kesini nemenin Rea?" tanya Arkan


Elang hanya terdiam menatap ke arah Rea seperti meminta ijin.


"Ga usah kesini lagi kan ada mama yang nemenin aku" Rea menganggukkan kepalanya mengisyaratkan agar Elang mau menuruti apa yang dia katakan.


Lidia bangun dari tempat duduknya menepuk pundak Elang


"Pulang dulu besok bisa kesini lagi, kamu kan harus sekolah, cukup Rea aja yang jadi tukang bolos" ucapnya sambil tertawa mengejek anaknya, kemudian berlalu masuk ke kamar mandi


Setelah dokter datang memeriksa Rea dan meminta suster untuk tetap melakukan observasi sampai besok pagi, akhirnya Laras, Arkan dan Elang pulang, meninggalkan Lidia dan Rea sendirian.


Lidia kemudian mengambilkan HP anaknya didalam tas yang sedari tadi tergeletak di sofa.


"Istirahat jangan malah main HP" Lidia menasehati anaknya sambil menyerahkan benda yang diminta Rea


"Bentar doank ma" jawab gadis itu


Lidia menatap penuh tanya ke arah anaknya


"Re, kamu jadian ya sama Elang?" tanya Lidia penasaran


"Hem.."


"Kamu tau kan dia anak ayah kamu?"


"Hem..." gadis itu sibuk mengecek beberapa pesan di HP nya


"Terus kenapa kamu malah pacaran sama kakak kamu?"


"Hem..." Rea masih sibuk dengan HPnya "eh mama bilang apa?" tanya nya setelah tersadar


Lidia melirik kesal ke arah Rea yang ternyata tidak mendengarkan apa yang dia katakan.


"Ga mama ga bilang apa-apa" ucap Lidia sambil merebahkan diri di sebuah kasur khusus untuk penunggu pasien


"Mama mau tidur disini po sama Rea" gadis itu menepuk ranjang pasiennya


Sontak Lidia langsung bangun dan duduk disamping Rea, mereka sama-sama menyandarkan punggung ke sandaran bed pasien. Rea meletakkan HPnya, kemudian menyandarkan kepalanya dipundak mamanya.

__ADS_1


Lidia mengusap lembut rambut anaknya.


"Ma.."


"Apa?" jawab Lidia lembut


"Tau ga waktu aku sadar ada yang ga beres sama tubuh aku karena tiba-tiba jantungku rasanya ga karuan dan dadaku sesak, aku pikir bakal nyusul kakek"


"Hussss..." Lidia menggerakkan pundak yang disandari Rea


Rea tersenyum mendapat hardikan dari mamanya.


"Aku takut banget ma" ucap Rea


Lidia menatap anak gadisnya kemudian membelai pipinya "ga perlu takut ada mama, kedepannya kamu harus lebih hati-hati sama apa yang mau kamu makan atau minum"


Rea mengangguk


"Bu Laily bilang sekolah akan menindak tegas kalau emang ada siswa yang sengaja ngusilin kamu"


Rea hanya terdiam menyandarkan kepalanya dipundak mamanya lagi.


"Re, mama boleh nanya ga?"


"hem..."


"Kenapa sih kamu malah pacaran sama Elang bukannya sama Arkan? mama heran bukannya kamu lebih dekat sama Arkan, coba kita cek satu-satu kelebihan mereka masing-masing"


"Arkan bisa main basket , bisa main drum, Elang bisa ga?" tanya Lidia


"Bisa donk, Elang juga bintang basket disekolah, dia juga bisa main gitar" sahut Rea


"Em.. kalau tampang ga perlu di compare lah ya, Elang sama Arkan sama-sama good looking, ganteng, badannya juga sama-sama bagus" ucap Lidia


Rea hanya tersenyum


"Arkan ga bisa bawa mobil, Elang bisa" ucap Rea


"Arkan bisa naik kuda, Elang bisa ga?" tanya Lidia


"Enggak deh kayaknya" Rea tertawa


"Mama lagi mau ngecek apa'an sih kok banding-bandingin mereka berdua" Rea mengangkat kepalanya menatap curiga ke arah mamanya.


"Mama ga ngecek cuma mau masti'in mana yang lebih masuk kriteria jadi calon mantu Idaman" Lidia tertawa


Sontak pipi Rea merona malu "idih mama"


"Ih pipimu merah lho Re, kamu malu ya? Apa udah ngebet pengen nikah?" goda mamanya


Rea ingin sekali mencubit lengan mamanya tapi infus ditangan kanannya membuat dia tidak leluasa bergerak.


Lidia kemudian memeluk Rea membenamkan kepala anaknya di dadanya.


Ada kalimat yang ingin Lidia sampaikan ke Rea, tapi kenapa dia merasa selalu seperti tidak punya momen yang tepat untuk mengungkapkan.


"Mama akan biarkan kamu pacaran sama Elang tapi ga lebih dari itu" Lidia tenggelam dalam pikirannya, kemudian mencium rambut anak gadisnya.

__ADS_1


__ADS_2